Advertisement

Merupakan filsafat ten­tang proses pendidikan atau filsafat tentang ilmu pen­didikan. Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, filsafat pendidikan mengambil bentuk filsafat tentang proses pendidikan seperti yang dilakukan filsuf Aris­toteles dan John Locke, yaitu sebagai bagian sistem filsafat dalam konteks teori etika, politik, epistemo­logi, dan metafisik. Akhir-akhir ini karena pengaruh filsafat analitik, filsafat pendidikan cenderung berben- tuk filsafat tentang ilmu pendidikan. Bentuk ini ber­kembang di institut dan fakultas pendidikan dalam konteks apa yang disebut dasar-dasar pendidikan. Bentuk ini lebih banyak berhubungan dengan bagian ilmu pendidikan lainnya, yaitu sejarah pendidikan, psikologi dan sosiologi, daripada dengan bagian fil­safat lainnya, seperti etika, metafisika, dan episte­mologi.

Seperti bidang filsafat umumnya, filsafat pendidik­an berkembang dalam berbagai aliran pemikiran. Yang paling menonjol adalah aliran filsafat analitik, eksistensialisme, pragmatisme, dan sejumlah pende­katan individual lainnya. Dapat dikatakan bahwa tak ada yang disebut filsafat pendidikan, yang ada hanya­lah filsafat tentang pendidikan, yang dapat digolong­kan dengan cara berbeda-beda. Filsafat ini tidak me­lukiskan, membandingkan atau menjelaskan semba­rang usaha atau sistem pendidikan, masa lalu atau ma­sa kini selain yang menyangkut usaha penemuan se­jarahnya yang penyelidikannya diserahkan kepada se­jarah dan sosiologi pendidikan. Filsafat pendidikan analitik merupakan “meta” bagi ilmu pendidikan, yaitu bagi semua penyelidikan dan pemikiran tentang pendidikan, dalam arti tidak berusaha mengemuka­kan proposisi substantif tentang pendidikan baik fak­tual maupun normatif. Tugasnya adalah melakukan analisis, yaitu mendefinisikan atau menjelaskan kon­sep pendidikan, seperti mengajar, indoktrinasi, ke­mampuan dan sifat, termasuk konsep tentang pendi­dikan itu sendiri; menjernihkan dan mengupas slogan pendidikan; mengeksplorasi model yang digunakan dalam berpikir tentang pendidikan, misalnya pertum­buhan; melakukan analisis dan evaluasi terhadap argumen dan metode yang digunakan untuk menda­patkan kesimpulan tentang pendidikan, baik oleh gu­ru, administrator, filsuf, ilmuwan maupun orang awam. Untuk melaksanakan tugasnya, filsafat anali­tik menggunakan peralatan logika dan linguistik, ju­ga teknik analisis yang berbeda-beda antara filsuf sa­tu dan filsuf lainnya.

Advertisement

Filsafat normatif atau teori pendidikan lebih ba­nyak mengemukakan pandangan tentang pendidikan apa yang sebaiknya diberikan adalah disposisi apa yang sebaiknya diolah dan dikembangkan, dan me­ngapa; bagaimana, oleh siapa dan apa bentuk pelaksanaannya. Tetapi tidak semua teori semacam ini pan­tas dianggap bersifat filsafat. Beberapa teori berusa­ha membantu perkembangan disposisi yang diperlu­kan oleh masyarakat dengan metode yang ditentukan oleh kebudayaan. Hal ini berarti bahwa baik tujuan maupun cara mendidik ditentukan oleh tradisi kultu­ral yang berlaku. Beberapa teori lainnya dalam mem­bantu mengolah dan mengembangkan disposisi tetap berpedoman pada kebudayaan yang berlaku, tetapi mempertimbangkan pengalaman dan ilmu, dalam me­nentukan metode yang akan digunakan. Teori pendi­dikan yang lebih komprehensif menyandarkan pan­dangan tujuan dan metode pendidikan, bukan pada kebudayaan yang berlaku atau pada hasil kompromi, tetapi pada premis dasar sesungguhnya mengenai ma­nusia dan lingkungan hidupnya, dan pada premis da­sar normatif tentang apa yang baik dan benar bagi manusia dalam berusaha dan berbuat.

Kedua jenis teori itu dinamakan filsafat pendidikan, tetapi sesungguhnya yang bersifat filsafat adalah yang berdasarkan nalar dan filsafat, sedangkan yang ke­dua lebih tepat disebut ajaran tentang pendidikan. Da­lam teori pendidikan bersifat normatif filsafat, di sam­ping menganalisis jenis yang dijelaskan di atas, ter­dapat juga jenis proposisi berikut: (1) premis dasar bersifat normatif tentang apa yang baik dan benar; (2) premis dasar sesungguhnya tentang manusia dan lingkungan hidupnya; (3) kesimpulan didasarkan atas kedua jenis premis, tentang disposisi pendidikan yang sebaiknya dibantu pengembangannya; (4) premis fak­tual lebih lanjut tentang psikologi belajar dan metode mengajar; (5) kesimpulan lebih lanjut tentang meto­de yang sebaiknya digunakan oleh pendidikan.

Filsafat analitik, spekulatif atau normatif biasanya berkembang dalam masyarakat yang telah mengenal sistem pendidikan dan mungkin saja dapat menjalan­kan berbagai peranan tertentu. Pertama, filsafat mungkin dapat mengalihkan perhatiannya kepada pendidikan sehingga menghasilkan filsafat pendidikan yang baik dan pantas menjadi bagian ilmu pendidik­an. Kedua, filsafat umum adalah salah satu mata pe­lajaran dalam kurikulum perguruan tinggi, sehingga filsafat pendidikan dapat dijadikan bagian dari kuri­kulum pendidikan guru, jika para guru ingin berpi­kir dengan jelas dan hati-hati tentang apa yang mere­ka kerjakan. Ketiga, dalam suatu masyarakat hanya berlaku satu sistem pendidikan yang didukung oleh satu teori pendidikan, para filsuf mungkin dapat me­lakukan empat hal berkenaan dengan pendidikan: (1) menganalisis konsep dan pemikiran yang digunakan berkenaan dengan pendidikan agar pemikiran orang banyak tentang pendidikan menjadi jelas, eksplisit, dan logis; (2) berusaha membantu sistem yang sedang berlaku dengan mempersiapkan argumen filsafat ba­gi disposisi yang hendak dicapai dan metode yang akan digunakan; (3) mengupas dan mengecam sistem pen­didikan yang sedang berlaku dan berusaha untuk memperbaikinya dipandang dari sudut berbagai teori filsafat yang dianggap cocok dan baik; (4) mengajar­kan logika dan filsafat kepada para calon pendidik dan orang tua murid dengan harapan akan diterap­kan pada masalah pendidikan. Keempat, dalam ma­syarakat pluralistik para filsuf dapat membantu para pendidik di bidang moral, ilmu, sejarah, estetika, dan agama dengan mempersiapkan filsafat tentang mora­litas, ilmu, sejarah, seni atau agama, yang kemudian menarik kesimpulan tentang tujuan dan metode meng­ajarnya. Juga para filsuf berpikir secara filsafat ten­tang ilmu pendidikan dengan mempertanyakan apa­kah ilmu pendidikan benar-benar suatu disiplin ilmu; apa yang menjadi pokok persoalannya; apa metode yang dipakai termasuk metode apa yang tepat dipa­kai untuk filsafat pendidikan. Kelima, dalam masya­rakat yang sedang berkembang atau yang baru mer­deka, para filsuf dapat menyiapkan suatu filsafat nor­matif yang baru bagi sistem pendidikannya.

 

Incoming search terms:

  • filsafat normatif
  • pengertian filsafat normatif
  • filosofis normativ
  • pengertian filisofia normatik
  • definisi filsafat pendidikan
  • pengertian sifat filosofis normative
  • filsafat adalah normatif
  • filosia normatik
  • apa maksud filosofis normative
  • tujuan filosofis normatif

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • filsafat normatif
  • pengertian filsafat normatif
  • filosofis normativ
  • pengertian filisofia normatik
  • definisi filsafat pendidikan
  • pengertian sifat filosofis normative
  • filsafat adalah normatif
  • filosia normatik
  • apa maksud filosofis normative
  • tujuan filosofis normatif