Advertisement

Dari kata Yunani epiphaneia yang berasal dari epi (pada, di sebelah luar) dan phainein (tampak, kelihatan, jelas), adalah teori hu­bungan antara tubuh (khususnya otak) dan kesadaran atau pikiran. Teori ini dikembangkan pada akhir abad ke-19 oleh penganut aliran materialisme ilmu-ilmu alam, yaitu Clifford, Th. Huxley, dan Hudgson, se-* bagai alternatif teori antaraksi dan paralelisme.

Teori epifenomenalisme dapat dibandingkan de­ngan vitaltsme. Para pendukung teori ini menyatakan bahwa: (a) kesadaran itu suatu epifenomena (suatu hasil atau fenomena yang menyertai) yang disebab­kan oleh proses tertentu dari tubuh, khususnya yang berhubungan dengan otak besar; (b) kesadaran tidak “mempengaruhi” tubuh manusia, tetapi sebagai se­suatu yang netral yang tak berdaya; (c) suatu keadaan kesadaran tidak “mempengaruhi” keadaan kesadaran lain. Beberapa analogi berikut ini biasa digunakan un­tuk menjelaskan kesadaran sebagai suatu epifenome­na. Tubuh menyebabkan bayangan tubuh kita, tetapi bayangan ini tidak mempengaruhi, secara kausal, tu­buh kita atau bayangan lain. Demikian juga otak ma­nusia. Otak mempengaruhi kesadaran manusia tetapi kesadaran tidak dapat mempengaruhi otak. Analogi lain, misalnya sebuah lokomotif. Lokomotif meng­akibatkan atau menghasilkan uap atau asap, tetapi uap secara kausal tidak mempengaruhi lokomotif; de­mikian juga tubuh mempengaruhi kesadaran. Dengan kata lain kesadaran itu disebabkan oleh perubahan tubuh, terutama proses otak besar. Kejadian mental manusia merupakan akibat tubuh atau otak. Pikiran manusia tergantung pada tubuh sepenuhnya dan tan­pa mempengaruhi diri sendiri atau bahkan tidak meng­akibatkan kejadian mental berikutnya. Tubuh mem­pengaruhi pikiran. Pikiran, dilihat dari sudut ilmu fisis, adalah sesuatu yang tak dapat dijelaskan dan misterius.

Advertisement

Advertisement