Adalah cabang olahraga ketangkasan berkuda yang menitikberatkan keserasian gerak antara kuda dan penunggang atau atletnya. Dalam cabang olahraga ini, dikenal Kejuaraan Nasional Ketangkas­an Berkuda Concour Dressage Nationale (CDN) dan Concour Dressage Internationale (CDI) untuk ting­kat internasional. Nomor-nomor yang dilombakan adalah lompat rintangan (Concour Saut) dan kejuara­an lengkap (Concour Complete). Di Indonesia, ke­juaraan lengkap (CC) ini disebut kejuaraan Tri-Lomba (Three Days Event), terdiri atas nomor lompat rin­tangan, tunggang serasi, dan lintas alam. Dalam ke­juaraan Tri-Lomba ini, setiap atlet nomor perorang­an dan beregu wajib mengikuti semua nomor yang di­lombakan, tanpa mengganti kuda yang ia tunggangi selama tiga hari berturutan.

Dibandingkan dengan lompat rintangan dan tung­gang serasi, lintas alam merupakan nomor terberat ba­gi kuda dan atletnya. Dalam PON XI (1985), jarak : tempuh yang disediakan untuk nomor lintas alam ber­kisar dari 8.000—11.000 meter. Jarak, yang direntang pada jalur tahap A dan C, ini harus ditempuh dengan kecepatan rata-rata 220 meter per menit. Pada tahap B, peserta lintas alam harus melewati pacu rintangan {Steeple Chase) dengan jarak tempuh 1.800—2.400 meter, dalam kecepatan 600 meter per menit. Pada tahap D, jarak tempuh nomor lintas alamnya, 4.500— 5.500 meter, harus diselesaikan dengan kecepatan rata- rata 500 meter per menit. Menurut ketentuan, tinggi rintangan yang dilalui tak boleh lebih dari 1,20 meter dengan bentangan minimal 1,30 meter dan maksimal 1,50 meter.

 

Lompat Rintangan.

Sesuai dengan peraturan FEI (Federation d’Equestre Internationale), induk orga­nisasi dunia equestrian, yang disesuaikan dengan per­syaratan kompetisi Tri-Lomba Internasional, panjang haluan nomor Tri-Lomba ditentukan 600—800 me­ter. Jarak ini harus diselesaikan dengan kecepatan, rata-rata 400 meter per menit. Jumlah pagar rintang­an ditetapkan 10—12 buah, termasuk satu rintangan; ganda dan rangkap tiga. Tinggi maksimum setiap tangan 1,20 meter dengan jarak bentangan 1,3′ meter.

 

Tunggang Serasi.

Dalam lomba tunggang serasi (dressage) nomor perorangan dan beregu, setiap atlet harus melakukan 24 gerakan yang diaba-abakan tiga hakim nasional. Perintah memulai lomba diberikan berdasarkan undian menurut peraturan lomba ketang­kasan berkuda PON dan FEI. Setiap peserta lomba berhak mengikuti lomba dengan 3 atlet dan 3 kuda, baik perorangan maupun beregu. Jika terjadi 12 pe­serta menduduki tempat terbaik dalam nomor bere­gu (termasuk peserta yang memperoleh nilai sama un­tuk urutan ke-12), mereka berhak tampil lagi dalam nomor perorangan.

Pemberian nilai dalam nomor ini didasarkan pada ujian Prix St. George. Nilai tertinggi yang bisa diraih adalah 270. Nilai mulai diberikan sejak atlet melaku­kan gerakan memasuki lapangan sampai selesai me­lakukan 23 gerakan. Gerakan benar yang dilakukan atlet penunggang akan memperoleh nilai 230. Jum­lah ini kemudian ditambah lagi dengan nilai kolektif, yaitu penilaian terhadap langkah kaki kuda yang be­bas dan beraturan. Besar setiap nilai kolektif 10. Dengan nilai tambah itu, akhirnya atlet dapat mem- peroic nilai tertinggi 270.

Lomba Ketangkasan Berkuda pertama kali di­peragakan di Indonesia tahun 1966 pada penyeleng­garaan pacuan kuda memperebutkan piala bergilir “Soeharto”. Kemudian olahraga ditampilkan kembali tahun 1969 dalam PON VII di Surabaya sebagai no­mor demonstrasi. Baru dalam PON X di Jakarta ta­hun 1981, olahraga ketangkasan berkuda dijadikan nomor yang dipertandingkan. Dari ketiga nomor olah­raga ini, yang sudah dilombakan secara nasional ba­ru nomor Tri-Lomba.

Diangkatnya nomor Tri-Lomba ke tingkat nasio­nal dimulai pada perebutan piala bergilir “Adam Ma­lik” untuk perorangan, tahun 1979. Sampai tahun 1984, kejurnas Tri-Lomba Piala Adam Malik baru diadakan lima kali. Kejurnas itu hanya diikuti atlet perorangan dari DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

 

Sejarah.

Ketika olahraga equestrian ditampilkan dalam Olimpiade tahun 1912, cabang olahraga ini be­lum memiliki induk organisasi dunia. Tahun 1921, atas prakarsa utusan Amerika Serikat, Belgia, Denmark, Jepang, Norwegia, Perancis, dan Swedia, dibentuk Federation d’Equestre Internationale (FEI) dengan ke­tua Baron du Teil dari Perancis. Sejak saat itu, se­mua kegiatan lomba equestrian berada di bawah naungan FEI. Akhir tahun 1983, jumlah anggota FEI mencapai 79 negara. Indonesia diterima cabang olahraga ini hanya dimain­kan di kalangan militer, khususnya anggota KL/ KNIL, di masa penjajahan Belanda. Kegiatannya wak­tu itu masih terbatas di dalam kompleks markas be­sar kavaleri di daerah Cimahi, Jawa Barat. Nomor yang populer waktu itu adalah lompat rintangan.

Setelah Indonesia merdeka, olahraga ketangkasan berkuda pertama kali ditampilkan pada bulan Agustus 1968. Yang berlomba pada saat itu baru klub “Disc” (Jakarta International Saddle Club) dari Jakarta dan “Sekardiu” dari Bandung. Kini, klub ketangkasan berkuda tidak hanya tumbuh di Jakarta dan Bandung saja, tetapi juga di daerah lainnya. Adhi Biono EQUITY adalah hak yang dimiliki oleh pemilik maupun kreditor atas seluruh harta perusahaan. Isti­lah ini lebih sering dihubungkan dengan hak pemilik dan disebut owners’ equity untuk perusahaan perse­orangan atau firma, dan shareholders’ equity untuk perusahaan perseroan terbatas. Dalam bahasa Indo­nesia belum ada istilah yang baku sehingga untuk ini sering dipakai istilah Dana Pemilik atau Dana Sendiri atau Modal Sendiri atau Modal Saham.

Besarnya owners’ atau shareholders’ equity sama dengan harta dikurangi utang perusahaan. Sehingga jika nilai harta perusahaan Rp. 100 juta, sedangkan hutangnya Rp.40 juta, maka jumlah owners’ atau shareholders’ equity Rp.60 juta. Jumlah ini sama de­ngan modal yang disetor ditambah dengan laba yang ditahan di dalam perusahaan.

Incoming search terms:

  • equestrian adalah
  • apa itu equestrian
  • arti equestrian
  • cabang olahraga berkuda

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • equestrian adalah
  • apa itu equestrian
  • arti equestrian
  • cabang olahraga berkuda