PENGERTIAN EMIK DAN ETIK ADALAH

62 views

PENGERTIAN EMIK DAN ETIK ADALAH – Sebagian besar buku teks pengantar dalam antropologi menyebut disiplin ini bersifat oeholistik” dan “komparatir. Perspektif antropologi adalah holistik karena mencoba mengkaji pengalaman manusia secara keseluruhan (Ember dan Ember, 1996). Bahwasanya, berbeda dari ilmuwan politik, sosiologi, atau ekonomi, antropolog berupaya melihat keluar dari perilaku politik, sosial, atau ekonomi, dan mempelajari saling keterkaitan di antara semua faktor kehidupan manusia ini dan untuk mempelajari hubungan-hubungan di antaranya. Tentu saja, antropolog berupaya menggabungkan lebih banyak lagi faktor ke dalam analisis aholistik” mereka, termasuk biologi, ekologi, linguistik, sejarah, dan ideologi. Perspektif antropologi itu komparatif karena disiplin ini mencari informasi dan menguji eksplanasinya di kalangan semua kebudayaan prasejarah, sejarah, dan kontemporer yang terhadap kebudayaan-kebudayaan tersebut antropolog merniliki akses.

Pendekatan antropologi inungkin tidak selalu holistik dan komparatif dalam ptaktiknya, tetapi antropologi adalah satu-satunya disiplin dalam ilmu sosial yang membangun holisme dan pembandingan sebagai sasaran ideal yang hendak dicapai. Oleh karena itu, antropologi merupakan satu-satunya disiplin ilmu sosial yang secara sistematik memerhatikan perbedaan antara pengetahuan emik dan etik.

Pembedaan antara emik dan etik itu analog dengan pembedaan antara fonemik dan fonetik; adalah ahli linguistik, seperti Kenneth L. Pike (1967), yang membangun istilah emik dan etik dari analogi tersebut. Secara sangat sederhana, emik mengacu kepada pandangan warga masyarakat yang dikaji (native’s viewpoint); etik mengacu kepada pandangan si peneliti (scientist’s viewpoint). Konstruksi emik adalah deskripsi dan analisis yang dilakukan dalam konteks skema dan kategori

konseptual yang dianggap bermakna oleh partisipan dalam suatu kejadian atau situasi yang dideskripsikan dan dianalisis. Konstruksi etik adalah deskripsi dan analisis yang dibangun dalam konteks skema dan kategori konseptual yang dianggap bermakna oleh komunitas pengamat ilmiah.

Dalam pengantar teori antropologi yang ringkas namun berbobot, Robert Lawless (1979) membahas istilah emik dan etik dalam kerangka model model folk dan model analitis. Model folk, menurut Lawless, adalah representasi stereotipikal, normatif, dan tidak kritikal dari realitas yang dimiliki bersama oleh para anggota suatu kebudayaan. Model analitis, di pihak lain, adalah representasi profesional, eksplanatoris, dan komprehensif dari realitas yang diakui’ oleh komunitas ilmiah. Pembedaan yang dibangun oleh Lawless antara model-model folk dan analitis adalah identik dengan emik dan etik. Akan tetapi, tentu saja istilah folk dan analitis itu tak perlu digunakan secara intensif dalam buku ini karena istilah emik dan etik sudah mantap dalam kepustakaan antropologi.

Dapat dikatakan bahwa konsep emik dan etik itu menjadi objek diskusi semantik yang hampir sama hangatnya dengan diskusi tentang konsep kebudayaan. Para antropolog sibuk saling menyalahkan karena dianggap keliru menggunakan konsep “emik” dan “etik” itu. Dalam buku ini penulis menganjurkan agar kita menghindari terjerumus untuk menyalahkan salah satu pihak, melainkan berupaya merumuskan, dari suatu sintesa kepustakaan yang ada seperangkat definisi yang pas dan pro duktif.

Bagaimanapun, penulis menghadapi kesukaran untuk membahas kontroversi emikietik itu secara menyeluruh. Emik dan etik tidak ada kaitannya dengan isu-isu ontologi. Kejadian, situasi, hubungan, danfakta, tak pernah terkait dengan emik maupun etik. Dimungkinkan bagi kita untuk membicarakan deskripsi emik, atau analisis etik, atau bahkan eksplanasi emik atau etik; tetapi tidak untuk membicarakan fakta, benda-benda, entitas, atau kejadian yang tidak ada sangkut-pautnya dengan emik atau etik. Kejadian-kejadian dan entitas yang termasuk ke dalam dunia empiris semata-mata hanya kejadian dan entitas; status ontologis dari kejadian dan entitas tersebut tetap tidak berubah apakah kejadian dan entitas itu diacu sebagai “emik” atau “etik” karena emik dan etik pertama, terakhir, dan selalu merupakan konstruksi epistemologis.

Incoming search terms:

  • perspektif emik dan etik dalam antropologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *