Atau FFI, adalah acara tahunan yang diselenggarakan sebagai baro­meter prestasi artistik dan juga sebagai apresiasi bagi masyarakat luas. FFI menitikberatkan pemilihan atas mutu dari unsur-unsur pendukung sebuah film. Peng­hargaan yang diberikan pada tersebut berupa Piala Citra (lihat Citra, Piala).

FFI diselenggarakan pertama kali tahun 1955. Yang kedua tahun 1950 dan ketiga tahun 1967. Ketiga FFI yang terputus-putus itu disponsori Persatuan Para Produser dengan tujuan promosi. Baru sejak tahun 1973, FFI diselenggarakan secara teratur setiap tahun, dengan sponsor Yayasan Nasional Festival Film Indo­nesia (YNFI) yang kemudian beralih ke Dewan Film Nasional. Tujuannya pun lebih dari sekadar promosi yaitu mengukur prestasi artistik.

Sistem Penjurian. Kriteria yang harus dipenuhi un­tuk menentukan film terbaik adalah skenario, editing, sutradara, dan sinematografi. Pada tahun-talr awal­nya, dewan juri disodori semua film peserta lang­sung menentukan pemenangnya. Sistem penjurian ini tidak efisien, karena dalam waktu relatif singkat juri harus melihat puluhan film dan harus selalu awas pa­da unsur-unsur film yang menonjol. Sistem penjurian seperti ini mengalami perubahan sejak tahun 1976, dengan membentuk dewan penilai awal yang terdiri atas belasan wartawan film ibu ko­ta. Mereka mengusulkan beberapa film unggulan ke­pada dewan juri akhir.

Tahun berikutnya, keterlibatan wartawan ini di­tiadakan dan sistem penjurian sebelumnya diberlaku­kan kembali. Pada tahun 1978 sistem penjurian lebih mendasarkan penilaian pada sistem angka. Dalam FFI 1979, dewan juri sendiri yang mengumumkan nomi­nasi seluruh peserta festival. Cara ini masih diguna­kan dalam dua tahun selanjutnya, disertai penciutan jumlah juri dari sembilan menjadi tujuh orang.

Seperti pernah terjadi beberapa kali sebelumnya, pada tahun 1984 film terbaik kembali tak ditentukan. Keputusan ini tidak memuaskan kalangan film, se­hingga akhirnya diputuskan bahwa dalam setiap FFI harus ada film terbaik. Untuk itu dibentuklah kelom­pok penilai awal. Kelompok ini diberi nama Komite Pengaju Unggulan (KPU) dengan anggota 18 orang film dari semua unsur. KPU hanya berusia satu ta­hun, selanjutnya diganti dengan Komite Seleksi yang beranggotakan sembilan orang. Tugasnya memilih 11 sampai 19 film berkualitas, baik secara keseluruhan maupun per bagian, yang pantas dicalonkan sebagai pemenang Citra. Selain itu, komite ini juga bertugas memberi rekomendasi kepada para calon pemenang piala-piala khusus, walaupun pemenangnya tidak se­lalu harus berasal dari usulan tersebut.

Penggunaan sistem penilaian dua tahap dalam FFI flioniru Academy Award. Bedanya, penilaian tahap pertama dalam festival perebutan piala Oscar itu ber- ke? an lebih demokratis karena dilakukan oleh 4.000 orang yang terdiri atas sutradara, editor, penata arti­stik, dan lain-lain. Di Indonesia, penilaian tahap per­tama tidak dilakukan secara luas di kalangan film, te­tapi hanya oleh sembilan anggota Komite Seleksi. Cara penilaian seperti ini mendekati cara penilaian di Can­nes dan Berlin, yakni direktur festival memilih 20 film untuk diserahkan kepada dewan juri. Penilaian tahap kedua untuk film-film pilihan Komite Seleksi dilaku- Yc oleh dewan juri. Dalam tahap inilah penjurian FFI m ip dengan Academy Award.

penilaian tahap pertama terhadap suatu film pe­serta yang dilakukan Komite Seleksi ditekankan pa­da unsur-unsur film yang lebih condong pada segi tek­nis. Penilaian terhadap bobot budaya dari film itu di­lakukan pada tahap berikutnya oleh dewan juri. Selain memilih film, aktor, dan aktris terbaik, da­lam FFI dipilih juga aktor dan aktris pembantu, su­tradara, skenario, cerita asli film, tata fotografi, pe­nyuntingan, tata musik, tata suara, dan tata artistik terbaik. Kepada mereka diberikan penghargaan be­rupa Piala Citra. Tetapi selain itu, dibagikan pula Piala Widya untuk sinema elektronik (video cerita dan noncerita) dan film noncerita (dokumenter, pendidik­an/penyuluhan/penerangan, dan pariwisata), Piala S. Tutur untuk poster film, serta Piala Mitra untuk kri­tik film (film cerita dan noncerita). Penyelenggaraan FFI. Berbeda dengan tahun- tahun sebelumnya, ketika FFI diselenggarakan seca­ra bergilir di berbagai kota besar di Indonesia, sejak tahun 1986 kegiatan itu dipusatkan di Jakarta. Selain itu telah pula dibentuk Panitia Tetap Festival Film Indonesia (Pantap FFI) yang mengurus organisasi pe­laksanaan FFI. Masa kerja Pantap ini lima tahun. Tu­gasnya melaksanakan FFI setiap tahun. Acara-acara penting yang merupakan program utama FFI seperti pengumuman film pilihan, film unggulan (nominasi), dan pemenang Piala Citra diadakan di Jakarta. Na­mun sebagian acara penunjang dilakukan di berba­gai kota di Indonesia secara serentak, baik di kota besar maupun kecil.

Acara-acara penunjang biasanya melibatkan para artis film. Kegiatan yang biasa dilakukan adalah pa­wai, diskusi, dan kunjungan ke bioskop-bioskop yang sedang memutar film pilihan FFI. Beberapa acara tambahan lainnya adalah lomba akting, bazar, kun­jungan ke panti-panti asuhan yang dilakukan oleh pa­ra artis, dan lain-lain. Sejak tahun 1986 diselengga­rakan Kampanye Film Nasional. Acara ini merupa­kan forum tahunan produser dan pekerja film untuk menyatakan sikap dan harapan mereka terhadap du­nia perf^man umumnya dan peluang mereka di da­lam festival Film Indonesia. Dalam kampanye itu ha­dir ara pendukung film yang dikampanyekan, seperti pemain, sutradara, produser, wartawan, serta masya­rakat umum.