PENGERTIAN EVALUASI TERAPI PASANGAN DAN KELUARGA – Sebuah meta analisis terhadap 20 studi hasil yang memenuhi standar metodologis yang ketat dan dipilih dengan hati-hati menyimpulkan bahwa secara keseluruhan, terapi pasangan memberikan efek yang bermanfaat bagi banyak masalah hubungan. Kajian komprehensif dalam bidang ini oleh Baucom dkk., (1998), Baucom, Epstein, dan Gordon (2000); Gurman dan Kniskern (1978), Gurman, Kniskern, dan Pinsoff (1986), Jacobson dan Addis (1993), dan Lebow dan Gurman (1995) menghasilkan kesimpulan spesifik tentang hasil dan proses dalam terapi pasangan dan keluarga sebagai berikut.

• Terapi bersama untuk masalah yang dihadapi pasangan tampaknya lebih berhasil daripada terapi individual dengan salah satu orang dari pasangan tersebut. Sekitar 10 persen pasien yang menjalani terapi individual karena masalah pasangan kondisinya memburuk.

• Terapi pasangan behavioral (BCT—Behavioral Couples Therapy, yang memfokuskan pada pelatihan keterampilan komunikasi dan meningkatkan percakapan positif antar pasangan)—dalam lebih dari dua lusin studi di minimal 4 negara telah menunjukkan keberhasilan dalam mengatasi masalah dalam hubungan dan/atau meningkatkan kepuasan pasangan. BCT memiliki efek yang lebih kuat dibanding kelompok tanpa penanganan dan plasebo dan hasil positif tersebut kadang bertahan hingga satu tahun.

• Penambahan komponen kognitif pada BCT (a.1., mendorong empati) tidak menghasilkan penambahan terhadap efek positif tersebut.

• Temuan positif dalam sejumlah kecil studi telah dilaporkan untuk terapi terfokus pada emosi (EFT—Emotion-Focused Therapy), suatu terapi eksperiensialdan untuk terapi psikodinamika berorientasi pencerahan. Kedua pendekatan tersebut memfokuskan untuk mendorong pasangan menggali perasaan dan kebutuhan mereka dan menceritakan aspek-aspek terdalam dari diri mereka tersebut kepada pasangannya. Sebuah studi menemukan tingkat perceraian yang sangat rendah pada pasangan yang ditangani dengan terapi pasangan berorientasi insight. Dalam pemantauan selama 4 tahun, terapi pasangan insight Snyder ternyata lebih superior dari BCT dalam hal tingkat perceraian dan kepuasan perkawinan. Studi lain menunjukkan superioritas terapi eksperiensial atas BCT. Meskipun demikian, EFT dapat tidak memberikan hasil yang bertahan lama, terutama pada pasangan yang mengalami masalah serius dalam hubungan.

• Meskipun secara statistik signifikan, hasil-hasil penelitian terapi pasangan tidak seluruhnya signifikan secara klinis. Contohnya, di semua studi tidak lebih dari separuh pasangan yang ditangani benar-benar bahagia dalam perkawinannya di akhir terapi (meskipun kondisi mereka membaik dari sisi yang sangat statistik). Lebih jauh lagi, hanya sedikit studi yang mencakup pemantauan, dan untuk studi yang mencakup pemantauan—sebagian besar adalah yang ber-orientasi behavioral—menemukan seringnya terjadi kekambuhan dan perceraian. Sebagaimana diperingatkan oleh Jacobson dan Addis, berbagai temuan tersebut semestinya mengurangi antusiasme prematur terhadap efektivitas terapi bersama, terlepas dari–basis teoretisnya.

• Meskipun memfokuskan pada rasa takut yang dialami salah satu dari pasangan, penanganan pemaparan dari Barlow yang mencakup dorongan dan kerja sama dari pasangan, terbukti efektif mengurangi agorafobia dan mencegah kemunduran dalam hubungan perkawinan yang kadang dilaporkan terjadi ketika kondisi pasangan yang mengalami agorafobia membaik.

• Hasil-hasil terapi pasangan secara umum lebih baik bagi pasangan berusia muda dan bila belum dilakukan langkah-langkah menuju perceraian (Temuan ini mungkin inencermilikan masalah perkawinan yang tidak terlalu serius pada pasangan semacam itu).

• Berbagai prediktor terhadap hasil terapi yang buruk mencakup hal yang disebut “ketidakterikatan emosional,” oleh Jacobson dan Addis (1993) yang terwujud dalam buruknya pengomunikasian perasaan dan rendahnya frekuensi aktivitas seksual. Gejala lain prognosis yang buruk dalam terapi pasangan adalah hubungan yang ditandai oleh peran gender tradisional yang dipegang secara kaku ketika sang istri berorientasi pada afiliasi dan hubungan dan sang suami berorientasi utamanya pada pekerjaan dan otonomi. Terakhir, depresi yang dialami salah satu dari pasangan bukan pertanda baik bagi terapi pasangan (meskipun, seperti telah disebutkan, terapi pasangan behavioral dapat berdampak positif pada depresi orang yang bersangkutan dan pada hubungan).

• Pelatihan singkat dalam keterampilan komunikasi dapat meningkatkan kepuasan dalam hubungan di masa mendatang dan bahkan menurunkan angka perceraian bila dibandingkari dengan kelompok kontrol tanpa penanganan. Karena terapi pasangan umumnya lebih berhasil pada pasangan muda dan memiliki keterikatan tinggi, tindakan pencegahan tampaknya sangat masuk akal dan menjanjikan.

• Secara keseluruhan, sebagian besar pendekatan non-behavioral, seperti pendekatan analitis dan humanistik, tidak menjadi subjek penelitian sesering pendekatan be-havioral dan sistem, yang kemungkinan merefleksikan kurang ditekankannya penelitian dalam paradigma tersebut. Johnson dan Greenberg memang menemukan superioritas intervensi pasangan berbasis terapi Gestalt yang memfokuskan untuk mengungkap perasaan dan kebutuhan yang terpendam (terapi berfokus pada emosi yang disebutkan sebelumnya) dibandingkan dengan komponen perlyelesaian masalah dalam terapi pasangan behavioral. Sebagaimana mereka spekulasikan, mungkin penting bagi intervensi pasangan untuk secara langsung berupaya meningkatkan kepercayaan dan sensitivitas terhadap kebutuhan seseorang yang tidak terpenuhi dan berbagai ketakutan yang tersembunyi serta ketakutan dan kebutuhan pasangannya. Para terapis pasangan behavioral semakin memberikan perhatian pada dimensi-dimensi afektif dalam konflik, yang merupakan gejala lainnya dalam gerakan menuju penyatuan berbagai orientasi terapeutik yang saling bertentangan.

• Terlepas dari semakin sering digunakannya istilah terapi “pasangan” daripada “perkawinan”, pada praktiknya belum ada penelitian yang dilakukan terhadap pasangan berj enis kelamin sama atau pasangan heteroseksual yang belum menikah.

• Telah dilakukan beberapa studi mengenai mediasi perceraian, yaitu konsultasi yang dilakukan sebelum perceraian diputuskan. Karena merupakan alternatif atas proses . menyakitkan yang biasa dijalani, mediasi dilakukan oleh orang ketiga (pengacara, konselor, atau orang awam yang terlatih) yang netral dan bertujuan membantu pasangan yang bermasalah mencapai kesepakatan atas hak asuh anak dan penga-turan keuangan sebelum melibatkan pengacara masing-masing pihak. Mediasi dapat membantu pasangan yang sudah berpisah untuk tetap menjalankan fungsinya sebagai orang tua meskipun mereka sedang menuju perceraian. Data mengindikasikan bahwa mediasi dihubungkan dengan: “(1) tingkat persetujuan prasidang yang lebih tinggi; (2) tingkat kepuasan yang lebih tinggi terkait persetujuan yang disepakati; (3) sangat berkurangnya jumlah kasus lanjutan setelah keputusan akhir pengadilan;  (4) meningkatnya kesepakatan hak asuh bersama; dan (5) … berkurangnya pengeluaran publik seperti studi hak asuh dan biaya pengadilan (Sprenkle dan Storm, 1093)”.

Filed under : Bikers Pintar,