PENGERTIAN EVOLUSI BIOLOGIS VERSUS EVOLUSI SOSIOKULTURAL – Para ilmuwan sosial sejak lama tertarik kepada hubungan antara evolusi biologis dan evolusi sosiokultural. Kedua proses ini mempunyai persamaan dan juga perbedaan signifikan, dan barangkali ada gunanya membahasnya secara garis besar.

Dua kesamaan da sar antara kedua jenis evolusi ini dapat dikenali. Pertama, baik evolusi biologis maupun sosiokultural, keduanya merupakan proses adaptif (juga, dalam pengertian yang tepat di mana kita menggunakan konsep adaptasi dan adaptedness). Bentuk biologis baru, sebagaimana pola sosiokultural baru, pada umumnya muncul sebagai adaptasi terhadap keadaan yang berubah. Kedua, kedua bentuk evolusi tersebut memiliki karakter “ganda” yang diidentifikasi oleh Marshall Sahlins: keduanya memperlihatkan kecenderungan yang mengarah mengikuti berbagai pengaruh yang ada pada banyak jalur-jalur yang spesifik.

Kita dapat beranjak lebih jauh dan berkata bahwa proses evolusi paralel, divergen dan konvergen berlaku baik kepada evolusi biologis maupun evolusi sosiokultural. Ini benar secara teknis, tetapi ia bisa juga menyesatkan, karena kebanyakan evolusi biologis ternyata merupakan evolusi divergen (istilah biologisnya cladogenesis). Kebanyakan evolusibiologis meliputi radiasi adaptif berbagai species pada tingkat phylogenetik yang sama, dan peralihan evolusioner ke tingkat-tingkat phylogenetik yang baru relatif jarang terjadi (Stebbins, 1969, 1974). Sebaliknya, kebanyakan evolusi sosiokultural merupakan evolusi konvergen dan paralel. Ini berarti bahwa evolusionis biologis menghabiskan banyak waktu mereka untuk mengkaji munculnya bentuk-bentuk kehidupan yang unik, sementara evolusionis sosial memusatkan perhatian mereka kepada munculnya pola-pola sosiokultural yang sama di berbagai kawasan dunia (Sanderson, 1990).

Perbedaan kedua meliputi sejauh mana evolusi sosiokultural dapat dikatakan didasarkan atas sebuah proses seleksi alam. Karena banyak evolusi sosiokultural mencakup seleksi terhadap trait-trait yang adaptif, ia juga mencakup semacam proses seleksi alam (cf. Carneiro, 1985). Namun, ini hanya benar secara garis besarnya saja. Secara lebih ketat, cara kerja seleksi alam dalam dunia biologis sangat berbeda dengan cara yang berlaku pada kehidupan sosial. Perbedaannya meliputi sumber perbedaan yang mendasari perbedaan cara kerjanya. Kita telah melihat bahwa dalam evolusi biologis berbagai variasi yang diseleksi untuk dipelihara atau dihambat — mutasi genetik — muncul dengan cara yang betul-betul acak. Walaupun sebagian evolusionis sosial menyatakan bahwa variasi sosiokultural juga muncul dengan cara yang sama (Campbell, 1965; Langton, 1979), kenyataannya sangat berbeda. Ada banyak sekali bukti yang menunjukkan bahwa kebanyakan inovasi sosiokultural dilakukan secara sengaja dan sama sekali tidak acak (Cavalli-Sforza dan Feldman, 1981; Hallpike, 1986).

Dua perbedaan lain antara evolusi dalam dua icenyataan ini juga penting. Salah satunya berkaitan dengan kecepatan perui3ahan. Evolusi sosiokultural jauh lebih cepat, dan diperkirakan terjadi pada 99 persen sejarah manusia (hampir tiga juta tahun), pada jangka waktu itu yang selainnya berubah dengan sangat lamban. Ternyata evolusi sosiokultural berkembang dengan sendirinya, sehingga kecepatan perubahannya sekarang sangat tinggi (kecepatan evolusi sosiokultural yang luar biasa ini jelas terkait dengan kenyataan bahwa berbagai perbedaan sosiokultural lebih bersifat disengaja dan bertujuan daripada acak). Akhirnya, ada proses evolusioner sosiokultural yang dikenal dengan diffusi, yang tidak ada paralelnya dalam dunia biologi. Diffusi meliputi penyeb; tran trait sosiokultural dari satu sistem sosiokultural ke sistem sosiokultural yang lain. Ini dapat terjadi melalui peminjaman secara sengaja atau melalui pemaksaan sejumlah trait oleh masyarakat yang lebih kuat terhadap yang lebih lemah. Diffusi seringkali dilakukan untuk penemuan dalam arti bahwa suatu masyarakat dapat mengambil dari masyarakat lain apa yang dianggap penting untuk mengembangkan dirinya sendiri (Ingold, 1986). Tidak ada persamaan proses ini dalam dunia alamiah. Organisme tidak dapat meminjam gen dari organisme lain untuk mengatasi kondisi lingkungannya yang berubah.

Filed under : Bikers Pintar,