PENGERTIAN ETIOLOGI GANGGUAN MAKAN – Seperti dalam berbagai psikopatologi lain, satu faktor tunggal tidak mungkin menjadi penyebab gangguan makan. Beberapa bidang penelitian dewasa ini—genetik, peran otak, tekanan sosiokultural untuk menjadi langsing, kepribadian, peran keluarga, dan pern stres lingkungan—menunjukkan bahwa gangguan makan terjadi bila beberapa faktor yang berpengaruh terjadi dalam kehidupan seseorang.

Genetik Anoreksia nervosa dan bulimia nervosa dapat terjadi dalam satu keluarga. Ker-abat tingkat pertama dari perempuan muda yang menderita anoreksia nervosa memiliki kemungkinan sepuluh kali lebih besar dibanding rata-rata untuk menderita gangguan tersebut (a.1., Strober dkk., 2000). Hasil yang sama juga ditemukan terkait bulimia nervosa, di mana kerabat tingkat pertama dari perempuan yang menderita bulimia nervosa memiliki kemungkinan sekitar empat kali lebih besar dibanding rata-rata untuk menderita gangguan tersebut (a.1., Kassett dkk., 1987; Strober dkk., 2000). Meskipun gangguan makan cukup jarang terjadi pada kaum laki-laki, suatu studi baru-baru ini menemukan bahwa kerabat tingkat pertama dari laki-laki yang menderita anoreksia nervosa memiliki risiko yang lebih besar untuk menderita anoreksia nervosa (meskipun bukan bulimia) dibanding kerabat laki-laki yang tidak menderita anoreksia (Strober dkk., 2001). Terakhir, kerabat pasien yang menderita gangguan makan memiliki kemungkinan lebih besar dibanding rata-rata untuk mengalami simtom-simtom gangguan makan yang tidak memenuhi kriteria lengkap untuk menegakkan diagnosis (Lilenfeld dkk., 1998; Strober dkk., 2000)

Studi terhadap orang kembar terkait gangguan makan juga menunjukkan pengaruh genetik. Sebagian besar studi mengenai anoreksia dan bulimia menunjukkan tingkat kesesuaian yang lebih tinggi pada kembar MZ dibanding DZ (Fichter & Naegel, 1990; Holland dkk., 1988) dan gen memiliki pengaruh yang lebih besar pada orang-orang kembar yang menderita gangguan makan dibandingkan dengan faktor-faktor lingkungan (Wade dkk., 2000). Penelitian juga menunjukkan bahwa ciri-ciri penting gangguan makan, seperti ketidakpuasan atas bentuk tubuh, keinginan yang kuat untuk menjadi langsing, makan berlebihan, dan preokupasi dengan berat badan dapat diturunkan dalam keluarga (Klump, McGue, & Iacono, 2000; Rutherford dkk., 1993). Bukti-bukti lain menunjukkan bahwa faktor-faktor genetik yang umum dapat berperan dalam hubungan antara karakteristik kepribadian tertentu, seperti emosionalitas negatif dan gangguan makan (Klump, McGue, & Iacono, 2002). Data-data ini konsisten dengan kemungkinan bahwa suatu diathesis genetik berperan dalam hal ini, namun diperlukan juga studi terhadap anak yang diadopsi. Dengan menggunakan metode analisis keterkaitan genetik, suatu studi baru-baru ini menemukan bukti keterkaitan kromosom 1 di antara para penderita anoreksia (Grice dkk., 2002). Penting untuk melakukan penelitian yang sama dengan hasil yang sama pada masa mendatang, namun semua temuan tersebut menunjukkan bahwa genetik memang berperan dalam gangguan makan.

Filed under : Bikers Pintar,