Dalam peng­ajaran bahasa asing berarti kata yang memiliki ben­tuk hampir sama tetapi mempunyai arti berbeda. Ke­samaan rupa atau bentuk ini dapat menimbulkan ke­sulitan bagi pelajar karena mungkin ia akan menggu­nakannya dalam arti yang berbeda. Misalnya kata “prestasi” dalam bahasa Indonesia dan kata “pres­tige” dalam bahasa Inggris dapat dikatakan “saha­bat palsu” karena mempunyai rupa hampir sama te­tapi artinya jauh berbeda. Istilah orang Maluku untuk menyebut kelom­pok kekerabatan yang terdiri atas klen kecil patrili­neal keturunan nenek moyang yang sama. Jumlah anggota fam 50 sampai 70 orang lebih, terdiri atas se­mua laki-laki, semua perempuan yang belum meni­kah, dan para perempuan yang menjadi istri laki-laki anggota fam. Para anggota fam masih dapat menge­tahui hubungan kekerabatannya satu sama lain dan .mereka saling mengenal, karena mereka menempati wilayah tempat tinggal yang sama dan berdekatan, wa­laupun tidak serumah atau sepekarangan. Pada ma­sa lalu, wilayah tempat tinggal yang berdekatan ini diperlukan untuk menghimpun kekuatan bila terjadi peperangan dengan warga kelompok kekerabatan dari desa atau fam lain.

Warga fam menganut adat eksogami, artinya war­ga suatu fam harus menikah dengan warga klen kecil lain. Warga yang melanggar pantangan ini dikenai sanksi adat. Seorang perempuan yang menikah keluar dari kelompok famnya dan menjadi warga fam pihak suaminya. Tempat tinggal setelah menikah juga di ke­diaman kerabat suami (patrilokal).

Nama suatu fam diturunkan dari seorang kakek moyang kepada keturunannya melalui garis laki-laki. Seorang istri memakai nama fam suami, dan anak- anak hasil perkawinan memakai fam ayahnya. Seka­jang, nama fam ini dapat diketahui melalui nama belakang yang dipergunakan seseorang. Pada jaman penjajahan, pemerintah Belanda yang telah berkuasa pada abad ke-16 di Maluku memakai nama fam (dari kata familie) sebagai nama keluarga resmi para kawula di daerah Hindia Belanda. Nama resmi ini diperlukan oleh para penyebar agama Kris­ten untuk pencatatan warga yang telah memeluk aga­ma Kristen. Sistem penamaan dengan nama belakang atau nama keluarga sebenarnya adalah budaya Ero­pa, yang berbeda dengan sistem penamaan orang Asia. Namun sistem penamaan seperti ini diterapkan oleh pemerintah jajahan untuk kepentingan pencatatan penduduk, khususnya orang Indonesia di lembaga res­mi, seperti sekolah dan kantor.

Selain mengatur sistem perkawinan, fam juga mengatur kehidupan ekonomi para warganya, yaitu dengan mengalokasikan tanah pertanian sebagai sum­ber mata pencaharian. Tanah milik suatu fam dina­makan tanah dati. Di daerah Allang di Ambon, ada tiga sistem pemilikan tanah, yaitu: (1) tanah yang di­miliki desa, (2) tanah dati yang masih di bawah pe­nguasaan hak ulayat desa, dan (3) tanah pribadi yang dapat dimiliki kepala keluarga secara pribadi.

Di daerah Maluku, antara lain di Ambon, terda­pat tiga macam fam yang kedudukannya berbeda- beda, yaitu fam asli, fam pendatang, dan fam asing. Fam asli menduduki tempat tertinggi dalam sistem stratifikasi sosial setempat. Keturunan anggota fam asli dapat menelusuri silsilahnya sampai ke tingkat ne­nek moyang yang mendirikan kelompok kerabat, se­hingga mereka berhak atas tanah dati. Kedua fam lain­nya terbentuk kemudian setelah datang orang dari luar.

Selain di daerah Maluku, istilah fam juga ada di Kepulauan Kei, Tanimbar, dan daerah pantai utara Irian Jaya. Istilah fam di pantai utara Irian Jaya me­rupakan unsur bahasa yang dibawa orang Ambon dari tanah asal mereka pada masa penjajahan. Di Kepu­lauan Tanimbar, fam adalah bagian klen besar. Da­lam sistem perkawinan orang Kei, ada fam tertentu yang menyediakan calon istri bagi laki-laki asal fam lain, dan ada fam yang menerima calon istri. Fam pemberi gadis disebut man ohoi, sedangkan peneri­ma gadis jan-ur. Hubungan kedua fam (yang disebut jab waen) ini tidak seimbang, karena pihak pemberi gadis berkedudukan lebih tinggi daripada penerima gadis. Hal ini dinyatakan dalam bentuk penghormatan dan pemberian hadiah dari pihak rendah kepada yang lebih tinggi. Penghormatan ini terlihat dalam peristi­wa upacara atau pesta adat yang berkaitan dengan ke­lahiran, perkawinan, kematian, dan sebagainya.

Dengan demikian, untuk menjamin kelangsungan beredarnya wanita yang dijadikan calon istri bagi suatu fam, harus ada paling sedikit tiga fam. Fam A memberi gadis kepada fam B, fam B memberi gadis kepada fam C, dan fam C memberi gadis kepada fam A. Tetapi dalam kenyataannya, sistem perkawinan orang Kei ini tidak dapat dikatakan sederhana. Selain pengaturan fam-fam yang memberi dan menerima ga­dis, juga ada aturan lain, seperti larangan kawin sum­bang dengan sanksi adat. Walaupun nama fam men­jadi petunjuk tentang hubungan kekerabatan yang membolehkan atau tidak membolehkan perkawinan, ternyata ada nama fam sama tanpa ikatan kekerabat­an yang melarang mereka kawin. Di Kepulauan Kei, asal usul nama fam dapat dite­lusuri melalui cerita tentang tujuh orang laki-laki ber­saudara, yang berasal dari satu kakek moyang yang menikah dengan tujuh orang perempuan dari kakek moyang yang sama pula. Ketujuh laki-laki itu mem­punyai nama berlainan, dan keturunan ketujuh orang itu dapat diketahui dari nama yang berbeda itu. Pa­da masyarakat Kei, laki-laki tertua dari ketujuh ber­saudara itu menempati kedudukan tertinggi dalam hierarki keturunan fam. Oleh sebab itu, kedudukan, kekuasaan, dan wibawa keturunan fam asal laki-laki tertua itu adalah yang paling tinggi dibandingkan dengan keenam keturunan fam lainnya.