PENGERTIAN EVOLUSI SOSIOKULTURAL SEBAGAI SEBUAH PROSES ADAPTIF – Sebagian sosiolog menolak sama sekali konsep itu, dengan menyatakan bahwa ia secara inheren merupakan konsep fungsionalis yang jelas mempunyai konotasi konservatif (Zeitlin, 1973; Giddenss, 1981). Para sosiolog ini lalu mengusulkan agar konsep tersebut dibuang. Namun, perombakan radikal tersebut tidak perlu dilakukan. Konsep ini berguna — dan memang, diperlukan — dan terlalu bodoh kalau dibuang. Yang diperlukan bukan pembuangan terhadap konsep tersebut, tetapi klarifikasi yang cermat tentang pengertiannya.

Titik awal yang menentukan adalah seringkali pembedaan yang terlupakan antara adaptasi (adaptation) dan keadaan di mana masyarakat telah beradaptasi (adaptedness). Elliott Sober (1984) telah menegaskan bahwa pembedaan ini penting untuk berpikir tentang evolusi biologis, dan argumennya dapat diperluas kepada evolusi sosiokultural. Perbedaan kedua konsep ini secara essensial adalah perbedaan antara asal-usul suatu trait sosiokultural dan konsekuensi-konsekuensi trait tersebut terhadap pada individu (dan keturunan mereka) yang melahirkannya. Kita mungkin dapat berkata bahwa adaptasi adalah suatu trait sosial yang muncul sebagai akibat adanya kebutuhan, tujuan dan hasrat para individu. Dengan mengatakan seperti ini, trait ini membawa kepada suatu bentuk adaptedness, untuk mengatakan bahwa trait tersebut secara aktual efektif dalam memuaskan kebutuhan, tujuan dan hasrat individu yang melahirkannya sebagai sebuah adaptasi. Sekarang, biasanya keduanya — adaptasi dan adaptedness — saling berhubungan, tetapi seringkali ada perkecualian di sini, dan perkecualian ini sangat signifikan dalam melakukan analisis sosiologis. Untuk mengilustrasikan perbedaan ini, kita dapat memandang adaptasi yang secara aktual membawa kepada adapted-ness, dan tidak sebaliknya, paling tidak dalam perjalanan yang panjang.

Para petani India yang beragama Hindu selama beratus-ratus tahun menganggap lembu sebagai binatang suci yang tidak boleh disembelih dan dikonsumsi. Gejala yang sangat menarik dan seringkali ganjil ini dapat dianggap sebagai sebuah adaptasi yang diciptakan para petani Hindu dalam mengatasi kondisi-kondisi teknologis, demografis, ekonomis dan ekologis yang mereka hadapi sejarahnya yang lebih awal dan terus mereka hadapi pada masa selanjutnya (lihat Topik Khusus pada akhir bab ini). Dari semua yang tampak, adaptasi ini membawa kepada adaptedness sehingga, karena keadaan mereka, para petani Hindu tersebut jauh lebih baik memiliki kepercayaan itu daripada tidak. Jadi, adaptasi dan adaptedness saling berhubungan.

Ini mendorong kita untuk mengakui titik krusial lain yang ditekankan ileh para teoritisi konfli.k: bahwa sebuah pola sosiokultural yang adaptif nungkin tidak menguntungkan secara sama bagi semua individu atau kelompok dalam sebuah masyarakat. Seringkali terjadi sebuah pola yang menguntungkan sebagian individu atau kelompok merupakan pola yang maladaptif bagi sebagian yang lain. Memang, jika sebuah masyarakat semakin kompleks secara evolusioner, maka semakin sering ini terjadi. Kapitalisme industrial pada masa awal. misalnya, adaptif bagi para pemilik perusahaan yang kaya, tetapi sangat maladaptif bagi ribuan pekerja pabrik yang mati karena kelaparan, kurang gizi dan penyakit (Engels, 1973a; aslinya 1845). Dan ini sangat berbeda dengan kapitalisme modern sebagai pola yang adaptif bagi sekelompok kecil penduduk dunia (lihat Bab 9). Adalah sangat penting mengakui bahwa sama sekali tidak tepat mengklaim bahwa adaptedness adalah kualitas yang meningkat sepanjang evolusi sosiokultural. Banyak para evolusionis yang menyamakan evolusi sosiokultural dengan adaptedness yang lebih baik, dengan menyatakan bahwa secara evolusioner masyarakat-masyarakat yang lebih belakangan telah meningkatkan “kapitalis adaptif” mereka. Gagasan ini diajukan dengan sangat serius oleh Talcott Parsons dan para evolusionistungsionalis lainnya, tetapi gagasan ini juga didukung oleh sebagian evolusionis-materialis (cf. Childe, 1936; White, 1959). Namun, buku ini secara keras menolak pandangan tersebut, yang cenderung kepada etnosentrisme dan sulit didukung dengan kriteria obyektif ilmiah (Granovetter, 1979). Bentuk-bentuk sosiokultural baru muncul sebagai adaptasi, tetapi adaptasi yang dipilih ini iebih bersifat adaptasi yang lebih baru daripada adaptasi yang lebih baik.

Akhirnya, kami harus mengakui bahwa tidak semua pola sosiokultural merupakan adaptasi, dan dengan demikian konsep adaptasi tidak memiliki daya-serap universal. Tetapi walaupun kita tidak dapat menggunakan konsep ini pada setiap tempat dan waktu, kita masih jauh lebih baik jika memilikinya daripada tidak. Memang, dengan memiliki pandangan tentang adaptasi sebagai unsur yang mengarahkan, kita akan berada pada posisi mengenali traittrait sosiokultural mana yang bukan merupakan adaptasi dan kenapa demikian.

Filed under : Bikers Pintar,