Advertisement

Merupakan salah satu jenis lempeng cetak berupa duplikat bentuk cetakan leterpres yang dibuat dengan proses elektrolisis. Lempeng duplikat ini adalah jenis paling mahal, paling tahan lama, dan menghasilkan bentuk paling tepat sesuai dengan ben­tuk aslinya.

Lilin cair digunakan sebagai media cetakan bagi benda cetak yang akan ditiru. Benda itu ditekan ke dalam kotak cetakan yang berisi lilin cair. Pasta tim­bel, karet, atau plastik seperti tenaplate atau vinylite bisa digunakan sebagai pengganti lilin, jika cetak­an akan digunakan berulang kali. Perak atau grafit disemprotkan pada permukaan cetakan agar dapat menghantar arus listrik. Proses selanjutnya, cetakan dihubungkan dengan kutub negatif sumber listrik, se­dangkan kutub positif dengan batang tembaga. Ke­mudian cetakan dan batang tembaga itu dibenamkan ke dalam larutan tembaga sulfat—asam sulfat. Ion- ion tembaga yang bermuatan positif akan tertarik me­nuju cetakan dan menyalutnya. Agar lebih kuat, bila lapisan tembaga kira-kira sudah setebal kertas, yaitu sekitar 0,20 milimeter, lapisan itu dikupas dari cetakan dan dilekatkan pada suatu lapisan aloi timbel. Tetapi di antaranya harus diberi bahan pengikat, timah ti­pis, karena tembaga dan timbel tidak dapat saling menempel.

Advertisement

Nikel, kromium, atau baja bisa digunakan bersa­ma tembaga untuk menghasilkan elektrotipe yang sa­ngat tahan lama. Lempeng ini dapat dilengkungkan agar dapat dipasang dengan tepat pada mesin cetak putar. Karena lebih keras dibanding dengan cetakan logam jenis lain, elektrotipe dapat digunakan untuk jangka waktu lama. Elektrotipe pertama kali dibuat pada tahun 1837 oleh Moritz von Jacobi, seorang ahli teknik Jerman yang bekerja di Rusia. Setahun kemu­dian Thomas Spencer dan C.J. Jordan membuat je­nis yang serupa di Amerika Serikat. Mesin pertama yang menghasilkan elektrotipe sudah dijual oleh per­usahaan di Amerika Serikat pada tahun 1865.

Advertisement