Advertisement

Ialah filsuf pertama filsafat Barat pada abad ke-6 SM. Beberapa ahli sejarah enggan menggunakan istilah ini karena agak mengacaukan. Kata alam (bahasa Latinnya natura) dekat dengan kata natus, artinya telah dilahirkan, yang bernada pasif. Nama itu sebenarnya akan diberikan pada usaha pa­ra filsuf pertama itu mencari fisis (Yunani: physis) yang bermakna aktif, yaitu proses kelahiran, proses pertumbuhan dan kejadian kosmos atau dunia. Bagi orang Yunani kosmos itu tersusun oleh semacam intelek yang mengatur. Filsuf-filsuf pertama itu ber­asal dari daerah Asia Kecil Yonia dan mereka tinggal di kota Miletos. Perhatian dan minat mereka dipu­satkan pada satu masalah, yakni mencari asal-usul ke­jadian dunia teratur ini dengan menunjukkan arche atau prinsip, asas, dasar pertama. Mereka itu adalah Thales (625—545 SM), Anaximandros (610-545 SM), dan Anaximenes (585-528 SM).

Thales yang dalam tradisi Yunani termasuk ketu­juh orang bijaksana beranggapan bahwa prinsip per­tama dunia ini adalah air atau unsur yang basah. Me­ngapa dan apa sebabnya dia sampai kepada kesim­pulan itu? Thales memandang dunia sebagai kesatuan yang tersusun. Bumi ini pusat alam semesta. Bumi adalah semacam lapisan bundar terapung di atas air. Dalam mencari dasar dan prinsip alam s’emesta, Tha­les menjadi yakin bahwa tidak hanya salju, es dan awan, tetapi semua hal pada hakikatnya adalah air, air dengan wujud berbeda.

Advertisement

Anaximandros, orang pertama yang membuat pe­ta bumi dan murid Thales, berpendapat bahwa prin­sip terakhir kejadian alam semesta adalah “yang ti­dak terbatas” {to apeiron), bersifat ilahi, abadi, dan tak terubahkan serta meliputi segalanya. Ia meng­ajukan argumen: andaikata prinsip dasar alam semesta adalah sesuatu yang terbatas (misalnya air atau salah satu unsur lain), maka unsur asasi itu seharusnya su­dah lama habis dan tak ada tempat untuk unsur api yang kering; baginya prinsip dasar itu haruslah tak terbatas, tak terhingga menurut ruang dan waktu. Me­nurut Anaximandros, dunia timbul dari perceraian (perpecahan) di dalam apeiron. Perpecahan itu akibat pertentangan antarunsur, misalnya antara dingin dan panas, antara basah dan kering. Setelah perpecahan itu, terjadilah gerak puting beliung hingga memisah­kan yang panas dan yang dingin; yang panas memalut yang dingin hingga terjadi suatu bola raksasa. Air melepaskan diri dari panas dan terjadilah udara ter­masuk uap dan kabut. Tampaknya alam semesta ini dilahirkan melalui proses atau evolusi dan berevolusi ke keleburannya. Segala-galanya kembali ke apeiron. Lain lagi pendapat Anixemenes. Ia berpendapat bahwa asal usul segala sesuatu adalah udara. Udara itu asal perubahan dan kelahiran segala sesuatu. Udara melahirkan benda karena proses pemadataa dan peng­enceran. Kalau udara memadat, muncullah angin, awan, air, tanah, batu, dan lain sebagainya. Kalau udara mengencer, muncullah api. Udara itu bagaikan jiwa dalam tubuh manusia. Jiwa adalah udara yang dipupuk dengan bernapas. Anaximenes beranggapan bahwa udara adalah napas yang menjiwai alam se­mesta. Kosmos oleh Anaximenes disebut kosmos be­sar (makrokosmos) dan manusia disebut kosmos ke­cil (mikrokosmos). Mikrokosmos adalah titik pang­kal untuk memahami makrokosmos. Jiwa adalah pu­sat yang mengatur dan menyatukan manusia, demi­kian pula alam semesta itu dijiwai, diatur, dan diper­satukan oleh udara.

Inti ajaran filsuf pertama itu dapat disarikan seba­gai berikut: (1) alam semesta merupakan satu keselu­ruhan, akibatnya alam semesta harus diterangkan de­ngan menggunakan satu prinsip; (2) alam semesta di­kuasai oleh suatu hukum, ada semacam keharusan di balik kejadian alam; (3) alam merupakan kosmos da­lam arti sesuatu yang teratur.

Incoming search terms:

  • pengertian kosmos dalam filsafat

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian kosmos dalam filsafat