PENGERTIAN EVOLUSIONISME UNIVERSAL ADALAH – Evolusionisme universal muncul pada awal abad 20 sebagai tanda `melunaknya’ prinsip-prinsip evolusionisme unilinear. Dalam konteks bukti-bukti etnografi dan arkeologi yang baru, fase-fase unilinear yang kaku, yang konsisten secara lintas-budaya dan di seluruh dunia, tidak dapat lagi dipertahankan (Bower, 1986). Sebagai penggantinya, fasefase evolusi yang luas, “universal” dikemukakan, seperti pembagian klasik antara ” savagery” ,”barbarism” , dan “civilization” (yang dipelopori antara lain oleh Morgan). Perdebatan mengenai isu-isu seperti matrilinealitas

rsus patrilinealitas menjadi terlalu spekulatif untuk diterima pada masa selanjutnya. Selain itu, isu yang juga tersingkir adalah detail analisis Frazer tentang totemisme (Barnard, 2000). Sangat penting dicatat adalah bahwa evolusionisme universal yang muncul pada tahun 1930-an itu lebih banyak berutang budi pada materialisme Morgan daripada kajian Frazer tentang estetika dan esoteris dalam jiwa manusia. Generasi baru evolusionis bereaksi terhadap fungsionalis, dan khususnya terhadap para antropolog yang kebanyakan relativis pada masa itu. Tokoh-tokoh utama evolusionisme universal adalah ahli arkeologi Australia V. Gordon Childe dan antropolog Amerika Leslie White. Paham politik mereka yang kiri mendorong mereka untuk melihat kembali teori-teori Marx dan Engels, dan para antropolog, khususnya Morgan, yang memengaruhi Marx dan Engels.

V. Gordon Childe cukup dikenal sebagai anggota berhaluan kiri pada Partai Buruh Australia, dan dari pandangannya terlihat bahwa ia tidak menyukai universitas-universitas konservatif Australia di mana ia pemah bekerja. Ia pindah ke Inggris tahun 1921 dan melakukan banyak perjalanan di Eropa Sebelum memperoleh pekerjaan dalam arkeologi pada tahun 1927 di Edinburgh. Ia kemudian pindah ke Institut Arkeologi di London, sebelum kembali ke Australia hingga akhir kariernya. Di Inggris, Childe menjadi terkenal, baik sebagai arkelog lapangan maupun sebagai teoretisi. Gagasannya secara luas diterima dalam arkeologi mungkin karena evolusionisme universal lebih merupakan teori yang lebih alamiah dalam arkeologi daripada dalam antropologi kebudayaan. Masa-masa kehidupan manusia, dilihat dari kacamata teknologi mereka, nampak lebih jelas dalam catatan arkeologi; dan keyakinan Childe bahwasanya prasejarah dan sejarah harus mengenai subjek yang sarna, tetapi dengan metodologi yang berbeda, adalah atraktif bagi arkeolog niasa itu. Kedudukan Leslie White sebagai evolusionis dalam dominasi rela-tivisme lebih problematik daripada kedudukan Childe. Selama empat puluh tahun (1930 hingga 1970) ia mengajar di Universitas Michigan, di mana dia secara lambat laun membangun pendekatan dan penganut `neo-evolusionis’. Meskipun ia menerbitkan lima karya etnografi tentang orang Pueblo, White ternyata lebih dikenal sebagai teoretisi. Dalam serangkaian tulisannya yang dihimpun dan diberi judul The Science of Culture (1949), ia mengemukakan konsep kebudayaan sebagai sistem yang terintegrasi, dinamik, dan simbolik yang komponennya yang paling penting adalah teknologi. Ia mengusulkan nama kajian tentang kebudayaan sebagai `kulturologi’. Ia juga mengambil alih materi subjek dari psikologi, tetapi menentang teori psikologi konvensional dalam memandang sejarah sebagai terdiri dari kekuatan-kekuatan kebudayaan yang digerakkan oleh teknologi.

Dalam bukunya, The Evolution of Culture (1959),White memusatkan perhatiannya pada rangkaian evolusi dari `Revolusi Primata’ hiugga jatuhnya kekaisaran Romawi. Ia beranggapan bahwa `energradalah mekanisme kunci dari evolusi kebudayaan. Dalam fase yang paling awal, energi ada dalam bentuk tubuh manusia itu sendiri. Kemudian, manusia baik laki-laki maupun perempuan menemukan sumber-sumber yang lain: api, air, angin, dan selanjutnya. Kemajuan dalam pembuatan peralatan, dalam domestikasi hewan dan tumbuh-tumbuhan, dan dalam intensifikasi pertanian semuanya meningkatkan efisiensi dan memengaruhi evolusi kebudayaan.

Filed under : Bikers Pintar,