PENGERTIAN ETNOSENTRISME DAN RELATIVISME KULTURAL

30 views

PENGERTIAN ETNOSENTRISME DAN RELATIVISME KULTURAL – Ciri dasar kehidupan manusia yang dengan segera disadari oleh para antropolog dan sosiolog yang serius adalah tingkat diversitas yang luar biasa banyaknya dalam sistem sosio-kultural. Para ilmuwan sosial seringkali berhadapan dengan berbagai kebudayaan yang sangat berbeda dengan kebudayaan mereka sendiri. Perasaan takut dan shock yang sering dialami oleh para antropolog yang bekerja di lapangan ketika pertama kali berhadapan dengan kebudayaan yang sangat berbeda dideskripsikan secara gamblang oleh Napoleon Chagnon ketika ia pertama kali bertemu dengan Suku Indian Yanomamo di Amerika Selatan.

Kejutan budaya yang dialami Chagnon tidak terbatas bagi ilmuwan sosial profesional saja. Ia dapat saja, dan memang telah, semua orang yang tiba-tiba menghadapi cara hidup yang sangat berbeda dengan cara hidupnya sendiri. Reaksi yang lahir dari gejala ini adalah apa yang dikenal dengan etnosentrisme: kecenderungan seseorang untuk memandang cara hidupnya sendiri sebagai cara hidup yang paling unggul dari semua cara hidup yang lain. Jadi, Chagnon tercekam atas apa yang ia saksikan karena kebudayaan Industrial Barat hampir tidak membekalinya untuk menghadapi gejala semacam: busur ditarik, ketelanjangan, ingus hijau yang mengalir dari hidung dan kekotoran ketika dia mendatangi suku tersebut sebagai seorang tamu. Pada tingkat yang sangat substansial, kita adalah hasil dari kebudayaan kita sendiri, dan sebenarnya semua kita dikondisikan untuk menganggap cara hidup kita sendiri sebagai cara yang paling menyenangkan dan kebudayaankebudayaan lain dipandang memberikan gaya hidup yang kurang menyenangkan. Etnosentrisme adalah gejala universal manusia. Suku Yanomamo sendiri tidak terlepas dari hal ini. Chagnon melaporkan bahwa karena dia

orang Yanomamo, mereka cenderung menganggapnya kurang manuszawi. Yanomamo adalah salah satu dari banyak masyarakat dunia yang suka :iermusuhan dan perang, namun ketika Chagnon menceritakan kepada mereLa tindakan orang Amerika dalam perang Vietnam mereka secara moral erasa jijik dan menganggap perilaku semacam itu sebagai biadab dan tidak manusiawi.

Etnosentrisme melahirkan problem khusus dalam melakukan penelitiin pada kebudayaan lain karena, jika cukup kuat, ia akan menjadi penghalang serius untuk dapat melakukan kajian yang obyektif dan akurat. Seandainya Chagnon tidak dapat mengendalikan etnosentrismenya, dia tidak akan pernah mampu menyelesaikan proyek penelitiannya dengan baik. Antropolog dan sosiolog telah melawan masalah ini dengan mengembangkan doktrin vang berlawanan yang dikenal dengan relativisme kultural. Relativisme kultural merupakan doktrin yang menyatakan bahwa tidak ada kebudayaan yang secara inheren lebih superior atau inferior dari kebudayaan yang lain, tetapi karena setiap kebudayaan merupakan solusi adaptif terhadap problem-problem fundamental manusia, maka semua kebudayaan “sama-sama sah”. Penganut relativisme kultural percaya bahwa standard suatu kebudayaan tidak dapat digunakan untuk mengevaluasi kebudayaan yang lain, dan karena itu standard untuk mengevaluasi kebudayaan hanyalah standard yang dimiliki kebudayaan itu sendiri. jika doktrin ini kita terapkan untuk menilai nilai susila pembunuhan terhadap perempuan (pembunuhan secara selektif terhadap anak-anak perempuan) di kalangan suku Yanomamo, semua kita dapat berkata ,”walaupun salah menurut kita, itu betul menurut mereka, dan tidak dapat dikutuk secara kategoris”. Dan kita akan memberikan pengakuan bahwa pembunuhan tersebut “benar” bagi suku Yanomamo karena ia menyajikan solusi adaptif atas problem eksistensi manusia.

Sebagai sebuah perspektif moral atau etis, relativisme kultural telah banyak menerima kritik keras, dan ia tidak membentuk sebuah sistem etika yang memuaskan (Kohlberg, 1971; Patterson, 1977). Problem-problem yang menyertainya sudah banyak diketahui. Sebagai salah satu contohnya, ia dapat dengan cepat jatuh ke dalam “penyakit yang sekaligus merupakan obatnya” (Kohlberg, 1971). Yakni, ia akan mengakibatkan adanya “persetujuan terhadap praktek-praktek yang pada dasarnya tidak manusiawi” (Hatch,1983;81). Misalnya, perspektif penganut relativisme kultural yang ketat akan mendesak kita mengesahkan praktek-praktek seperti pengusiran yang dilakukan Nazi terhadap bangsa Yahudi, Soviet yang memaksa kamp-kamp buruh, perbudakan pada zaman Romawi atau perbudakan bangsa kulit hitam di Dunia Baru, Gang pemerkosa wanita pada suku Yanomamo, dan banyak lagi gej ala kultural yang secara moral terasa menjijikkan jika dipandang dengan standard yang masuk akal — semuanya atas nama toleransi terhadap cara hidup yang lain. Di samping itu, relativisme kultural tampak mengekalkan semacam “tirani adat” dengan meninggalkan sedikit sekali atau tidak ada sama sekali ruang bagi otonomi individu (Hatch, 1983).

Dalam kenyataannya, batas-batas relativisme kultural nampak jelas hanya bagi banyak relativis kultural sendiri saja, sebagian mereka melanggar prinsip mereka sendiri dalam praktek yang mereka lakukan, walaupun mereka secara formal mengakui relativisme kultural. Misalnya, Ruth Benedict, salah seorang arsitek utama relativisme kultural pada dekade awal abad ini, secara konsisten mengurangi pendirian relativismenya sendiri (Hatch, 1983). Dalam bukunya yang terkenal Pattern of Culture (1943) Benedict dengan jelas menun-jukkan preferensinya kepada sifat-sifat kultural tertentu, di antara yang lainnya, dengan memperlihatkan rasa tidak suka tertentu kepada berbagai kebudayaan yang di dalamnya kekuatan memainkan peranan penting.

Elvin Hatch (1983) menganjurkan suatu cara bagi relativisme kultural untuk mengatasi kekurangan-kekurangan dasarnya sambil mempertahankan apa yang dipandangbernilai: dalih umumny’ a untuk mengembangkan toleransi. Hatch mengajukan apa yang dia sebut “prinsip humanistik” sebagai alat untuk menilai kebudayaan lain. Prinsip ini menyatakan bahwa berbagai kebu-dayaan dapat dievaluasi dalam kaitannya dengan apakah ia membahayakan orang atau tidak, baik dengan cara penyiksaan, pengorbanan, perang, represi politik, eksploitasi dan seterusnya. Prinsip ini juga menilai kebudayaan dengan melihat seberapa baik ia menyediakan keperluan material bagi para anggotanya : Sejauh mana manusia bebas dari kemiskinan, kekurangan gizi, penyakit, dan sejenisnya.

Walaupun usulan Hatch nampak merupakan perbaikart.terh-adap rela-tivisme kultural, sayangnya persoalan etis yang rumit itu tidak dapat dipecahkan dengan mudah. Sangat diragukan bahwa versi relativisme kulturalnya Hatch yang sudah banyak dimodifikasi tersebut ini pun dapat diambil sebagai filsafat etis yang dapat diterima sebagai yang benar. Namun disamping penolakan kami kepada kedua versi relativisme kultural ini, kami harus mengakui bahwa relativisme kultural ada gunanya dan diperlukan sebagai semacam premis yang secara praktis memberikan panduan dalam melakukan eksplorasi sifat berbagai sistem sosio-kultural. Karena itu ia mempunyai nilai metodologis, jika tidak etis.Ia mempunyai nilai metodologis karena ia mengharuskan pengujian terhadap pola-pola budaya dalam kaitannya dengan karakter adaptifnya. Tanpa relativisme kultural sebagai alat metodologis, kita akan berhadapan dengan berbagai budaya lain yang mempunyai serangkaian penyangga kultural, yang hasilnya pasti akan mengekalkan ketidaktahuan, daripada menerangkan cara kerja dasar dari berbagai sistem sosio-kultural.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *