Suatu proses upaya penyela­matan kekuatan militer sendiri, atau personel pasukan sendiri, dari ancaman kehancuran berat atau kepu­nahan. Batasan ini mencakup: (1) upaya penyelamat­an suatu eselon militer, sebagian atau keseluruhan, dari bahaya penghancuran oleh lawannya; dan (2) upaya penyelamatan personel militer yang cedera di suatu pertempuran. Dalam riwayatnya, TNI tidak per­nah mengalami kejadian butir pertama tadi, tetapi menjalankan dan memperbaiki upaya butir kedua, khususnya dalam 10 tahun terakhir ini.

Salah satu evakuasi militer dalam pengertian per­tama, misalnya Operasi Dinamo, yang berlangsung mulai tanggal 28—29 Mei 1940 (pada Perang Dunia II) hingga 4 Juni 1940. Pada waktu itu Komando Ting­gi AB Inggris mengevakuasi sekitar 370.000 personel militer (mayoritas Inggris, selain Perancis dan Belan­da) dari pantai kota Dunkerque, Perancis Utara. Eva­kuasi lintas laut menyeberangi Selat Calais ke darat­an Inggris yang berlangsung di tengah serangan Luft­waffe (AU Jerman) itu berjalan lancar, dan disebut “Mukjizat Dunkerque” oleh pihak Sekutu. Walaupun pengunduran diri biasa terjadi, evakuasi dalam for­mat besar yang diorganisasi dalam sebuah komando operasi tersendiri, seperti Operasi Dinamo ini, dapat dikatakan langka. Oleh sebab itu, batasan pengertian evakuasi menjadi lebih tepat pada batasan (2), yaitu. upaya penyelamatan personel yang cedera di medan pertempuran.

Evakuasi medis militer mengalami kemajuan pesat dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, sehingga meng­akibatkan turunnya persentase gugur. Hal ini secara tidak langsung menaikkan moral personel. Kemajuan penting terjadi pada: (1) dukungan atau penyelamat­an medis yang menjangkau front terdepan; (2) sistem evakuasi praktis dan cepat, terutama via udara, de­ngan helikopter yang gampang mendarat dan berto­lak di sembarang tempat; dan (3) gelar jaringan pe­rawatan medik lapangan yang membaik pula.

Pengalaman Amerika Serikat pada Perang Vietnam selama kurun tahun 1966-1971 menunjukkan penu­runan tajam personel gugur (2,6 persen dari jumlah yang cedera) dibandingkan dengan yang terjadi da­lam Perang Dunia II (4,6 persen gugur dari jumlah yang cedera). Dalam perang tersebut, 83 persen dari yang diselamatkan dapat dikembalikan lagi ke dinas- militer.

Selama tahun 1988, evakuasi medik via udara yang” amat mempercepat upaya penyelamatan dilatihkan oleh TNI dengan intensif dalam beberapa kasus.