PENGERTIAN ETNOGRAFI DAN TEORI ADALAH – Dalam antropologi sosial atau budaya, suatu pembedaan sering kali di-buatantara ‘etnografi’ dan `teori’. Etnografi secara harfiah adalah praktik penulisan mengenai suatu masyarakat. Sering kali etnografi dianggap sebagai cara kita untuk menjadikan masuk akal mode pemikiran orang lain, karena ahli antropologi biasanya mempelajari kebudayaan lain ketimbang kebudayaannya sendiri. Teori juga, sebagian, merupakan cara kita untuk menjadikan masuk akal mode pemikiran antropologi kita sendiri. Oleh karena itu, teori dan etnografi mau tak mau menjadi satu kesatuan, seperti dua sisi pada sekeping uang logam. Adalah tidak mungkin kita membicarakan atau bekerja dalam etnografi tanpa gagasan tertentu tentang apa yang penting dan apa yang tidak penting. Para mahasiswa kerap kali bertanya untuk apa teori antropologi; atau mereka juga begitu gampang menanyakan etnografi itu untuk apa. Secara ideal, etnografi berlaku untuk mempermudah pemahaman kita tentang kebudayaan pada tingkat abstrak dan mendefinisikan esensi dari hakikat manusia (yang sebenarnya adalah kata kerja dari kebudayaan). Di sisi lain, teori tanpa etnografi menjadi kurang bermakna, karena pemahaman mengenai perbedaan kebudayaan sekurang-kurangnya merupakan salah satu dari tujuan terpenting dari kajian antropologi.

Teori mengandung empat unsur dasar: (1) pertanyaan; (2) asumsi); (3) metode; dan (4) bukti. Pertanyaan yang paling penting mungkin adalah “Apa yang ingin kita temukan?” dan “Mengapa pengetahuan tentang sesuatu yang ingin kita ternukan itu berguna?” Pengetahuan antropologi dapat menjadi penting, misalnya, baik dalam mencoba memahami suatu masyarakat, atau dalam mencoba memahami hakikat spesies manusia. Sebagian pertanyaan antropologis bersifat historis: “Bagaimana masyarakat berubah?” atau “Apa yang muncul pertama, ke-pemilikan pribadi atau hierarki sosial?” Pertanyaan lain adalah mengenai isu-isu kontemporer: “Bagaimana institusi sosial bekerja?” atau “Bagaimana manusia menanggapi dan menggolong-golongkan apa yang ada di ling-kungan mereka?”

Asumsi meliputi konsep-konsep kemanusiaan bersama (notions of common humanity), mengenai perbedaan kebudayaan, mengenai nilai dalam semua kebudayaan, atau mengenai perbedaan-perbedaan dalam nilai-nilai budaya. Lebih spesifik, antropolog mungkin berasumsi tentang “masyarakat yang mengendalikan manusia” atau justru “manusia yang menciptakan masyarakar. Sebagian asumsi sama bagi semua antro-polog, sebagian lain tidak. Jadi, selain memiliki persamaan pandangan, antropolog dapat memiliki perbedaan pendapat yang bermakna mengenai cara mereka memandang subjek mereka.

Metode berkembang sepanjang waktu dan merupakan bagian dari setiap kajian lapangan. Jadi, metode tak hanya mencakup kajian lapangan, tetapi, sama pentingnya, juga pembandingan (dalam pengertian ini, teori). Bukti jelas merupakan komponen metodologi, tetapi bagaimana bukti itu diperlakukan, atau bahkan dipahami, akan berbeda menurut perspektif teoretisnya. Sebagian antropolog lebih suka memandang pem-bandingan sebagai metode membangun gambaran daerah kebudayaan tertentu. Yang lain memanclangnya sebagai suatu metode untuk men-. jelaskan penemuan mereka sendiri dalam konteks pola yang lebih men-jangkau dunia (world-wide). Yang lain lagi memandang pembandingan itu sendiri sebagai objektif ilusi, kecuali jika sebegitu jauh seseorang memahami hal eksotik melalui perbedaannya dari yang dikenafnya dengan baik. Hal terakhir ini mencuatkan pertanyaan eksistensial mengenai bukti apa yang harus ada.

Dalam antropologi, sebagaimana halnya banyak disiplin ilmu lainnya, satu-satunya yang disepakati adalah bahwa bukti harus berkaitan dengan masalah yang dikaji. Dengan kata lain, persoalannya bukan semata-mata teori tergantung pada bukti, melainkan bukti itu sendiri tergantung pada pertanyaan yang ingin dijawab peneliti. Mengambil arkeologi sebagai analogi, peneliti tidak bisa begitu saja melakukan penggalian di sembarang tempat kuno dan berharap menemukan sesuatu

yang bermakna. Seorang arkeolog yang tertarik pada perkembangan urbanisme hanya akan menggali di suatu ternpat di mana diduga terdapat sisa-sisa peninggalan kota kuno. Dalam antropologi sosial juga demikian. Kita pergi ke suatu lokasi di mana kita duga dapat menemukan hal-hal vang menarik; dan sekali kita berada di sana, kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk memproduksi bukti bagi mengajukan pertanyaan yang lebih besar yang dihadapi oleh orientasi teoretis kita. Sebagai contoh, minat dalam hubungan antara gender dan kekuasaan mungkin membawa kita kepada suatu komunitas di mana perbedaan gender kuat. Dalam hal ini, kita dapat memusatkan pertanyaan-pertanyaan kita untuk mengungkapkan bagaimana individu laki-laki dan wanita mengupayakan strategi-strategi untuk menanggulangi atau mempertahankan kedudukan mereka satu sama lain.

Di luar empat unsur di atas, ada dua lagi aspek spesifik penelitian antropologi sosial. Kedua aspek ini merupakan ciri khas metode antropologi, tak soal persuasi teoretis yang hendak diajukan peneliti antropologi. Jadi, kedua aspek ini bertindak untuk mendefinisikan pendekatan antropologi, suatu pendekatan yang berbeda dari ilmu-ilmu sosial lainnya, khususnya sosiologi. Kedua aspek tersebut adalah:

1. mengamati suatu masyarakat secara keseluruhan, untuk melihat bagaimana setiap unsur dari masyarakat tersebut bersesuaian bersama dengan, atau bermakna dalam konteks, unsur-unsur lain;

2. mengkaji suatu masyarakat dalam hubungannya dengan yang lain, untuk menemukan persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan.

“Mengamati suatu masyarakat secara keseluruhan” berarti mencoba memahami bagaimana sesuatu berkaitan satu sama lain, misalnya, bagaimana politik terkait bersama dengan kekerabatan atau ekonomi, atau bagaimana pranata ekonomi tertentu berkaitan bersama dengan pranata-pranata lainnya. “Mengkaji suatu masyarakat dalam hubungannya dengan yang lain”, berarti upaya untuk menemukan dan menyelidiki persamaan dan perbedaan mereka.

Teori dan etnografi adalah dua pilar kembar penyangga program ini, dan secara virtual semua kajian antropologi mencakupi pembandingan langsung atau upaya eksplisit untuk menanggulangi kesulitan yang ditimbulkan oleh tuntutan pembandingan. Sifat komparatif dari disiplin kita cenderung membuat kita lebih awas jeli terhadap premis-premis teoretis daripada yang cenderung terjadi pada lapangan yang kurang komparatif, seperti sosiologi. Atas dasar alasan ini, barangkali perhatian khusus pada teori daripada metodologi mendominasi antropologi. Setiap antropolog adalah kurang lebih teoretisi, demikian pula mereka kurang lebih adalah peneliti lapangan. Dalam disiplin ilmu sosial yang lain, oeteori sosial” sering kali dianggap entitas yang abstrak, terpisah dari kehidupan keseharian, dan kerap kali dijadikan pedoman bagi peneliti untuk menganalisis gejala sosial. Pertanyaan yang muncul sering kali adalah “teori apa yang digunakan oleh peneliti” dalam menganalisis gejala sosial yang dihadapinya.

Dalam dunia akademik mana pun lazim dibedakan antara “teori” dan “perspektif teoritik”. Yang dimaksud perspektif teoretis biasanya adalah teori besar (grand theory) yang kadang-kadang kita sebut juga suatu kerangka teoretis (theoretical framework) atau suatu cara pandanbesar mengenai dunia. Dalam antropologi kita kadang menyebutnya suatu kosmologi jika digunakan untuk menyebut suatu kebudayaan “tradisional”, atau suatu paradigma apabila menggunakan terminologi Thomas Kuhn (1974).

Perspektif teoretis, kosmologi, atau paradigma rnendefinisikan isuisu pokok yang dipikirkan peneliti. Prinsipnya sama saja apakah seseorang adalah anggota dari suatu kebudayaan tradisional, antropolog, atau ahli ilmu-ilmu alam. Dalam filsafat ilmu perigetahuan itu sendiri ada per-bedaan-perbedaan pendapat mengenai presisi pemikiran ilmiah, proses memperoleh pengetahuan ilmiah, dan status eksistensial dari pengetahuan tersebut. Dalam hal ini Thomas Kuhn berpengaruh besar dalam membantu ilmuwan sosial untuk memahami lapangan mereka sendiri, meskipun materi subjeknya terkait dengan ilmu-ilmu fisika dan ilmu alam. Menurut Kuhn, paradigma adalah teori-teori besar yang di dalamnya terdapat teori-teori yang lebih kecil. Apabila teori-teori yang lebih kecil itu tak lagi masuk akal untuk menjelaskan dunia, maka krisis terjadi. Sekurang-kurangnya dalam ilmu-ilmu alamiah (meski tidak begitu sama dengan ilmu-ilmu sosial), krisis demikian itu akan mengakibatkan —runtuhnya suatu paradigma atau bisa juga bergabung dengan paradigma tersebut menjadi paradigma baru yang lebih relevan.

Ada perdebatan mengenai apakah antropologi bisa atau tidak bisa dianggap sebagai ilmu pengetahuan sebagaimana halnya fisika di atas, akan tetapi sebagian besar setuju bahwa antropologi sekurang-kurangnya menyandang persamaan tertentu dengan fisika dalam hal sama-sama memiliki satu kerangka besar yang menjangkau dunia. Dalam hal ini, kerangka besar antropologi adalah sebagai ilmu yang bertujuan me-mahami manusia, dan dalam kerangka besar ini, terdapat paradigma-paradigma yang lebih khusus, misalnya fungsionalisme dan struktural-isme. Dalam paradigma-paradigma itu kita memiliki fakta-fakta dan eksplanasi khusus yang membangun wajah tertcntu kajian antropologi. Antropologi dapat berkembang melalui gperubahan cepat maupun perubahan lambat laun atau pergeseran paradigma dari waktu ke waktu, meskipun hakikat dari paradigma kita mungkin berbeda dari paradigma-paradigma ilmu alamiah.

Filed under : Bikers Pintar,