Advertisement

Adalah dimilikinya suatu mo­men dipol listrik oleh suatu kristal; arah momen dipol ini dapat dibalik dengan membalik arah medan listrik luar. Perilaku ferolistrik pertama kali dijumpai oleh J. Valasek dalam tahun 1921, ketika ia mengamati ling­kar histeresis dielektrik dalam garam Rochelle. Selan­jutnya feroelektrisitas ditemukan dalam garam-kalium dihidrogen fosfat (1935), dan dalam kristal barium titanat (1943).  Suatu sistem yang terdiri atas titik bermuatan listrik positif dan titik bermuatan negatif sama besar, yang kc ianya terpisah pada suatu jarak, disebut dipol. Momen dipol ialah hasilkah jarak dan salah satu muatan listrik itu. Semua kristal terbentuk dengan pengulangan ber­kala atom-atom yang saling terikat oleh gaya antara­tom. Ada kristal yang atom-atomnya bermuatan lis­trik negatif dan positif; atom bermuatan ini disebut ion. Bila sebuah ion positif dan sebuah ion negatif terikat oleh gaya antaratom itu sedemikian rupa se­hingga memiliki suatu jarak, kedua ion itu akan mem- be tuk suatu dipol. Bila semua dipol dalam kristal itu sa ..a arahnya, kristal sebagai suatu keseluruhan akan memiliki momen dipol. Momen dipol per satuan vo­lume yang terdapat bila tak ada medan listrik luar di­sebut polarisasi sertamerta. Dipol-dipol yang mampu bertukar arah bila kristal ditaruh dalam suatu medan listrik luar dan mengikut­sertakan seluruh struktur kristal, sehingga akhirnya semua dipol akan mengarah sebaliknya, dikatakan | bersifat ferolistrik. Jika medan luar yang berlawanan dengan arah di­pol itu perlahan-lahan dinaikkan dari nol, dipol-dipol ! itu baru bertukar arah pada kuat medan listrik luar J tertentu. Bila kemudian medan luar dikecilkan men- I jadi nol dan kemudian dibalik dan dibesarkan lagi, arah dipol itu tidak segera berbalik. Jadi, bila polari­sasi dialurkan terhadap medan listrik luar, akan di­peroleh lingkar histeresis dielektrik, yang sepintas la­lu mirip lingkar histeresis feromagnetik. Karena ke­miripan itulah gejala ini disebut feroelektrisitas. Hen­daknya diingat bahwa bahan ferolistrik tidak selalu mengandung besi atau logam mirip besi (seperti ni- ke kobalt, dll.). Juga mekanisme feroelektrisitas dan feromagnetisme lain sekali.

Sifat terpenting suatu bahan ferolistrik adalah po­larisasi sertamerta yang baru dapat dibalik bila me­dan luarnya cukup kuat. Semua bahan ferolistrik me­nunjukkan gejala piezoelektrisitas. Kebanyakan ba­han ferolistrik memiliki suhu kritis, artinya, di atas suhu ini bahan itu tak lagi bersifat ferolistrik, karena aaa peralihan struktur. Suhu kritis ini disebut titik Curie.

Advertisement

Sering kali kristal ferolistrik terbelah dalam dua de nain, dengan arah dipol yang berbeda tetapi ber­kaitan. Dalam penerapan, digunakan potongan ba­han polikristalin dengan kristal-kristal dalam berba­gai sikap, bukannya digunakan satu kristal tunggal. Bahan ferolistrik digunakan antara lain sebagai trans- duser elektromekanis dalam mikrofon.

Bahan antiferolistrik, amonium dihidrogen fosfat dan natrium niobat, secara struktural mirip bahan fe­rolistrik, namun dipol-dipolnya bersifat antiparalel, dan karenanya tak memiliki momen dipol netto. Se­ring kali bahan tersebut mengalami perubahan men- jac i ferolistrik oleh perubahan suhu atau oleh medan listrik luar.

Advertisement