Advertisement

Surat kabar ekonomi dan keuangan terkemuka di Inggris dan sumber infor­masi yang penting mengenai perkembangan saham. Harian yang memperingati ulang tahunnya yang ke-100 pada tanggal 13 Februari 1988 ini diterbitkan di London dan didirikan oleh Douglas Gordon Mac- Rie. Semula harian ini beroplah 18.000, tetapi seka­rang mencapai 310.000 eksemplar.

Harian ini didukung oleh sekitar 300 wartawan, ter­masuk 30 koresponden di berbagai negara, di antara­nya di Jakarta. Liputan berita serta analisis ekonomi dan politiknya bersifat internasional. Walaupun di­kategorikan sebagai surat kabar ekonomi dan keuang­an, harian ini juga terkenal dengan rubrik tetap yang membahas masalah kebudayaan. Rubrik itu, antara lain meresensi pertunjukan drama dan musik, tari dan balet, serta pameran seni.

Advertisement

Pada awal kehadirannya, The Financial Times me­nyaingi harian bisnis lainnya yang empat tahun lebih tua umurnya, The Financial News, karena keduanya sama-sama memusatkan perhatian pada masalah sa­ham. Persaingan itu berlangsung selama lebih dari se­tengah abad, sampai sesudah Perang Dunia II. Seusai Perang Dunia II, pemilik saham The Financial Times menjualnya kepada penerbit surat kabar saingannya, The Financial News. Pemilik baru kemudian memu­tuskan untuk menggabungkan keduanya di bawah na­ma The Financial Times.

Surat kabar ini terutama dihidupi oleh iklan me­limpah, yang mencakup 80 persen dari seluruh pen­dapatannya. Selain dicetak di London, The Financial Times ini juga dicetak di Frankfurt-am-Main, Jerman Barat (sejak tahun 1979), di Amerika Serikat (sejak tahun 1985), dan menurut rencana juga di Tokyo, Jepang.

Suatu ciri khasnya yang menarik dan dipertahan­kan sampai sekarang ialah penggunaan kertas berwar­na kekuning-kuningan, yang dimulai pada tahun 1893. Untuk membedakannya dari surat-surat kabar seje­nis dengan nama yang sama di negeri-negeri lain, harian ini sering disebut The Financial Times of London.

Advertisement