PENGERTIAN FEODALISME DAN DESPOTISME TIMUR ADALAH

37 views

PENGERTIAN FEODALISME DAN DESPOTISME TIMUR ADALAH – Semua masyarakat agraris adalah masyarakat berorganisa.si negara yang sangat terstratifikasi. Akan tetapi, seperti halnya masyarakat agraris yang berbeda dalam cara-cara organisasi ekonomi dan sosial, demikian pula mereka berbeda dalam struktur negara. Ada dua tipe negara agraris yang terus menarik perhatian para ilmuwart sosial: negara feodal dan apa yang dapat disebut negara agrobirokrasi.

Di dalam masyarakat feodal pemilikan tanah adalah pribadi, d.an bangsawan pem.ilik tanah menguasai suatu kelas petani yang berada di bawahnya; atas kelas ini ia menjalankan kaidah politik dan yurisdiksi hukum. Akan tetapi, pemilikan tanah demikian bukannya tak bersyarat atau mutlak, yang sekali dicapai dan seterusnya tanpa embel-embel. Malah, tanah dapat diperoleh dalam bentuk hadiah (fief). Suatu hadiah ialah tanah yang diberikan. oleh seorang bangsawan tinggi kepada bangsawan yang lebih rendah atau sebagai imbalan atas pelaksanaan kewajiban-kewajiban ter tent u, khususnya pelayanan militer atau perlindungan pribadi. Mereka yang dihadiahi suatu fief juga memperoleh yurisdiksi hukum atas petani-petani yang bekerja di atas tanah hadiah itu. Dengan demikian, pemilikan dan pengawasan atas tanah itu berkaitan erat dengan lembaga politik yang dikenal sebagai vassalage. Vassalage ialah ikatan pribadi di antara tuan tanah-tuan-tanah yang peringkatnya tidak sama. Vassalage berbentuk suatu kontrak yang mengikat pihakpihak itu ke dalam kewajiban bersama dan disimbolkan oleh surnpah setia pribadi. Melalui lembaga ini, suatu hirarki bangsawan yang kompleks ditetapkan, mulai dari vasal peringkat terendah di bagian dasar sampai kepada raja pada puncaknya. Pada prinsipnya raja mungkin saja pemilik semua tanah, tetapi sesungguhnya tanah ini dapat saja diberikan sebagai hadiah kepada serangkaiah bangsawan berbagai peringkat. Setiap bangsawan menjalankan yurisdiksi hanya atas tanah-tanah yang telah dihadiahkan kepadanya. Vassalage dan fief, dengan demikian, n-lerupakan suatu jenis sistem politik tertentu yang dicirikan oleh adanya desentralisasi, yang oleh Perry Anderson (1974a) disebut pengkotak-kotakan kedaulatan (parcellization of sovereignty) di kalangan hirarkhi bangsawan. Bukannya menanamkan kekuasaan dalam suatu negara yang terkoordinasi secara sentral, pemerintahan feodal menyebarkannya di kalangan sejun-tlah bangsawan, yang masing-masing mempuyai yurisdiksi yang dibatasi secara ketat atas suatu daerah geografis yang terbatas dan atas sejumlah orang yang terbatas. Karena sifat pemerintahanfeodal yang desentralistis itu, maka tempat pemukiman bangsawan terletak di pedalaman (yakni, dalam istana mereka), dan suatu ideologi yang menjunjung kebajikan kehidupan pedesaan menyertai praktek ini. Sistem feodal yang sesungguhnya yang cocok dengan uraian di atas tetap bertipe masyarakat agraris. Memang, hanya ada dua contoh masyarakat feodal yang pada umumnya diakui oleh para sejarawan. Pro totipe feodalisme yang terdapat di Eropa Barat sejak kira-kira abad ke -9 sampai abad ke-15. Sebagai tambahan, para sejaravvan pada umumnya sepakat bahwa suatu tipe feodalisme telah ada di Jepang sejak kira-kira abad ke-14 sampai ke-19. Meskipun terdapat perbedaan-perbedaan lokal, sistem feodal Eropa dan Jepang adalah sangat sama. Dalam kedua kasus kita jumpai ciri-ctri essensial feodalisme (P. Anderson 1974b:413):

Kaitan antara kekuasaan militer, pemilikan tanah yang bersyarat dan yurisdiksi tuan-besar Hirarkhi yang diperingkatkan di antara bangsawan tin.ggi, bangsawan menengah, dan bawahan untuk membentuk suatu rantai kerajaan muda dan ketergantungan. Suatu otokrasi ksatria berkuda merupakan kelas penguasa turun-temurun. Apakah yang melandasi rezim feodal? Kebanyakan sarjana dalam masalah ini mengemukakanbahwa bentuk pemerintahan feodal timbul sebagai respons terhadap kebutuhan militer yang baru yang dijumpai setelah runtuhnya kerajaan besar yang tersentralisasi. Feodalisme Eropa, misalnya, telah terbentuk sebagai akibat jatuhnya Roma. Runtuhnya wewenang politik roma telah membuat komunitas-komunitas mudah diserang oleh suku-suku Jerman yang merampas dan memangsa banyak dari apa yang dulunya masuk kerajaan Romawi. Karena itulah maka perlu untuk memadukan pemerintahan politik dan spesialisasi militer sebagai suatu cara berlindung terhadap serangan-serangan itu.

Sementara banyak masyarakat agraris disebut feodal, kebanyakan telah mengembangkan sistem-sistem politik yang sangat kontras de-ngan sifat rezim feodal yang terdesentralisasi. Memang, kecenderungan umum dalam masyarakat-masyarakat agraris adalah untuk sentralisasi, bukannya fragmentasi, kekuasaan. Banyak peradaban agraris ditandai oleh bentuk negara yang sangat tersentralisasi, birokratis, dan berkuasa secara intensif di mana massa sangat tersubordinasi terhadap suatu elit yang kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *