PENGERTIAN EMPIRIS TEORI KETERGANTUNGAN

90 views

PENGERTIAN EMPIRIS TEORI KETERGANTUNGAN – Belakangan ini banyak sosiolog dan ilmuwan sosial lainnya telah mengadakan penelitian empiris untuk menguji klaim-klaim pokok teori ketergantungan. Kajian ini pada umumnya mempelajari sejumlah besar negara-negara di dunia dan memakai prosedur statistik yang maju dan canggih. Karya Volker Born-schier, Christopher Chase-Dunn, dan Richard Rubinson (1978) bermaksud mensintesakan hasil 16 kajian semacam itu (dalam Rubinson dan Holtzman, 1981). Lima dari kajian itu mempelajariakibat-akibat ketergantungan ekonomi terhadap ketidaksetaraan ekonomi. Kelimanya memperlihatkan bahwa ketergantungan berkaitan dengan ketidaksetaraan yang lebih besar. Secara lebih khusus, kelima kajian tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan investasi —investasi oleh perusahaan asing dalam perekonomian dalam negeri masyarakat terbelakang— meningkatkan ketidaksetaraan ekonomi. Secara hampir sama, dua kajian memperlihatkanbahwa ketergantunganbantuan —persediaan bantuan asing oleh satu negara untuk negara lain— juga terkait dengan ketidaksetaraan.

Perhatian Bornschier dan kawan-kawan yang lebih besar adalah kepada temuan dari berbagai kajian ini tentangpertumbuhan ekonomi (hampir semua kajian mempelajari pertumbuhan ekonomi dari sekitar 1960 hingga awal 1970an). Hasil penting dari kajian-kajian ini menunjukkan bahwa dari beberapa penemuan ketergantungan investasi dan bantuan, memacu pertumbuhan ekonomi; sementara dari beberapa penemuan lain ketergantungan seperti itu justru. menghambat pertumbuhan ekonomi. Bornschier dan kawan-kawan melanjutkan penelitian kajian -kajian ini untuk menetapkan apakah yang telah ‘\membuat penemuan-penemuan tersebut bertentangan. Mereka telah meneMukan bahwa temuan masing-masing kajian berkaitan erat dengan perumusan konsep dan pengukuran ketergantungan. Kajian yang memperlihatkan bahwa investasi asing memacu pertumbuhan ekonomi membuat konsep dan ukuran mengenai investasi kurang lebih dalam arti arus investasi modal yang terjadi. Sebaliknya, kajian yang menunjukkan bahwa investasi asing menghambat pertumbuhan membuat konsep dan ukuran tentang investasi dalam arti stok jangka panjang investasi asing. Bornschier dkk yakin bahwa temuan ini lebih memiliki signifikan5i substantif. Berdasarkan hal tersebut, mereka menyimpulkan bahwa “efek tercepat dari arus modal dan bantuan asing ialah menaikkan tingkat pertumbuhan ekonomi, sedangkan efek-efek yang bertumpuk dalam jangka panjang adalah mengurangi tingkat pertumbuhan ekonomi” (1978:667). Dalam karya yang lebih baru, Bornschier dan Chase-Dunn (1985) telah memperluas lingkup penelitian ini dengan memasukkan lebih banyak hasil kajian (sekarang 36, dulu 16), dan mendapatkan kesimpulan yang pada dasarnya sama. Selanjutnya, dengan menggunakan sampel 103 negara, mereka mengadakan penelitian baru yang asli tentang akibat-akibat perkembangan arus modal dalam jangka pendek versus stok modal jangka panjang. Mereka menganggap penelitian asli ini sebagai eliminasi beberapa kekurangan dari kajian-kajian sebelumnya. Sekali lagi — kesimpulan yang pada dasarnya sama — yang terpenting adalah bahwa penetrasi modal asing dalam jangka panjang menjauhkan kesempatan-kesempatan negara dari perkembangan ekonomi.

1. Perbedaan yang tajam dalam tingkat kemajuan ekonomi dan sosial telah lama menjadi perhatian penting para ilmuwan sosial. Negara-negara terbelakang adalah negara-negara yang mempunyai tingkat kemajuan teknologi dan ekonomi yang rendah dalam ekonomi-dunia kapitalis. Negara-negara ini jangan dicampuradukkan dengan masyarakat-masyarakat yang tertinggal, yang masih berada dalam tahap pra-industri dan pra-kapitalis. Negara-negara maju adalah negara-negara industri maju yang merrTunyai tingkat perkembangan teknologi dan tingkat kemakmuran ekonorni yang tinggi dalam ekonomi-dunia.

2. Keterbelakangan mungkin paling pantas disebut dalam arti rendahnya kat GNP, tapi masih banyak indikator keterbelakangan lainnya. Indikator ini meliputi ketidaksetaraan ekonomi, angka pertumbuhan penduduk yang tinggi, standar gizi dan kesehatan yang rendah, dan besarnya persentase penduduk yang masih bekerja di pertanian.

3. Pendekatan modernisasi terhadap keterbelakangan merupakan pendekatan lama yang masih dipakai oleh sebagian besar ilmuwan sosial, paling tidak mereka yang berasal dari negara maju. Pendekatan ini merumuskan bahwa keterbelakangan terjadi karena suatu masyarakat mempunyai keterbatasan internal yang menghambatnya untuk melampaui tradisionalisn)e ekonomi dan sosial. Keterbatasan ini meliputi tidak cukupnya formasi modal, cara-cara praktek bisnis yang kuno, dan sistem nilai yang berorientasi ke masa lampau.

4. Teori Rostow bisa jadi merupakan contoh teori modernisasi yang paling terkemuka. Rostow berpendapat bahwa semua masyarakat melewati serangkaian tahap perkembangan tertentu untuk menjadi maju: tradisional, prakondisi tinggal landas, tinggal landas ekonomi, pertumbuhan berkesinambungan dan pematangan. Negara-negara terbelakang masih berada pada tahap tradisionalisme. Nasionalisme reaktif adalah rangsangan terbesar bagi suatu masyarakat untuk mendobrak tahap ini dan mengadakan pertumbuhan ekonomi.

5. Secara umum, pengikut teori modernisasi percaya bahwa para cendekiawan, tokoh-tokoh bisnis dan pemerintahan di dunia maju dapat membantu memajukan dunia ketiga dengan membantu mereka mengatasi kekurangan-kekurangan mendasar mereka.

6. Pada alchir tahun 1960 an dan awal 1970an teori ketergantungan mulai muncul sebagai suatu alternatif terhadap teori modernisasi. Teori ini merupakan versi teori Marx mengenai kapitalisme yang diterapkan pada tingkat dunia. Teori ini berbunyi bahwa keterbelakangan merupakan akibat dari ketergantungan ekonomi terhadap ekonomi asing yang telah menghancurkan banyak negara. Frank berpendapat bahwa negara-negara kapitalis maju telah mendominasi dan mengeksploitasi negara-negara miskin supaya kemakmuran mereka makin memuncak. Amin berpendapat bahwa dominasi terhadap suatu negara oleh negara lain menghasilkan disartikulasi ekonomi yang menghambat kemajuan ekonomi.

7. Dapat dibedakan adanya dua versi teori ketergantungan. Versi yang keras dikaitkan dengan Frank dan Amin, yang melihat ketergantungan ekonomi selalu mengantarkan pada perkembangan ketergantungan. Dalam versi ini kemajuan tak dapat terjadi bila ketergantungan diteruskan, dan karena itu harapan yang sesungguhnya bagi negara terbelakang hanyalah keluar dari sistem kapitalis dengan revolusi sosialis. Versi yang lemah dari teori ketergantungan berpendapat bahwa ketergantungan ekonomi merupakan akar yang disebabkan oleh pola-pola masa lampau dari keterbelakangan tersebut, tapi kemajuan tetap dimungkinkan di bawah ketergantungan. Versi teori ketergantungan ini lebih luwes daripada yang keras, tapi antara kedua versi ini lebih banyak persamaannya daripada perbedaannya dan keduanya lebih luwes daripada teori modernisasi. Hal ini sangat sesuai dengan hasil penelitian empiris yang paling mutakhir, dan juga berbagai analisis historis.

8. Teori sistem dunia Wallerstein lebih condong ke versi yang lemah (teori ketergantungan). Wallerstein mengatakan bahwa negara-negara terbelakang sekarang adalah akibat dari dominasi kelompok          pusat yang berabad-abad. Hampir semua negara ini selalu kalah jauh dari pusat, tidak hanya secara relatif tapi mutlak. Tapi ada sedikit negara yangbisa memperbaiki posisi mereka dalam ekonomi-dunia dengan memanfaatkan kesempatan yang tepat pada saat terjadi perluasan perkembangan kapitalis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *