Advertisement

Dapat dikatakan sebagai suatu penemuan tek­nologi modern paling spektakuler yang melahirkan berbagai kemungkinan. Film memiliki berbagai arti yang saling berkaitan. Pertama, dalam pengertian ki­mia fisik dan teknik, film berarti selaput halus. Pe­ngertian ini dapat dicontohkan, misalnya pada sela­put tipis cat atau pada lapisan tipis yang biasa dipa­kai untuk melindungi benda-benda seperti misalnya dokumen (laminasi). Dalam fotografi dan sinemato­grafi film berarti bahan yang dipakai untuk segala se­suatu yang berkaitan dengan foto. Film juga mem­punyai pengertian paling umum, yaitu untuk mena­makan serangkaian gambar yang diambil dari objek yang bergerak. Gambar objek itu memperlihatkan suatu seri gerakan atau momen yang berlangsung se­cara terus menerus, kemudian diproyeksikan kesebuah layar dengan memutarnya dalam kecepatan ter­tentu sehingga menghasilkan sebuah gambar hidup.

Film dalam batasan sinematografi sepanjang seja­rahnya memberikan keluasan tema bila dilihat dari isi dan sasaran atau tujuannya. Terdapat berbagai jenis’ film, di antaranya film instruktif, film penerangan, film jurnal, film gambar atau animasi, film boneka, film iklan, film dokumenter, dan film cerita.

Advertisement

Film instruktif dibuat dengan isi berupa pengarah­an yang berkaitan dengan sebuah pekerjaan atau tu­gas. Bentuk film ini bisa berupa animasi, boneka atau film yang diperankan oleh aktor atau aktris.

Film penerangan merupakan Film yang memberi ke­jelasan suatu hal, misalnya film yang mengisahkan pentingnya program keluarga berencana atau film pembangunan lainnya. Biasanya film ini diperankan oleh para pemain dengan imbuhan dialog yang berisi penjelasan. Atau dapat juga filmnya ditampilkan da­lam bentuk gambar-gambar bisu dengan tambahan ke­terangan berupa narasi (cerita) yang dibacakan.

Film jurnal dibuat untuk mendukung sebuah be­rita. Film ini bisa diartikan sebagai film dokumenter, misalnya film-film yang ditayangkan dalam acara “Dunia dalam Berita TVRI”.

Film gambar atau animasi dibuat dari gambar- gambar tangan (ilustrasi). Gambar-gambar ini dibuat satu per satu dengan memperhatikan kesinambungan gerak sehingga ketika diputar rangkaian gerak dalam gambar itu muncul sebagai satu gerakan dalam film. Film animasi yang populer adalah film-film Walt Dis­ney, seperti Donald Duck, dan Sleeping Beauty.

Film boneka ditampilkan dengan pemain berupa boneka. Kadang-kadang beberapa boneka dimainkan oleh seorang “dalang” sekaligus di atas panggung. Panggung dapat bercitra realistis (suatu kenyataan) bisa pula fantasi (khayalan). Pelopor film boneka ada­lah Emile Cole 1905. Contoh tayangan film ini misal­nya film seri TVRI Si Unyil dan produk Muppet Show.

Film iklan isinya mempropagandakan produk- produk tertentu. Yang ditawarkan produk benda atau jasa. Film iklan umumnya dimainkan oleh bintang- bintang ternama untuk menarik minat penontonnya sehingga diharapkan dapat menaikkan omzet produk itu. Misalnya Charles Bronson mengiklankan Tancho Mandom, Andi Meriem Matalata mengiklankan su­su Dancow. Film ini dapat pula berupa animasi atau film boneka. Di Indonesia penayangan film iklan ba­nyak dilakukan pada gedung bioskop. Pada tahun 1970-an TVRI mempunyai program penayangan iklan, tetapi kemudian acara tersebut dihentikan. Tetapi para pengusaha tidak perlu khawatir untuk mempropagan­dakan produknya, karena selain bioskop sekarang telah muncul stasiun televisi swasta yang sebagian acara­nya memang diperuntukkan bagi penayangan iklan. Televisi swasta ini dikelola oleh PT Rajawali Citra Te­levisi Indonesia (RCTI).

Film dokumenter berisikan rekaman segala sesua­tu sesuai dengan apa yang dilihat. Biasanya film ini berisikan peristiwa penting yang diperkirakan tak akan terulang kembali. Film dokumenter dibuat dengan per­hitungan matang, dengan editing, dengan credit title (daftar para pembuat film), dan sebagainya. Film-film ini dapat berkisah tentang dunia satwa atau pemba­karan jenazah di Bali (ngaben).

Film cerita adalah film yang berisi kisah manusia (roman) yang dari awal sampai akhir merupakan .uatu keutuhan cerita dan dapat memberikan kepuasan emosi kepada penontonnya. Film cerita dapat dipu­tar di gedung bioskop atau dibikin untuk acara tele­visi. Sebuah film cerita biasanya dimainkan oleh se­jumlah pemeran (aktor dan aktris) dengan dukungan pemain lain. Film cerita dapat berupa satu film de­ngan satu masa putar, dapat pula berupa film serial dengan masa putar lebih dari satu kali. Film serial biasanya ditujukan untuk penayangan televisi.

Untuk membuat sebuah film cerita, dibutuhkan suatu kerja kolektif. Untuk pembuatan film yang baik dibutuhkan saling mendukung antarunsur dalam ko­lektivitas. Unsur pokok itu adalah penulis skenario, sutradara, bintang film, juru kamera, juru tata sua­ra, dan produser.

Penulis skenario (scenarioman) bertugas menyusun alur cerita (plot), dari garis besarnya sampai bagian yang sekecil-kecilnya. Ia juga menyusun dialog yang selaras dengan gerak dan setting yang digambarkan dalam penulisan skenarionya, sehingga dapat dikata­kan bahwa sebuah skenario film yang baik adalah se­buah film dalam bentuk tertulis (literer). Pada awal­nya penulis skenario menghasilkan skenario kasar atau dr ct screenplay, yang setelah dikaji kembali berubah menjadi catatan cerita yang dapat dijalankan dalam film. Hal-hal yang dituntut dari seorang skenario film adalah ketelitian, daya imajinasi, dan kreativitas, di samping pengetahuan mengenai teknik pengungkapan film. Skenario dapat dikatakan dasar pembuatan film.

Sutradara berperanan sebagai pemegang pimpinan dalam pembuatan film. Bidang kerjanya tidak hanya pada satu segi saja, melainkan pada seluruh pembuat­an film. Sutradara memimpin pembuatan skenario, permainan para bintang film yang mendukung film bersangkutan, pengambilan gambar-gambar oleh ju­ru kamera, perekaman suara oleh juru rekam, pe­nyusunan gambar oleh penyusun film sampai seluruh film selesai. Karena itu seorang sutradara dituntut mempunyai pengetahuan bidang perfilman, mempu­nyai kepribadian yang masak, dapat berorganisasi dan memiliki kreativitas serta daya artistik yang me­madai.

Bintang film adalah pemegang peran (pemain) da­lam film. Seorang bintang film dituntut mempunyai kemampuan akting sesuai dengan apa yang telah di­tuliskan dalam skenario serta sejalan dengan apa yang diinginkan oleh sutradara. Namun tidak mustahil se­orang bintang film diperbolehkan mengembangkan kemampuan aktingnya dalam sebuah adegan, di luar apa yang ditulis skenario, sejauh masih berada dalam jalur cerita.

Ada berbagai macam kategori bintang film. Ting­kat teratas adalah bintang utama {main star atau main plot). Ia adalah pemain yang memerankan tokoh uta­ma yang ada dalam cerita dan menjadi andalan ke­bagusan sebuah film. Bintang utama didampingi bin­tang pembantu atau pemeran pembantu yang biasa disebut co-star (substar atau subplot). Pemeran pembantu adalah bintang film yang memainkan tokoh yang dekat dengan tokoh utama. Bintang ini tidak ha­rus seorang pemeran, dapat juga seekor hewan kesa­yangan. Bintang utama dan bintang pembantu didu­kung oleh bintang samping atau aktor/aktris pendu­kung, yang biasa disebut side star atau side plot. La­lu semua itu masih mendapat dukungan dari bintang- bintang pelengkap yang biasa disebut figuran {figu­rant).

Juru kamera {cameraman atau cinematographer) bertugas mengambil gambar-gambar untuk disusun menjadi sebuah film. Ia bertanggung jawab sepenuh­nya atas segala segi fotografis film yang dibuat. Un­tuk membuat gambar-gambar film seorang juru ka­mera dibantu oleh director of photography, yaitu orang yang ahli dalam pemakaian peralatan foto, dan orang yang ahli menjalankan kamera (camera opera­tor), juga oleh focus fuller atau camera assistant. Kerja juru kamera masih dibantu oleh tenaga teknik yang mempersiapkan segala peralatan yang digunakan.

Juru tata suara bertugas mengatur berbagai suara dalam sebuah film. Suara dalam sebuah film dapat berupa suara alam, musik dan berbagai bunyi lain­nya. Seorang juru tata suara harus mempunyai kepe­kaan bunyi dan karakter suara yang tinggi. Dalam pe­kerjaannya penata suara (sound engineer, sound man) dibantu oleh beberapa tenaga seperti ahli mikrofon (boom man), juru dubbing (sound mixer), orang yang bertugas mengumpulkan suara yang telah direkam oleh juru rekam pada pita-pita yang terpisah ke da­lam satu pita induk {master sound track). Setelah un­sur bunyi tersusun dan direkam dalam pita, pita sua­ra itu dilekatkan pada pita film. Dengan begitu keti­ka film diputar, suara akan muncul secara bersamaan dengan gambar.

Produser bertanggung-jawab atas modal yangdi­pakai dalam pembuatan sebuah film. Produser me­miliki beberapa wewenang dan tugas. Wewenangnya mencari sutradara yang sesuai, bersama sutradara mencari bintang film, juru kamera, dan juru tata sua­ra. Tugasnya antara lain mengurus perizinan pem­buatan film sampai soal distribusi dan peredarannya. Bagi produser, film, selain benda seni, juga merupa­kan barang dagangan.

 

Sejarah.

Orang pertama yang menerapkan peralat­an fotografi dalam bidang perfilman adalah Eadweard Muybridge, petualang Inggris yang berimigrasi ke {Ca­lifornia pada tahun 1849. Awalnya adalah kegemar­an bertaruh balapan kuda. Pada tahun 1977, Mu­ybridge menempatkan 12 kamera sepanjang jalur ba­lapan, dan merentangkan tali-tali menyeberangi jalur. Setiap melewatinya kuda diabadikan oleh satu kame­ra. Muybridge merealisasikan semua gerakan asli dan memproyeksikannya dengan lentera ajaib. Selama 20 tahun sejak itu, Muybridge meneruskan pengambilan gambar dan memproyeksikannya menjadi gambar- gambar bergerak. Pada tahun 1882 seorang Perancis, Etienne Jules Marey, mengambil gambar bergerak dengan satu kamera. Ide ini diambil dari ide Muy­bridge. Marey membuat sebuah senapan fotografi yang dapat menampilkan 12 gambar dalam satu de­tik.

Perkembangan film bergerak berlanjut dengan ce­pat, apalagi setelah penemuan film negatif transpa­ran. Perkembangan terus berlanjut dengan ditemukan­nya mesin-mesin sinema pertama. Pada tahun 1888, Thomas A. Edison menemukan kamera gambar ber­gerak yang bernama kinetograf. Kemudian tahun 1985 dua bersaudara Perancis, Auguste dan Louis Lumiere, mengembangkan penemuan Edison sehingga ditemu­kan peralatan yang dapat mengambil gambar berge­rak (film), memperbanyak, serta memproyeksikan ke layar {screen play).

Penemuan demi penemuan terus berkembang, apa­lagi setelah penemuan Lumiere mengundang banyak peminat produser film karena keberhasilannya me­nyajikan film yang baik saat itu. Pada awal abad ke-20, produksi film Perancis mempunyai peranan penting di dunia, bahkan merupakan pembuat film kolosal pertama hasil karya Charles Pathe.

Perang Dunia I menghancurkan industri film Ero­pa dan pasaran internasional, dan memungkinkan per­filman Amerika Serikat mencapai keberhasilan. Ke­tika perang berakhir, Hollywood mendominasi per­filman dunia. Teknologi film pun mencapai kesem­purnaan, sampai kemudian ditemukan teknologi yang mampu memadukan gambar dan suara (1926-1930), suatu penemuan yang menandakan berakhirnya pe­riode film bisu. Kemudian teknologi film berwarna semakin memacu gairah para masyarakat film. Juga berkembangnya film-film untuk siaran televisi dan film-film tiga dimensi. Dalam teknologi suara mun­cul teknologi dolby stereo yang membuat suara film bermunculan di semua sisi gedung bioskop.

Perkembangan dunia perfilman memacu masyara­kat film untuk membuat festival-festival film yang umumnya diadakan secara periodik. Di Amerika Se­rikat diadakan kompetisi piala Oscar, Academy Award, di Perancis festival film Cannes, dan di Indo­nesia festival film yang memperebutkan piala Citra.

Incoming search terms:

  • arti film
  • pengertian film
  • pengertian film menurut para ahli
  • arti dari film
  • apa yang dimaksud dengan film
  • definisi film
  • pengertian film iklan
  • apa yang dimaksud film iklan
  • yg dimaksud dengan film dan iklan
  • arti series dan film

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • arti film
  • pengertian film
  • pengertian film menurut para ahli
  • arti dari film
  • apa yang dimaksud dengan film
  • definisi film
  • pengertian film iklan
  • apa yang dimaksud film iklan
  • yg dimaksud dengan film dan iklan
  • arti series dan film