Advertisement

Suatu cabang filsafat yang me­nyelidiki asal, struktur, metode, dan keabsahan pe­ngetahuan. Istilah epistemologi dari kata Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (teori). Epistemologi di­gunakan pertama kali oleh J.F. Ferier dalam Institutes of Metaphysics tahun 1854, pada saat ia membeda­kan dua cabang filsafat, yaitu ontologi dan epistemo­logi.

Usaha filsafat untuk menyelidiki hakikat, ragam, asal-usul, objek, dan batas pengetahuan manusia su­dah tampak dalam filsafat Yunani, misalnya Plato (427-347 SM) yang membedakan pengetahuan dari ke­yakinan semata-mata. Secara tradisional, pengetahuan dirumuskan sebagai keyakinan yang terbukti benar. Penekanan dalam epistemologi berbeda dari sejarah lain, tetapi ada beberapa masalah yang masih berta­han hingga sekarang.

Advertisement

Pertama, masalah kemungkinan manusia menda­pat pengetahuan sejati. Tampaklah anggapan dogma­tisme alamiah tentang pikiran manusia dihadapkan pa­da tantangan skeptisisme inderawi yang didasarkan pada keyakinan kenisbian indera dan skeptisisme ra­sional. Alternatif yang baik bagi dogmatisme dan skeptisisme adalah skeptisisme metodologis atau ten­tatif, antara lain metode keraguan Descartes, empi­risme Locke, dan epistemologi kritis Kant. Dalam epistemologi modern, umumnya skeptisisme dikaitkan dengan solipsisme, karena skeptisisme menyangkut pengetahuan dunia luar yang mengarah pada solip­sisme. Solipsisme menyelidiki diri individu dan meng­anggap diri individu sebagai satu-satunya titik tolak yang mungkin dan sah bagi suatu konstruksi filsafat.

Masalah kedua menyangkut batas pengetahuan yang diajukan oleh seorang filsuf pengetahuan yang menolak posisi skeptisisme agnostik maupun skeptisisme ekstrem. Ditekankan juga, dalam batas terten­tu, kemungkinan diperoleh .pengetahuan sejati. Di luar

batas itu, pengetahuan sejati tidak mungkin dicapai. Ada berbagai cara membatasi dan memisahkan “yang mungkin diketahui” dan “yang tidak mungkin dike­tahui.” Contohnya, distingsi Kant antara dunia feno­menal dan noumenal. Upaya untuk membedakan ke­dua dunia itu terjadi pula pada pemikiran para positivis dan empiris radikal. Mereka berpendapat bah­wa yang mungkin diketahui hanyalah yang bermakna dan yang bisa diperiksa, sedang yang tidak mungkin diketahui sama dengan yang tidak bermakna dan ti­dak bisa diperiksa.

Ketiga, tentang asal-usul pengetahuan. Masalahnya, seperti “dengan apakah pengetahuan yang benar da­pat diperoleh?” Masalah ini menimbulkan perpecah­an prinsip dalam epistemologi modern, yaitu antara rasionalisme dan empirisme, walaupun kedua kecen­derungan itu ada dalam diri pemikir mana pun. Para rasional seperti Descartes, Spinoza, dan Leibniz, me­nyandarkan diri pada rasio sebagai sumber pengeta­huan, sedang para empiris, Locke, Berkeley, dan Hu­me, beranggapan bahwa sumber pengetahuan sejati adalah pengalaman. Empirisme mempunyai cakupan lebih luas, seperti Locke yang mengakui otentisitas pengetahuan yang didapat baik dari indera dalam maupun dari indera luar. Ada berbagai upaya men­coba mendamaikan pendirian rasionalisme dan empi­risme, di antaranya filsafat kritis Kant dengan mene­tapkan peranan khas masing-masing bagi rasio dan pengalaman dalam rangka pembentukan pengeta­huan.

Masalah keempat menyangkut metodologi. Perma­salahannya mengikuti pertentangan rasionalisme dan empirisme. Para rasionalis menekankan jalan deduksi dan pembuktian pengetahuan, sedang para empiris menekankan jalan induksi dan pengamatan. Telah di­lakukan berbagai usaha untuk menunjukkan bahwa pengetahuan manusia tidak dapat direduksi baik pa­da deduksi dan pembuktian saja maupun pada induksi dan pengamatan. Misalnya metode transendental Kant dan metode dialektika Hegel, walaupun keabsahan dan sifat non-reduksi kedua metode itu amat mera­gukan. Usaha semacam ini juga dijumpai dalam prag­matisme, operasionalisme, dan fenomenologi filsafat kontemporer.

Masalah kelima menyangkut entitas a priori. Per­soalan ini melanda para rasionalis, juga menghadang para empiris. Bagi para rasionalis, masalahnya ada­lah mengisolasikan unsur a priori atau non-empiris pengetahuan dan menerangkannya dalam kaitan de­ngan rasio manusia. Para empiris berkepentingan ka­rena berusaha menyingkirkan unsur a priori dari pe­ngetahuan. Ada beberapa anggapan mengenai entitas a priori, antara lain bahwa ada ciri-ciri instrinsik yang membuat prinsip dasar logika, matematika, ilmu dan filsafat jelas dengan sendirinya.

Masalah keenam menyangkut hubungan antara objek pengetahuan dan subjek pengetahuan. Pembe­daan ini menimbulkan masalah antara objektivisme dan subjektivisme pengetahuan manusia. Subjektivisme berpendapat bahwa pengetahuan ada dalam diri subjek yang mengetahui, sedang objektivisme meng- anggap pengetahuan berasal dan objek. Teori persepsi representatif digunakan sebagai sarana perdamaian antara subjektivisme dan objektivisme, yang membe­dakan kualitas primer (objektif) dari kualitas sekun­der (subjektif).

Dalam epistemologi kontemporer, subjektivisme dan objektivisme mendapat sorotan lebih tajam. Me­nurut pandangan ini, situasi perseptual terdiri atas subjek (diri atau tindak murni mempersepsi), isi (da­ta inderawi), dan objek (hal fisik yang dipersepsi). Timbul dua pertanyaan: apakah objek dan isi sama (monisme epistemologis) atau berbeda banyaknya (dualisme epistemologis)? Dan, apakah objek berdiri sendiri dalam subjek yang mengetahui (idealisme epistemologis) atau tergantung pada subjek (realisme epistemologis)?

Masalah ketujuh tentang kebenaran yang merupakan puncak penyelidikan epistemologis dan memba­wa epistemologi pada ambang batas dengan metafi­sika. Sampai abad ke-19, ada dua pandangan kebe­naran, yaitu teori kebenaran sebagai persesuaian dan teori kebenaran sebagai keteguhan. Teori persesuaian mementingkan kesesuaian antara pengetahuan dalam diri si pengenal dan kenyataan yang hendak dikenal. Yang lebih dipentingkan pengetahuan inderawi, bu­kan akal budi. Anggapan ini dijumpai pada Heraklitos, Aristoteles, dan Thomas Aquinas. Anggapan ke­teguhan mementingkan pengenal daripada yang hen­dak dikenal, seperti dijumpai pada Pythagoras, Parmenides, Spinoza, dan Hegel.

Selain kedua anggapan klasik itu, dalam masa kon­temporer ada dua anggapan lain, yaitu teori pragma­tis kebenaran dan teori performatif kebenaran. Ke­duanya ada dalam pemikiran Anglo-Sakson. Anggap­an terwujudnya kebenaran dalam praktik berasal dari Amerika, misalnya Charles S. Peirce, William James, dan John Dewey, yang berpendapat bahwa hasil ilmu pengetahuan tertentu dianggap benar jika telah mem­buktikan berdaya upayanya hasil itu. Anggapan ter­laksananya kebenaran dalam ungkapan manusia ber­asal dari Inggris.

Di samping tema penyelidikan di atas, ada bebera­pa penyelidikan lain yang mendapat perhatian seka­rang ini, yaitu penyelidikan asal usul pengetahuan ma­nusia (epistemologi genetis) melakukan studi psiko­logis mendalam di antara anak-anak.

Incoming search terms:

  • epistemologi tradisional
  • pengertian epistemologi
  • arti epistemologi

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • epistemologi tradisional
  • pengertian epistemologi
  • arti epistemologi