Suatu zat kimia yang dilepaskan ke ling­kungan oleh beberapa jenis hewan yang mempenga­ruhi tingkah laku atau perkembangan individu lain­nya dari jenis yang sama. Senyawa kimia ini mempu­nyai berat molekul 100—300. Berdasarkan fungsinya, feromon terbagi atas dua kelompok. Kelompok per­tama adalah feromon yang dihasilkan segera setelah sistem saraf penerima bereaksi karena adanya respons tingkah laku. Kelompok ini banyak ditemukan pada serangga dan fungsinya untuk menarik lawan jenis, penunjuk jalan, atau sebagai tanda bahaya. Selain itu, feromon ini juga berperanan dalam tingkah laku sek­sual, kumpulan, jarak antarindividu dalam suatu po­pulasi yang padat, dan pengenalan individu yang se­jenis. Umumnya perubahan orientasi dan pergerakan serangga disebabkan feromon ini.

Reaksi feromon kelompok kedua lebih lambat dari kelompok pertama. Feromon ini bereaksi terhadap sistem endokrin dan reproduksi yang menyebabkan adanya perubahan fisiologis yang dapat menghambat atau memacu tingkah laku selanjutnya. Sebagai con­toh, suatu jenis belalang jantan dewasa mengeluar­kan substansi yang mempercepat pertumbuhan dan menyebabkan perkembangan yang bersamaan pada belalang muda. Akibatnya, pada populasi belalang yang besar proses metamorfosis terjadi pada saat yang bersamaan. Dalam bidang pertanian, feromon sudah mulai dimanfaatkan sebagai bahan pengendali hama. Metodenya didasarkan atas sifat feromonnya. iMisal- nya, menangkap serangga jantan dengan umpan fe­romon yang dihasilkan serangga betinanya; atau me­ngacaukan komunikasi antara individu serangga ha­ma. Cara pengendalian hama secara hayati ini tidak menimbulkan bahaya bagi lingkungan.