PENGERTIAN ETNOMETODOLOGI – Etnometodologi adalah strategi baru yang mengakibatkan penekanan interaksionisme simbolik kepada definisi subyektif atas realitas menjadi semakin ekstrim. Kalimat kunci dalam perspektif ini adalah “konstruksi sosial atas kenyataan” (Berger dan Luckmann, 1966). Dalarn bentuknya yang paling ekstrim, ini berarti bahwa masyarakat atau kehidupan sosial tidak eksis dalam bentuknya yang obyektif — yakni, dalam aktualitas. Tetapi, ia eksis hanya dalam pildran orang-orang sebagai serangkaian persepsi, definisi dan cara berbicara. “Pendiri” Etnometodologi adalah Harold Garfinkel (1967). Garfinkel dan banyak mahasiswa yang telah dipengaruhirtya tertarik kepada problem yang sarna yang menyibukkan para fungsionalis : problem tertib sosial (social order), atau stabilitas dan kontinuitas sosial sepanjang waktu. Namun, kalau para fungsionalis memandang tertib sosial ini sebagai sesuatu yang obyektif (dan makro), para etnometodolog memandangnya sebagai sesuatu yang sangat subyektif (dan rnikro). Bagi etnometodolog, tertib sosial hanyalah bersifat definisional, dan ia tetap bersifat demikian karena keterikatan orang-orang kepada definisi subyektif mereka. Etnometodolog mengaku hanya tertarik untuk mencari tahu bagaimana orang mengkonstruksikan realitas, serta bagaimana dan kenapa mereka begitu terikat kepada definisi tertentu yang mereka buat.

Baik interaksionisme simbolik maupun etnometodologi keduanya adalah versi ekstrim dari idealisme. Keduanya memberikan penekanan yang terlampau berat pada kernampuan orang mengkonstruksikan realitas dengan cara mereka sendiri terlepas dari kendala-kendala yang lebih luas (Collins, 1988a). Banyak dari teori-teori ini menawarkan pandangan yang sangat tepat, dalam pengertiannya yang sangat penting. Orang benar-benar mengikuti definisi realitas mereka yang bersifat subyektif yang mempunyai peran menentukan dalam kehidupan sosial. Namun, definisi-definisi tersebut tidaklah bersifat arbitrer dan tidak terj adi dalam situasi vakum. Orang memangmengkonstruksikan realitas, tetapi mereka melakukannya bukan dengan cara lama yang sederhana. Mereka mengkonstruksikan realitas dalam konteks serangkaian kendala yang memaksa, dan kendala-kendala inilah yang menentukan cara bagaimana definisi atas realitas itu terbentuk. Sebagaimana sejak lama dikatakan Marx dalam konteks yang lain (1978: 595, 1852): “Manusia membuat sejarah mereka sendiri, tetapi mereka tidak melakukan itu hanya karena n-tereka suka, mereka membuatnya dalam kondisi-kondisi yang tidak mereka tentukan sendiri, tetapi di bawah kondisi-kondisi yang telah ada, given dan ditransmisikan dari masa lalu. Tradisi generasi terdahulu menjadi beban-beban, seperti mimpi buruk dalam otak kehidupan”.

Satu pendekatan yang lebih pas untuk translasi mikro, paling tidak menurut hemat penulis buku ini, adalah teori pilihan rasional (Homans,1961; Coleman,1986,1987; Hechter,1983; Friedman dan Hechter,1988). Setelah lama ditolak oleh para sosiolog, pendekatan lama ini kembali hadir secara signifikan sejak awal 1980-an. Pendekatan ini menekankan bahwa manusia adalah organisme yang mementingkan dirinya sendiri yang memperhitungkan cara-cara bertindak yang memungkinkan mereka memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan biaya. Dengan demikian, individu-individu memiliki motivasi pada tingkat mikro, dan gambaran berbagai masyarakat dan jaringan dunia selama jangka waktu yang lama merupakan hasil kumpulan dari interaksi tingkat-mikro ini. Dengan demikian, konstruksi sosial atas realitas yang menandai masyarakat tertentu pada waktu tertentu adalah konstruksi yang memaksimalkan kepentingan diri individu-individu yang berinteraksi dalam kondisi-kondisi sosial dan historis tertentu.

Dapat segera terlihat bahwa teori pilihan rasional sangat cocok dengan strategi teoritis materialis dan konflik pada tingkat makro. Dalam kenyataannya, versi tertentu dari teori materialis dan konflik yang secara konsisten dimuat dalam buku ini secara eksplisit didasarkan atas asumsi-asumsi tingkat mikro pilihan rasional. Tentu saja, teori pilihan rasional hampir bukan merupakan strategi yang sempurna untuk translasi-mikro. Orang tentu saja tidak seberdarah-dingin atau secara rasional sekalkulatif gambaran yang seringkali dibuat pendekatan ini. Lebih dari itu, orang mengikuti motif-motif yang lain dari sekadar kepentingan diri. Namun pada umumnya, strategi teoritis tingkat mikro ini nampaknya sampai saat inimerupakan strategi yang paling memberi harapan dalam menguji dasar-dasar mikro bagi sosiologi makro.

Filed under : Bikers Pintar,