Suatu bentuk religi yang berdasarkan kepercayaan akan adanya jiwa dalam benda-benda tertentu, dengan segala aktivitas keagamaannya gu­na memuja benda-benda berjiwa itu. Pada abad ke-18, seorang ahli sejarah dan ahli politik bangsa Perancis, C. de Brosses mengemukakan pandangannya, bahwa pemujaan terhadap benda-benda yang dianggap ber­jiwa itu merupakan salah satu bentuk religi tertua. Re­ligi semacam ini dinamakannya fetisisme, dari kata Inggris fetish, jimat, yang berasal dari kata Latin fae- ticius, artinya buatan. Pada kala itu, anggapan bah­wa fetisisme merupakan bentuk religi tertua sebelum adanya politeisme dan monoteisme menjadi umum di kalangan ahli di Eropa. Namun ada pula ahli yang mengecam pandangan ini, dan beranggapan bahwa ke­percayaan dan penyembahan terhadap kekuatan dan gejala alamlah yang merupakan religi tertua.

Pada abad ke-19, seorang ahli antropologi, J. Lub­bock, mengemukakan teori religinya yang bersifat evo- lusionistis. Ahli ini beranggapan bahwa religi manu­sia berkembang melalui berbagai tingkat, mulai dari ateisme—fetisisme—totemisme (pemujaan terhadap binatang atau tumbuh-tumbuhan)—antropomorfisme (pemujaan terhadap kekuatan alam, roh yang diang­gap mempunyai sifat serupa manusia)—monoteisme. Teori ini tidak menjadi terkenal dalam dunia ilmu pengetahuan atau dalam ilmu antropologi khusus­nya.

Orang Mentawai yang mendiami Pulau Siberut, Sipora, Pagai Utara, dan Pagai Selatan di Lautan Hin­dia, yang termasuk wilayah Propinsi Sumatra Barat, mempunyai kepercayaan serupa dengan fetisisme. Me­reka percaya bahwa roh-roh nenek moyang yang ber­nama Simagre bersemayam di sebuah pulau yang jauh di seberang lautan. Roh-roh itu pada waktu tertentu kembali ke kampung mereka. Ketika kembali, roh ittf masuk ke suatu benda yang mereka namakan buluat, berupa lingkaran daun rumbia. Buluat yang dihuni oleh roh-roh leluhur itulah yang selalu dipuja.

Apabila mereka akan berburu dan berharap akan berhasil mendapatkan binatang buruan, mereka me­masukkan sesajen ke dalam buluat yang diperuntuk­kan bagi roh tadi. Sesaji itu sekaligus menjadi per­tanda bersyukur dan pemujaan kepada leluhur yang telah memberi kehidupan kepada mereka. Yang da­pat berhubungan dengan roh-roh itu hanyalah para dukun (sikerei). Sistem kepercayaan dan aktivitas pe­mujaan kepada benda-benda yang memiliki roh itu dalam masyarakat Mentawai dikenal dengan nama “agama” Sabulungan. Sabulungan berasal dari kata sa, yang berarti “kumpulan,” dan bulung, yang ber­arti “daun.” Jadi Sabulungan berarti dedaunan yang mempunyai kekuatan gaib.

Incoming search terms:

  • Pengertian fetisisme
  • fetisisme
  • arti fetisisme
  • fetitisme
  • contoh fetisisme
  • terangkan yang dimaksud fetisisme
  • pengertian fetitisme
  • fetisisme adalah
  • kepercayaan fetisisme
  • jelaskan tentang totemisnedan fetiesme

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • Pengertian fetisisme
  • fetisisme
  • arti fetisisme
  • fetitisme
  • contoh fetisisme
  • terangkan yang dimaksud fetisisme
  • pengertian fetitisme
  • fetisisme adalah
  • kepercayaan fetisisme
  • jelaskan tentang totemisnedan fetiesme