Advertisement

Sebutir pembicaraan tentang faisafah sebagai salah satu bidang humaniora perlu dipusatkan pada yang langsung ada relevansinya dengan permasalahan tentang pengembangan bangsa. Jadi khususnya yang berkaitan dengan kebudayaan nasional. Pada tempatnyalah kalau kita menyentuh masalah falsafah kebudayaan, dengan rincian sebagai berikut:

Pertama, apa prinsip-prinsip umum yang mendasari bentuk-bentuk kehidupan sebagai perwujudan eksistensi manusia Indonesia?

Advertisement

Kedua, perubahan kebudayaan dalam masa transisi dewasa ini mengarah kepada pembentukan wujud-wujud kehidupan yang sesuai dengan lingkungan baru.

Ketiga, apakah yang menjadi prinsip utama kebudayaan nasionai di masa mendatang agar dapat mewujudkan suatu kesatuan yang utuh?

Yang dimaksud dengan “prinsip-prinsip sebagai dasar dari bentukbentuk kehidupan manusia” pada butir pertama iaiah, ruang, waktu, kausalitas, struktur, dan tujuan. Lambang-lambang yang disebut di atas merupakan perwujudan kesadaran manusia, dan pada hakikatnya tercipta berdasarkan prinsip-prinsip tersebut. Sebagai bentuk hidup, lambanglambang itu merupakan kesatuan dalam pengalaman, pemahaman, dan pengertian.

Konsep-konsep metafisis dalam falsafah kebudayaan membuka kemungkinan untuk mentransendensi pengetahuan empiris tentang aneka ragam kebudayaan yang pluralisms di Indonesia sehingga dapat ditarik garis-garis pemikiran umum mengenai kebudayaan nasional. Sehubungan dengan persoalan ini, juga dipertanyakan persepsi dan konsepsi tentang ruang, waktu, struktur, kausalitas, dan tujuan.

Secara khusus persoalan itu dijawab dalam kosmogoni, falsafah sejarah, antologi fenomenologi, dan lain sebagainya. Di sini kita menghadapi pula masalah: bagaimana alam pikiran khususnya dan kesadaran pada umumnya dibentuk (denkformen). Suatu contoh dari falsafah sejarah iaiah bahwa uesadaran waktu distrukturkan sebagai gerakan siklis, baru kemudian menjadi linear (garis lurus) karena telah mempunyai telos (tujuan) atau eschaton (perkara terakhir).

Penjelasan mengenai butir kedua adalah sebagai berikut: Pengalaman bersama selama menghayati masa transisi dewasa ini iaiah secara terusmenerus kita dihadapkan kepada masalah ketimpangan, kesenjangan, penyimpangan, dan lain sebagainya. Semua ini menggejalakan bahasa dinamika masyarakat sebagai dampak laju pembangunan menimbulkan

perubahan hubungan sosial dan bergerak ke struktur baru.

Ada masalah cultural gap: ketimpangan yang terjadi atara sikap dan nilai hidup dengan kemajuan teknologi disebabkan oleh belum terbentuknya suatu kebudayaan teknologi yang sesuai, yakni kebudayaan yang memolakan sikap manusia sesuai dengan tuntutan pemakaian teknologi modern.

Apabila adaptasi gay a hidup terhadap industri belum memadai, maka proses industrialisasi sendiri akan mengalami banyak hambatan. Justru di sini kita menjumpai permasalahan kunci, yakni bahwa pengembangan teknologi tidak dapat meninggalkan pembentukan kepribadi^n baru (sic).

Telah umum diketahui bahwa kebudayaan teknologi antara lain menuntut adanya kebudayaan expertise (keahlian) yang menjamin pengelolaan dan pembaharuan teknologi. Salah satu segi esensial dari kebudayaan expertise iaiah profesionalisme yang canggih.

Agar kebudayaan industrial dapat tumbuh dan berkembang sebaikbaiknya, perlu diciptakan kebudayaan birokrasi yang menjamin efektivitas dan efisiensinya.

Persoalan-persoalan di atas mengundang pengkajian yang luas dan mendalam, tidak hanya dalam bidang ilmu kebudayaan, tetapi juga dalam falsafah kebudayaan. Ini tidak lain karena eratnya hubungan dengan falsafah pembangunan.

Berkenaan dengan pertanyaan pada butir ketiga, penjelasannya adalah sebagai berikut: Bertolak dari anggapan bahwa proses konseptualisasi kebudayaan nasional masih memerlukan pembulatan, maka falsafah kebudayaan diharapkan memberikan sumbangannya dalam rnendefinisikan kebudayaan nasional itu, berkaitan dengan tujuan umum pembangunan nasional. Sehingga dengan pandangan secara teleologis itu, akan dapat ditetapkan strukturnya sebagai suatu sistem atau kesatuan yang tercipta oleh sintesis dari unsur-unsurnya yang beraneka ragam.

Kalaupun penghayatan kebudayaan nasional kemudian menentukan peradaban Indonesia serta gaya hidupnya, maka gaya hidup ini hanya merupakan suatu kesatuan bilamana ada etos yang mendasarinya, atau lebih tepat, menjiwainya. Etos di sini menunjuk kepada totalitas prinsipprinsip yang membudidayakan seluruh sikap hidup sehingga mewujudkan pola-pola tertentu.

Jelaslah bahwa peranan pokok akan dijalankan oleh nilai-nilai yang teiah dan akan mendasari kehidupan nasional serta orde konsensusnya. Pancasila sebagai ideologi negara secara implisit memuat nilai-nilai tersebut di atas. Masalah yang perlu diatasi ialah, bagaimana mentranforrnasikannya-sebagai etos peradaban kita.

Incoming search terms:

  • pengertian cultural gap
  • falsafah kebudayaan
  • culture gap adalah proses
  • pengertian gap culture

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian cultural gap
  • falsafah kebudayaan
  • culture gap adalah proses
  • pengertian gap culture