Advertisement

Dari bahasa Yunani telos yang berarti tujuan, akhir, adalah etika yang menda­sarkan tindakan pada tujuan atau akibatnya. Teori ini berlawanan dengan teori etika deontologis.

Suatu tindakan dikatakan betul, wajib, jika meng­hasilkan akibat baik dan salah jika berakibat buruk. Dalam teori ini, segalanya tergantung dari penilaian seseorang tentang apa yang dianggap baik dan buruk, tetapi apa yang dianggap baik dan buruk bagi setiap orang berbeda. Maka jelaslah bahwa teori ini mem­butuhkan teori lain, yakni teori nilai (axiologi).

Advertisement

Dalam sejarah filsafat, terdapat dua pendapat me­ngenai apa yang baik pada diri sendiri, yaitu rasa nik­mat dan apa yang membuat bahagia. Pendapat per­tama lazim disebut hedonisme (dari bahasa Yunani hedone yang berarti nikmat) dan pendapat kedua di­namakan eudemonisme (dari bahasa Yunani eudaimo- nia yang berarti kebahagiaan tertinggi). Masih ada per­bedaan penting dalam teori teleologis, yaitu menge­nai cakupan apa yang baik bagi diri sendiri atau yang baik bagi banyak orang. Pendapat pertama disebut egoisme etis dan kedua dinamakan universalisme etis yang lazim disebut utilitarisme etis. Tentu saja kedua pendapat itu dapat bersifat baik hedonis dan eudemonis. Maka perbedaan yang telah dibuat berbagai teori teleologis dapat digambarkan dalam skema berikut.

Dan kesempurnaan manusia adalah aktualisasi kemungkinan tertinggi yang hanya terdapat pada manusia saja, yaitu rasio. Dapat juga dikatakan bahwa kebahagiaan seseorang itu terletak dalam mencari kesempurnaan, yaitu mengembangkan dan membulatkan semua bakat yang dimiliki. Kare­na itu kaidah etika Aristoteles dapat dirumuskan dengan singkat: “bertindaklah sedemikian rupa se­hingga engkau mencapai kebahagiaan.”

Pendapat egoisme moral dapat dirumuskan seba­gai berikut: bertindaklah sedemikian rupa sehingga engkau mencapai hasil yang paling baik bagimu. Dan hedonisme egois berkaidah: bertindaklah sedemikian rupa sehingga engkau mencapai jumlah nikmat pa­ling besar atau hindarilah segala macam rasa sakit sedapat-dapatnya.

Berlainan dengan teori etika teleologis egoisme yang hanya mementingkan diri sendiri, teori utilitarisme mempertimbangkan tindakan sejauh menghasilkan akibat baik bagi banyak orang. Utilitarisme berasal dari kata Latin utilis yang berarti berguna. Teori ini bersifat universalis karena yang mau dicapai oleh tin­dakannya berakibat baik bagi kepentingan semua orang, seluruh dunia, termasuk diri sendiri. Peng­hayatan moral semacam ini sangat berbeda dengan penghayatan moral deontologis. Bagi kaum utilitarian tidak ada tindakan yang pada diri sendiri wajib atau terlarang. Semua tindakan itu bersifat netral. Yang memberi nilai morai atas tindakan adalah akibatnya. Teori ini dikembangkan oleh Jeremy Bentham (1748- 1832) dan secara khusus dirumuskan oleh John Stuart Mill (1806-1873). Selain utilitarisme dapat bersifat he­donis dan eudemonis, teori ini dapat dibedakan lagi menjadi dua macam, yaitu utilitarisme tindakan dan utilitarisme peraturan. Kaidah pertama: bertindaklah sedemikian rupa sehingga setiap tindakan menghasil­kan suatu kelebihan akibat baik di dunia daripada akibat buruk. Kaidah kedua tidak hanya melihat aki­batnya tetapi juga mendasarkan tindakan pada per­aturan umum. Kaidahnya dirumuskan: bertindaklah selalu sesuai dengan kaidah yang penerapannya lebih menghasilkan akibat baik di dunia daripada akibat buruk.

Incoming search terms:

  • etika teologis
  • pengertian etika teleologi
  • etika teleologis
  • perbedaan teologis dan teleologis
  • pengertian teori deontologis dan teleologis
  • pengertian etika teologis
  • makalah teologis etika
  • etika theologis
  • etika teologi
  • definisi etika teleologi

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • etika teologis
  • pengertian etika teleologi
  • etika teleologis
  • perbedaan teologis dan teleologis
  • pengertian teori deontologis dan teleologis
  • pengertian etika teologis
  • makalah teologis etika
  • etika theologis
  • etika teologi
  • definisi etika teleologi