PENGERTIAN EVOLUSI AGAMA ADALAH – Kajian ilmiah mengenai evolusi agama telah tertinggal jauh di belakang kajian mengenai evolusi berbagai ciri kehidupan sosial-budaya lainnya. Namun, ada beberapa tulisan yang berharga mengenai evolusi agama yEmg telah dikemukakan, dan sedikit penelitian telah dilakukan yang menyoroti masalah penting ini.

Salah satu usaha yang terkenal untuk mengidentifikasi serangkaian evolusi agama ialah dari Robert Bellah (1964). Bellah mencatat lima tahap dalam evolusi agama: primitif, purbakala, historis, modern awal, danmodem. Agama primitif dikatakannya terisi dengan mitos dan dengan makhluk spiritual. Bellah menguraikan tentang “derajat yang paling tinggi ke mana dunia mitos dihubungkan dengan ciri-ciri yang rinci tentang dunia aktual. Bukan hanya setiap klen dan kelompok lokal yang dirumuskan dalam hubungan dengan tokoh-tokoh nenek-moyang dan peristiwa-peristiwa pemukiman dahulu kala, tapi juga setiap gunung, batuan, dan pohon dijelaskan dalam hubungan dengan makhluk-makhluk mitos” (1964:362-363). Tetapi makhluk -makhluk spiritual itu bukan dewa-dewa karena “mereka tidak menguasai dunia dan tidak disembah” (1964:362). Bellah juga mengemukakanbahwa agama primitif memberi penekanan yang besar atas ritual, dan bahwa dalam pelaksanaan ritual para partisipan diidentifikasikan dengan makhluk-makhluk mitos yang mereka wakili. Agama primitif dikenal tidak memiliki spesialisasi: tidak ada padri, tidak ada jemaah, dan tidak ada penonton; agama dan masyarakat terbaur menjadi satu. Dalam kategorinya mengenai agama purbakala, Bellah menempatkan banyak sistem agama Afrika, Polinesia, dan Dunia Baru, sejalan dengan agamaagama masa awal Timur Tengah kuno, India, dan Cina. Agama-agama purbakala dikarakteristikkan oleh munculnya dewa-dewa, padri-padri, ibadah, kurban, dan sering, konsepsi-konsepsi tentang kerajaan tuhan. Makhlukmakhluk mitos atau spiritual yang karakteristik dalam agama primitif ditransformasikan menjadi dewa-dewa: makhluk-makhluk yang diobyektifkan yang menguasai dunia dan yang patut dihormati dan disembah. Karena itu, “pembedaan di antara manusia sebagai subyek dan dewa-dewa sebagai obyek jauh lebih pasti dibandingkan dengan dalam agama primitif” (1964:365). Karena agama purbakala pada umumnya dijumpai dalam masyarakat-masyarakat yang mempunyai stratifikasi sosial, maka agama menjadi terjalin dengan erat dengan sis tem stratifikasi. Kelompok-kelompok status atas biasanya menuntut status religius yang superior, yang sering menuntut sebagai keturunan ilahi. Agama-agama purbakala dikenal dengan kepadrian yang terspesialisasi dan legitimasi kepemimpinan politik mereka dalam hubungan dengan keagamaan.

Agama historis ialah agama-agama besar dtmia yang timbul pada suatu saat selama atau sesudah masa seribu tahun (millennium) pertama sebelum Kristus. Ciri-ciri pokok agama-agama itu ialah dunia lain (otherworldliness) mereka — penolakan mereka terhadap nilai dunia sekuler dan penetapan suatu dunia eksistensi yang lain (kehidupan di kemudian hari) yang adalah superior dalam nilai terhadap dunia sekuler. Tujuan utama agama-agama historis adalah keselamatan (salvation), dan tindakan religius yang paling penting ialah tindakan mempersiapkan jalan untuk keselamatan. Karena itu agama-agama historis itu menempatkan tekanan yang besar atas alam dunia sekuler yang pada dasarnya berdosa dan menekankan perlunya penghindaran diri religius dari dunia sekuler itu. Bellah mencatatbahwa fenomenon penolakan dunia sesungguhnya tidak terdapat pada agama primitif dan agama purba kala. Agama modem awal timbul dengan adanya Reformasi Protestan. Aga-ma u1i meneruskan pembedaan yang dilakukan agama-agama historis di antara dunia sekuler dan dunia lain itu, maupun perhatiannya yang kuat akan keselamatan, tetapi mengubah cara mencapai keselamatan itu. Bukannya dengan menghindar dari dunia ini, keselamatan itu dapat dicapai melalui keterlibatan langsung dalam masalah-masalah dunia. Karena itu agama modern awal menolak ten-ta penolakan dunia agama-agama historis. Bellah percaya bahwa abad xx sedang mengalami timbulnya agama modern secara gradual. Konsepsinya mengenai tahap modern evolusi agama adalah paling spekulatif dan paling kurang jelas dirumuskan dari semua tahapnya. Dengan agama modern ia maksudkan suatu bentuk kehidupan keagamaan di mana konsep-konsep dan ritual-ritual agama tradisional yang sekurang-kurangnya sebagian telah digantikan dengan kekhawatiran etik humanistik dari berbagai hal yang sekuler. Pada tahap evolusi agama ini, persoalan-persoalan tentang penderitaan akhir manusia semakin banyak dijawab dalam arti yang nonteistik. Jelas bahwa Bellah dapat terus menyebut gejala kemunculan demikian itu suatu aspek agama saja karena ia menggunakan suatu pandangan inklusif tentang agama. Dari sudut pandangan definisi inklusif saya tentang agama, apa yang dilukiskan oleh Bellah itu, jika terjadi menurut cara yang dikemukakannya bukanlah suatu bentuk baru daripada agama, melainkan, merupakan erosi agama secara bertahap dan digantikan oleh sistem-sistem kepercayaan yang bukan agama.

Filed under : Bikers Pintar,