PENGERTIAN ETIOLOGI GANGGUAN AUTISTIK – Teori paling terdahulu mengenai etiologi autisme berpendapat bahwa gangguan ini bersifat psikogenik, yaitu faktor-faktor psikologis bertanggung jawab atas terjadinya gangguan ini. Perspektif yang sempit dan salah tersebut beberapa tahun terakhir telah digantikan oleh bukti-bukti yang mendukung pentingnya faktor-faktor biologis. beberapa di antaranya genetik, dalam etiologi sindrom yang membingungkan ini.

Basis Psikologis. Beberapa alasan yang sama yang mendorong Kanner meyakini bahwa anak-anak autistik memiliki intelegensi rata-rata—penampilan mereka yang normal dan fungsi fisiologis yang tampak normal—memicu para teoriS” terdahulu melakukan kesalahan dengan mengabaikan pentingnya faktor-faktor biologis. Orangorang mungkin secara diam-diam berasumsi bahwa bila faktor-faktor biologis menjadi penyebab gangguan seberat autisme, maka semestinya terdapat berbagai gejala nyata lain, seperti stigmata fisik dalam sindroma Down. Oleh karena itu, pada awalnya fokus diarahkan pada faktor-faktor psikologis, terutama pengaruh keluarga sejak usia sangat dini.

Seperti halnya para teoris berorientasi psikoanalisis, beberapa teoris perilaku mengemukakan teori bahwa pengalaman belajar tertentu di masa kanak-kanak menyebabkan autisme. Dalam sebuah artikel yang berpengaruh, Ferster (1961) berpendapat bahwa tidak adanya perhatian dari orang tua, terutama ibu, mencegah terbentuknya berbagai asosiasi yang menjadikan manusia sebagai penguat sosial. Karena orang tua sendiri tidak pernah menjadi penguat sosial, mereka tidak dapat mengendalikan perilaku si anak, dan mengakibatkan terjadinya gangguan autistik. Sekali lagi, tidak terdapat dukungan bagi teori ini.

Evaluasi terhadap Teori Psihologis mengenai Gangguan Autistik. Baik Bettelheim maupun Ferster, serta yang lain, menyatakan bahwa orang tua memiliki peran penting dalam etiologi autisme. Oleh karena itu, banyak peneliti yang meneliti karakteristik para orang tua tersebut. Agar suatu teori psikogenik mengenai gangguan di masa kanakkanak benar-benar meyakinkan, harus dapat ditunjukkan adanya sesuatu yang sangat luar biasa dan destruktif terkait perlakuan para orang tua terhadap anak-anak mereka. Hal itu tidak terjadi. Tidak ada bukti yang mendukung teori psikoanalisis atau behavioral.

Beberapa artikel klinis terdahulu berpendapat bahwa para orang tua anak-anak autistik tidak memiliki kehangatan, membuat jarak, tidak sensitif, pasif, dan apatetik. Namun, penelitian sistematik gagal mengonfirmasi kesan-kesan klinis tersebut. Contohnya, Cox dan para koleganya (1975) membandingkan para orang tua anakanak autistik dengan para orang tua anak-anak yang mengalami afasia reseptif (suatu gangguan pemahaman bicara). Tidak terdapat perbedaan antara kedua kelompok tersebut dalam hal kehangatan, ekspresivitas emosional, responsivitas, atau sosiabilitas. Studi tersebut dan berbagai studi lain tidak menghasilkan bukti bahwa terdapat hal yang luar biasa pada para orang tua anak-anak autistik. Kenyataannya, para orang tua tersebut membesarkan anak-anak mereka yang lain yang normal dan sehat. Tentu saja, bila seseorang merenungkan bagaimana rasanya memiliki seorang anak autistik, akan mengejutkan jika orang tua (dan saudara-saudara kandung si anak) tidak mendapatkan pengaruh negatif. Meskipun demikian, tidak terdapat bukti bahwa kehidupan keluarga anak-anak autistik ditandai oleh semacam kesalahan perlakuan emosional yang ekstrem, penolakan, atau penelantaran yang kemungkinan dapat menyebabkan perilaku yang mirip dengan simtom-simtom patologis autisme yang dramatis. Bagaimanapun, selama bertahun-tahun beban emosional yang luar biasa telah ditanggung oleh para orang tua yang diberitahu bahwa mereka telah melakukan kesalahan. Dengan demikian, teori psikogenik mengenai autisme tidak hanya salah, namun juga destruktif.

Filed under : Bikers Pintar,