PENGERTIAN ETIOLOGI ASMA – Pentingnya faktor-faktor psikologis dalam terjadinya asma menjadi topik perdebatan. Beberapa orang meyakini bahwa emosi selalu memiliki implikasi, sedangkan yang lain membagi berbagai kemungkinan penyebab menjadi tiga kategori: alergi, infeksi, dan psikologis (Rees, 1964). Selain tiga kelompok penyebab tersebut terdapat penyebab lingkungan, seperti kafein dan olahraga. Bila asma disebabkan oleh alergen, sel-sel pada saluran pernapasan sangat sensitif terhadap satu atau beberapa zat tertentu atau alergen, seperti serbuk sari, jamur, bulu, kecoa, polusi udara, asap rokok, dan tungau, yang menyebabkan terjadinya serangan. Berbagai racun lingkungan lain, seperti perokok pasif, dapat memicu serangan asma. Infeksi pernapasan, sering kali berupa bronkitis akut, juga dapat membuat sistem pernapasan mudah terserang asma, yang tampaknya terjadi dalam kasus yang disampaikan di awal bagian ini. Kecemasan, ketegangan yang disebabkan oleh rasa frustrasi, kemarahan, depresi, dan antisipasi kenikmatan yang menyenangkan merupakan contoh-contoh faktor psikologis yang dapat mengganggu fungsi sistem pernapasan dan menimbulkan serangan asma. Bagi para penderita asma yang berusia kurang dari 5 tahun, infeksi merupakan faktor dominan. Pada usia 6 hingga 16 tahun infeksi masih merupakan faktor dominan, namun peran berbagai variabel psikologis semakin meningkat. Pada rentang usia 16 hingga 65 tahun, faktor-faktor psikologis semakin kurang penting hingga sekitar usia 35, dan setelah itu kembali menjadi penting. Faktor-faktor Psikologis dalam Asma. Meskipun pada awalnya asma disebabkan oleh infeksi atau alergi, stres psikologis dapat juga memicu serangan. Para pasien asma melaporkan bahwa banyak serangan yang mereka alami dipicu oleh emosi seperti kecemasan (Rumbak dkk., 1993). Karena terdapat hubungan antara sistem saraf otonom (SSO) dan menyempit serta mengembangnya jalan napas, serta hubungan antara SSO dan emosi, sebagian besar penelitian difokuskan pada pengalaman emosional yang kuat. Penelitian secara umum menemukan tingginya tingkat ekspresi dan pengalaman emosional negatif pada para penderita asma. Reaksi mereka dalam bentuk ekspresi wajah terhadap b’erbagai stresor laboratorium lebih kuat, dan mereka dinilai lebih hostile dan tidak membantu dalam wawancara, serta lebih tidak mampu menyesuaikan diri. Penu turan diri dalam tes kepribadian juga menunjukkan tingkat emosi negatif yang tinggi (Lehrer, Isenberg, & Hochron, 1993; Mrazek, Schuman, & Klinnert, 1998). Ketegangan emosi juga ditemukan berkaitan langsung dengan laporan terjadinya simtom-simtom asma dan aliran hembusan napas puncak, suatu pengukuran hambatan jalan napas di mana penderita menarik napas dalam dan menghembuskannya sekuat mungkin ke suatu alat yang mengukur kekuatan udara yang dihembuskan. Smyth dan para koleganya (1999) meneliti orang-orang yang menderita asma selama beberapa hari. Para peserta diminta melakukan pengukuran aliran puncak lima kali setiap harinya dan menuliskan dalam catatan harian setiap simtom asma yang mereka alami dan juga tingkat stres serta mood mereka saat itu. Laporan tentang tingkat stres dan emosi negatif yang lebih tinggi berhubungan dengan aliran puncak yang lebih rendah dan lebih banyak simtom asma yang dilaporkan.

Dalam menginterpretasi data tersebut mungkin lebih adil jika dikatakan bahwa beberapa pengalaman emosional negatif yang tinggi tersebut merupakan suatu reaksi karena mengidap penyakit kronis. Namun, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa ketegangan emosional mendahului suatu serangan asma, mengindikasikan bahwa emosi memang berperan dalam memicu serangan. Peran Keluarga. Salah satu sumber stres psikologis vang berhubungan dengan asma adalah interaksi orang tua-anak. Sebuah penelitian meneliti 150 perempuan hamil yang menderita asma (Klinnert, Mrazek, & Mrazek, 1994). Para peneliti bermaksud untuk meneliti keturunan para ibu yang memiliki risiko genetik dan juga mengukur karakteristik orang tua. Para orang tua diwawancara tiga minggu setelah kelahiran anak mereka untuk mengetahui sikap dan sensitivitas mereka terhadap si bayi, strategi untuk berbagi tugas dalam mengasuh si bayi dan apakah terdapat gangguan emosional. Jumlah stres yang dialami si ibu pada tahun sebelumnya juga diukur. Anak-anak para ibu tersebut dipantau secara teliti selama tiga tahun berikutnya, dan frekuensi asma kemudian dihubungkan dengan karakteristik orang tua yang telah diketahui sebelumnya. Hasilnya menunjukkan tingkat kejadian asma yang lebih tinggi pada anak-anak yang ibunya memiliki level stres tinggi dan yang luarganya dinilai bermasalah.

Meskipun demikian, tidak semua penelitian menemukan adanya kaitan antara hubungan orang tua-anak dengan asma (Eiser dkk., 1991; Sawyer dkk., 2001). Gauthier dan para koleganya (1977, 1978) meneliti anak-anak yang menderita asma dan para ibu mereka dengan menggunakan serangkaian kuesioner dan wawancara serta melakukan observasi dirumah. Sebagian besar anak-anak dan ibunya memiliki penyesuaian diri yang baik. Tingkat perkembangan anak-anak tergolong normal untuk usia mereka, dan mereka mandiri serta berhasil menghadapi lingkungan mereka dengan baik. Dengan demikian, penelitian yang telah kita bahas tidak sepenuhnya konsisten dalam hal kehidupan keluarga para penderita asma berperan dalam timbulnya penyakit mereka. Bahkan jika kita setuju bahwa hubungan keluarga berperan penting dalam asma, kita tidak selalu dapat menunjukkan apakah berbagai variabel keluarga tersebut merupakan penyebab atau faktor yang membuat penyakit tersebut terus menetap. Walaupun faktor emosi negatif tertentu di lingkungan rumah dapat berperan penting dalam timbulnya serangan asma dini pada anak-anak, namun pada anak-anak lain penyakit tersebut pada awalnya dapat timbul karena penyebab nonkeluarga, kemudian orang tua anak-anak tersebut secara tidak sengaja memperkuat berbagai simtom penyakit tersebut. Contohnya, orang tua memanjakan anaknya dan memperlakukannya secara istimewa karena penyakit asma yang dideritanya. Menilik episode asma dapat sangat melemahkan dan menakutkan, tidak mengherankan jika beberapa orang tua bersikap terlalu melindungi anaknya yang menderita asma.

Para penderita asma yang terutama disebabkan oleh alergi kemungkinan mewarisi hipersensitivitas lendir pada saluran pernapasan, yang kemudian merespons secara berlebihan zat-zat yang biasanya tidak berbahaya seperti debu dan serbuk sari. Bahwa asma diturunkan dalam keluarga merupakan suatu hal yang konsisten dengan transmisi genetik suatu diathesis (Konig & Godfrey, 1973). Beberapa studi mutakhir telah Hal lain yang sering diabaikan dalam kampanye edukasi publik tentang bahaya HIV adalah keterampilan yang diperlukan untuk bertindak sesuai pengetahuan yang dimiliki. Contohnya, seorang laki-laki atau perempuan muda mengetahui manfaat menggunakan kondom, namun merasa malu untuk membelinya. Bisa membeli kondom dari mesin penjual otomatis dapat mengurangi rasa malu tersebut. Memang, terdapat berbagai contoh tentang keberhasilan upaya pencegahan yang lebih dari sekadar memberikan informasi. Contohnya, sebagai bagian dari program berbasis luas yang dirancang untuk mencegah infeksi HIV di kalangan perempuan kota, Hobfoll dan para koleganya (1994) memberikan “kartu kredit kondom” kepada para perempuan yang memungkinkan mereka mendapatkan kondom gratis dan obat pembunuh sperma di apotik setempat selama setahun. Dalam program lain yang menyasar perempuan di perkotaan, para peneliti tidak hanya memberikan informasi dan edukasi mengenai risiko, namun juga memberikan pelatihan penggunaan kondom, asertivitas, dukungan rekan-rekan seusia, kelompok dukungan dalam mengembangkan keterampilan menyelesaikan masalah, dan bantuan dalam mengidentifikasi berbagai pemicu perilaku seksual berisiko. Para perempuan yang mendapatkan intervensi di atas meningkat penggunaan kondomnya dari 26 persen menjadi 56 persen, dan mereka mengembangkan komunikasi seksual yang lebih baik serta lebih efektif dan keterampilan serta perilaku negosiasi.

Filed under : Bikers Pintar,