PENGERTIAN EVOLUSIONISME MULTILINEAR DAN EKOLOGI BUDAYA ADALAH

64 views

PENGERTIAN EVOLUSIONISME MULTILINEAR DAN EKOLOGI BUDAYA ADALAH – Evolusionisme unilinear mengandung persoalan karena pendekatan ini tidak dapat diuji atau (ketika dihadapkan dengan kasus-kasus etnografi) ternyata jelas tidak universal. Evolusionisme unilinear bersandar pada asumsi bahwa segala sesuatu itu terjadi dan berubah di mana-mana di seluruh dunia dengan cara yang sama, jika tak dapat dikatakan pada waktu yang sama. Menurut pendekatan unilinear yang ketat, perubahan kebudayami tertentu hanya memiliki satu penjelasan, meskipun para ahli teori mungkin tidak sependapat mengenai bagaimana bunyi penjelasan tersebut.

Evolusionisme universal adalah teori yang kurang kuat karena sukar diperdebatkan. Banyak orang mungkin setuju bahwa teknologi semakin maju dan masyarakat semakin kompleks bersamaan dengan berjalannya waktu, tetapi apa yang dapat dilakukan dengan informasi tersebut? Yang diperlukan adalah pendekatan yang lebih canggih dan kontroversil.

Evolusionisme multilinear tidak dapat dipisahkan dari nama Julian Steward. Tokoh yang dikenal sebagai pendiri evolusionisme multilinear ini tidak berusaha memperkuat kembali teori evolusi klasik dan juga tak berupaya membangun sintesis umum mengenai evolusi kebudayaan. Ia menyebut dirinya sendiri sebagai `evolusionis multilinear’. Ia terutama memerhatikan garis-garis spesifik perkembangan dalam masyarakat atau kelompok masyarakat spesifik yang memiliki bersama apa yang ia sebut `inti kebudayaan’. Inti kebudayaan adalah “konstelasi ciri-ciri yang paling terikat dengan kegiatan subsistensi dan tatanan ekonomi. Inti tersebut meliputi pola-pola sosial, politik, dan agama yang secara empiris ditentukan menjadi berhubungan erat dengan tatanan ini” (1955: 37). Atas dasar itu Steward berpendapat bahwa kebudayaan yang berevolusi di lembah Indus, Tigris-Eufrat, atau Nil, memiliki inti kebudayaan yang sama. Evolusionisme multilinear diusulkan oleh Julian Steward sebagai upaya eksplisit untuk keluar dari generalisasi yang kabur dari evolusionisme universal dan problematika evolusionisme unilinear. Evolusionisme multilinear ini berupaya mernecahkan persoalan dengan mendudukkan pencetus teknologi (technological trajectories) dan evolusi sosial secara tersebar di berbagai bagian dunia. Pencetus-pencetus teknologi itu secara esensial dibatasi oleh keadaan ekologi, yakni, oleh determinasi historis dari teknologi dan faktor pembatas lebih jauh yang sangat penting dari lingkungan alam. Jadi, evolusionisme multilinear memiliki ikatan longgar dengan gagasan ekologi budaya. Pendekatan ini juga memiliki beberapa persamaan dengan pemikiran Darwin dalam biologi, melalui analoginya dengan teori biologi mengenai spesiasi.

Terobosan yang penting terjadi pada tahun 1955, ketika tulisannya yang penting diterbitkan dalam bentuk buku. Meski ia terus mengkaji masyarakat berteknologi maju, karya etnografinya mengenai orang Sho-shone di California dan tulisan-tulisan komparatifnya tentang masyarakat berburu-meramu (yang menjadi bagian penting dari tulisannya, Theory of Culture Change) memantapkan pendiriannYa. Steward, kemudian Elman Service (1963) menunjukka— bahwa pemburu-peramu me-ngembangkan cara yang khas untuk mengekploitasi sumber daya alam untuk keuntungan maksimal melalui teknologi tetapi juga melalui migrasi musiman, penataan teritorial, dan pengaturan struktur kelompok yang disesuaikan dengan tujuan.

Sementara itu, pendekatan yang agak berbeda tapi juga multilinear dan ekologis adalah yang dikembangkan oleh George Peter Murclock, pertama di Universitas Yale dan kemudian di Universitas1Sittsburgh. Murdock membangun Cross-Cultural Survey, kemudian Human Relations Area Files, yang melalui lembaga itu ia mencoba menghimpun fakta kebudayaan dari semua kebudayaan di dunia. Tujuannya adalah untuk memungkinkan para peneliti membangun korelasi distribusi unsur-unsur kebudayaan dan menjelaskan pencetus historis secara umum dan bagi daerah-daerah kebudayaan tertentu atau tipe-tipe kebudayaan yang sama. Karyanya yang terbaik dalam hal ini adalah monografi berjudul Social Structure (1949), yang menggunakan sampel 250 masyarakat representatif untuk tujuan tersebut. Di antara ahli-ahli lain yang mengikuti jejak Murdock, yang terpenting adalah Melvin dan Carol Ember di HRAF (New Haven Connecticut), dan Jack Goody di Cambridge.

Baiklah kita ilustrasikan metode dan teori Murdock dengan sebuah contoh. Diketahui sebelum karya Murdock bahwa aturan-aturan keturunan tertentu lebih umum ditemukan dengan pola-pola tertentu tempat tinggal setelah perkawinan, misalnya, keturunan patrilineal dengan aturan tempat tinggal virilokal (dengan suami), atau keturunan matrilineal baik dengan uxorilokal (dengan istri) atau tempat tinggal viri-avunkulokal (dengan saudara laki-laki ibu dari suami). Murdock membangun secara cermat korelasi statistik antara pola-pola tersebut, dan kemudian berupaya untuk menjelaskan alasan-alasan di balik polapola itu, dan menghubungkannya secara statistik dengan pola-pola yang lain, seperti cara-cara subsistensi dan terminologi kekerabatan.

Katakanlah, misalnya, pertanian dengan menggunakan bajak umumnya dipraktikkan oleh perempuan. Perempuan dalam masyarakat yang demikian mungkin cenderung meneruskan pengetahuan dan ke-trampilannya itu kepada anak perempuan mereka, yang akan membawa para suami mereka tinggal bersama setelah perkawinan. Berdasarkan fakta, kelompok matrilineal akan dibangun, dan suatu ideologi keturunan matrilineal diduga akan muncul. Keturunan matrilineal lebih jauh berkorelasi baik dengan apa yang disebut Murdock “terminologi tipe Iroquois”, di mana sepupu-silang (cross-cousins) dibedakan dari sepupu sejajar (parallel cousins), atau dengan “terminologi tipe Crow”, di mana, sebagai tambahan, saudara perempuan ayah dan anak perempuan dari saudara perempuan ayah disebut dengan istilah yang sama. Alasannya adalah bahwa saudara perernpuan ayah dari orang yang bersangkutan dan anak perempuan dari saudara perempuan ayah akan tinggal di tempat yang sama. Jika keturunan matrilineal diketahui, mereka juga akan termasuk dalam kelompok kerabat matrilineal yang sama. Sebenarnya, “terminologi tipe-Crow” masuk akal juga dalam masyarakat matrilineal, dan dan lebih kecil kemungkinannya pada tipe-tipe masyarakat yang lain. Murdock mengemukakan pendapat bahwa tatkala mode aturan keturunan berubah, maka demikian pula halnya terminologi kekerabatan. Karena itu, kita bisa menempatkan hubungan kausal dan evolusioner antara unsur-unsur kebudayaan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *