Advertisement

Cabang antropologi, merupakan pe­lukisan dan analisis tentang kebudayaan suatu masya­rakat atau suku bangsa. Etnografi biasanya terdiri atas uraian terperinci mengenai berbagai aspek cara ber­perilaku dan cara berpikir yang. sudah membaku pada orang yang dipelajari, berupa tulisan, foto, gam­bar atau film yang berisi laporan atau deskripsi tersebut.

Yang dipelajari oleh seorang ahli etnografi adalah keseluruhan unsur kebudayaan suatu masyarakat, seperti bahasa, mata pencaharian, sistem teknologi, organisasi sosial, kesenian, sistem pengetahuan, dan religi- Bila penulisan yang dilakukan menggambarkan perbandingan antara dua atau lebih kelompok masya­rakat, studi perbandingan tersebut dinamakan etno­logi (lihat Etnologi).

Advertisement

Lahirnya penulisan etnografi bermula sekitar abad ke-16, ketika orang Eropa mulai menjelajah dan ber­kenalan dengan masyarakat dan kebudayaan berba­gai suku bangsa di Benua Asia, Afrika, Amerika, Aus­tralia, dan Oceania. Mereka merasa tertarik untuk me­nuliskan kebudayaan berbagai suku bangsa itu, ka- reni berbeda dan tampak aneh dibandingkan dengan kebudayaan asal mereka. Akhirnya lahirlah himpunan besar karangan etnografi mengenai kebudayaan suku bangsa dari berbagai bagian dunia di luar Eropa.

Pada mulanya karangan penulisan etnografi meru­pakan buah tangan orang yang tidak mempunyai ke­ahlian dalam penelitian dan penulisan tentang ke­budayaan. Penulis karangan etnografi pada masa la­lu itu kebanyakan terdiri atas para musafir dan pen­jelajah alam. Mereka menuliskan karangannya hanya berdasarkan hasil pengalaman yang diperoleh secara sambil lalu. Naskah yang cukup tua misalnya laporan deskriptif yang ditulis oleh Herodotus (484-425 SM) tentang Mesir, oleh Megasthenes (302-288 SM) ten­tang wilayah India Utara, dan oleh Tacitus (55-117 SM) tentang kaum biadab di Eropa Utara.

Namun pada periode berikutnya karangan yang muncul menjadi semakin baik karena adanya perkem­bangan teknik dan metode penelitian lapangan untuk mendapatkan data dan informasi tentang suatu ke­budayaan. Perkembangan teknik dan metode itu mi­salnya dalam memilih sampel, mencari informan, me­lakukan wawancara, mengobservasi suatu gejala ke­budayaan, melakukan partisipasi dalam kegiatan anggota masyarakat yang diteliti, sampai pada cara menuliskan karangan yang baik. Pada tahun 1874, suatu lembaga Antropologi Inggris bernama The Ro­yal Anthropological Institute of Great Britain and Ireland menerbitkan Notes and Queries on Anthro­pology, yang berisi pedoman penelitian lapangan. Buku ini mengalami beberapa kali cetak ulang dan perbaikan isi sesuai dengan perkembangan dunia pe­nelitian.

Sekarang penelitian dan penulisan karangan etno­grafi tidak saja menghasilkan pelukisan tanpa inter­pretasi, melainkan juga dilatarbelakangi teori terten­tu di samping penggunaan konsep yang lebih tajam serta kerangka karangan yang sesuai dengan pemba­hasan teori tersebut. Untuk memahami suatu kebu­dayaan, seorang ahli etnografi harus terlibat dan da­pat berkomunikasi dengan bahasa masyarakat yang sedang dipelajari. Tetapi, sementara itu ia juga harus dapat mempertahankan dirinya sebagai pengamat ilmiah, sehingga makna kebudayaan asli tetap terja­ga. Untuk memperoleh keterangan yang baik, seorang ahli etnografi biasanya mengadakan penelitian la­pangan, dengan cara hidup di tengah orang yang di­pelajari, berbicara dengan mereka, mengamat-amati dan merekam segala aktivitas mereka dalam jangka waktu yang lama.

Sebagian besar ahli etnografi adalah ahli yang berasal dari bidang antropologi. Tetapi ahli-ahli ilmu lain dapat juga melakukan penelitian etnografi. Contoh karya para ahli yang digolongkan sebagai etnografi klasik adalah tulisan ahli antropologi kelahiran Po­landia, Bronislaw Malinowski, yang berjudulArgo- nauts of the Western Pasific (1922), dan tulisan ahli antropologi Inggris, E.E. Evans Pritchard, The Nuer (1940).

Deskripsi kebudayaan berbagai suku bangsa di Indonesia telah banyak pula dibuat oleh orang Eropa sejak abad ke-16. Para penulisnya adalah pendeta pe­nyiar agama Nasrani, para musafir, peneliti bahasa, penyidik alam, pegawai pemerintah jajahan. Mereka ini pun pada umumnya tidak mempunyai keahlian khusus di bidang penulisan etnografi. Namun pada periode lebih akhir, muncul penulis etnografi yang cu­kup ahli dan menulis dengan melakukan penelitian mendalam dalam waktu yang lama untuk meneliti suatu kebudayaan. Di antaranya C. Snouck Hurgronje yang menulis tentang kebudayaan Aceh dan A.C. Kruyt yang menulis tentang kebudayaan Toraja.

Incoming search terms:

  • pengertian etnografi
  • pengertian etnografi menurut para ahli
  • definisi etnografi
  • etnografi menurut para ahli
  • definisi etnografi menurut para ahli
  • pengertian etnografi menurut beberapa ahli
  • pengertian etnografi menurut ahli
  • definisi etnografi menurut 10 para ahli
  • definisi etnografi menurut pendapat 10 ahli
  • pengertian etnografi menurut 10 ahli

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian etnografi
  • pengertian etnografi menurut para ahli
  • definisi etnografi
  • etnografi menurut para ahli
  • definisi etnografi menurut para ahli
  • pengertian etnografi menurut beberapa ahli
  • pengertian etnografi menurut ahli
  • definisi etnografi menurut 10 para ahli
  • definisi etnografi menurut pendapat 10 ahli
  • pengertian etnografi menurut 10 ahli