PENGERTIAN EVOLUSI SISTEM KELUARGA MODERN ADALAH – Uraian tentang munculnya keluarga modern adalah uraian yang menarik, dan telah diuraikan dengan sangat baik oleh dua sejarawan sosial kontemporer, yakni Edward Shorter dalam bukunya The Maki of the Modern Family (1975) dan Lawrence Stone. dalam The Scx and Marriage irt En‹,,;land, 1500-1800 (1979). Studi Shorter terpusatkan pada Perancis, tetapi ia percaya bahwa analisisnya dapat diberlakukan untuk kebanyakan masyarakat Eropa Barat. Ia percaya bahwa peralihan ke keluarga modern di kebanyakan masyarakat, Eropa Barat mulai sekitar pertengahan abad xviii. Buku Stone membahas kasus Inggris, dan ia mencatat awal peralihan ke arah modernisasi di sini adalah sekitar seabad lebih awal. Kedua penulis pada dasarnya sepakat bahwa transisi keluarga ini dimulai pada kelas menengah, lalu kelas atas, kemudian merambat ke kelas bawah.

Keluarga Eropa pramodem mempunyai sedikit persamaan dengan keluarga modern dalam hubungan dengan keselumhan warna dan jaringan hubungan keluarga. Pertama-tama, sedikit saja terdapat bukti bahwa hubungan di antara suami dan istri didasarkan pada perasaan bersama yang kuat dan suatu perasaan keterikatan yang kuat. Meskipun sudah ada cinta romantis seperti yang kita kenal dewasa ini, tapiunsur itu tidak umum dipandang sebagai dasar yang memadai bagi perkawinan. Perkawinan diatur oleh keluarga masing-masing pasangan, dan pertimbangan ekonomi menentukan pemilihan p as angan suami atau istri, atau malahjuga keputusan untuk menikah. Jelaslah bahwa persekutuan perkawinan pada dasarnya adalah hubungan ekonomibukannya hubungan perasaan. Sebagaimana dicatat oleh Shorter dalam hubungan ini (1975:57): Prospek kematian agaknya tidak menimbulkan sentimen yang dalam di antara suami dan istri. Di kalangan orang-orang desa di Timur Paris (Seine-et-Marne), ketentuan-ketentuan wasiat khusus jarang dibuat untuk suami atau istri menurut keinginan. Dan ada banyak pasangan petani yang dengan kuat dipersatukan oleh ekonomi bukannya oleh emosi sehingga bila si istri jatuh sakit, maka suaminya pada umumnya menghemat biaya untuk membayar dokter, meskipun ia bersedia “mengalirkan emas” kepada seorang dokter hewan yang datang untuk merawat seekor sapi yang sakit, karena seekor sapi jauh lebih berharga dari seorang istri.

Tentu saja seorang istri adalah berharga — dan dalam pengertian ekonomi. Tenaga kerja rumahnya adalah esensil, dan ia memainkan peranan yang penting sebagai penghasil keturunan. Namun nilainya bagi suaminya berada sedikit di bawah, dan kondisi-kondisi sosial dan ekonomi di Eropa pramodem sestmgguhnya tidak membolehkan berkembangnya perasaan yang kuat dalam hubungan perkawinan.

Hubungan orang tua-anak pra-modem juga sangat berbeda dari rekanrekarmya yang modern. Agaknya sed.ikit saja terdapat ikatan-ikatan sentimental di antara orang tua dan anak-anak mereka. Para Ibu tidak sering mengasuh anak mereka sendiri. Anak-anak pada umumnya langsung disapih sesudah lahir untuk membayar pengasuh yang memelihara anak-anak itu selama setahun atau lebih. Lagi pula anak-anak sering diperlakukan menurut cara yang dewasa ini dipandang sebagai bentuk caci-maki yang keterlaluan. Mereka dibiarkan tidak diperhatikan selama jangka waktu yang panjang, sering digantung dalam pakaian mereka pada kaitan agar tidak mengganggu, dan, sebagaimana dikatakan oleh Shorter, sering dibiarkan “mandi kotoran mereka ‘Nendiri” selama berjam-jam. Sebagai tambahan, mereka pada umumnya terkena segala cara kekerasan yang menyebabkan mereka sering mati atau meng-alami sakit yang parah. Juga terdapat kenyataan bahwa anak-anak dalam keluarga yang sama sering diberinama pertama yang sama. Seorang bayi yang baru lahir dapat diberi nama dari seorang keluarga yang baru saja meninggal, atau dua anak yang hidup dapat mempunyai nama yang sama. I11i menunjukkan tidak adanya konsepsi tentang anak itu sebagai seorang individu yang unik dengan siapa orang tua dapatpempunyai hubungan khusus.

Alasan ketidakpedulian ini atau n-talah sikap kejam terhadap anak-anak harus dicari dalam kondisi-kondisi ekonomi dan sosial yang sulit masa itu. Seperti dikemukakan oleh Stone, tingkat kematian bayi adalah demikian tingginya di Eropa pra-modem sehingga tidak terpikirkan pada seorang ibu untuk menanamkan emosi yang besar pada anak-anaknya sendiri. Agar dapat terpaut secara emosional pada mereka, kemudian melihat mereka mati dalam prop orsi yang demikian tinggi, adalah suatu pengalaman yang terlalu traumatik untuk ditanggung. Jadi, kekurangan kasih sayang yang mendasar pada orang tua bukanlah sesuatu yang dipilih secara sukarela oleh orang tua, tetapi adalah sesuatu yang diperhadapkan kepada Mereka oleh kondisi eksternal. Ketidakpedulian orang tua adalah suatu respons yang dapat diduga (dan adaptif secara psikologis) terhadap kondisi ekonomi yang melemah dan tingkat kematian bayi dan anak yang tinggi.

Suatu ciri keluarga tradisional ialah tidak adanya hak 12->ribadi (privncy) yang mendasar atau keterpisahan (separateness) dari bagian sisa masyarakat. Bentuk keluarga di mana kebanyakan kita sekarang ini hidup —suatu satuan sosial privat yang relatif terpisah dari bagian sisa masyarakat jarang terdapat. Sebagaimana dikemukakan oleh Shorter, keluarga tradisional itu “penuh ditembusi lubang-lubang”. Orang luar dapat berinteraksibebas dengan anggo-ta rumah tangga, dan hubungan di antara anggota keluarga dan orang luar sama eratnya dengan di antara anggota-anggota keluarga itu sendiri.

Filed under : Bikers Pintar,