Advertisement

Istilah folklor mulai diperkenalkan oleh William Thoms pada tahun 1846, meskipun cikal bakalnya sudah ada sekian puluh tahun sebelumnya. Folklor pada dasarnya merupakan produk gerakan intelektual untuk mengimbangi falsafah abad pencerahan yang diwarnai oleh aliran pra romantisisme dan, khususnya di Jerman, Sturm und Drang. Terbitnya karya James MacPherson di tahun 1760 yang berjudul Fragments of Ancient Poetry Collected in the Highlands menimbulkan gelombang kejutan di seluruh Eropa. MacPherson mengajukan sejumlah identifikasi kesukuan yang mengagetkan. Suku Celtic dikatakannya merupakan kerabat dari suku-suku Nordik, dan kedua suku itu sangat berperan dalam pengembangan kesusasteraan Eropa di masa awal. J.G. Herder, juru bicara Sturm und Drang di Jerman menyajikan landasan konspetual bagi studi akademik folklor. Baginya, puisi dan karya karya kesusasteraan merupakan jiwa masyarakatnya. Setiap kebudayaan yang memiliki kebutuhan, orisinalitas, nilai-nilai dan standar kebahagiaan yang sama selalu berfungsi dalam suatu pola organik. Gagasan-gagasan tersebut dikembangkan oleh generasi berikutnya. Bagi Grimm bersaudara (Wilhelm dan Jacob), berbagai produk budaya populer seperti dongeng, legenda, lieder, tradisi dan mitologi merupakan intisari kebudayaan yang perlu dihargai secara lebih baik. Bertolak dari keyakinan itu mereka mengumpulkan dongeng dari seluruh pelosok penjuru Jerman yang kemudian dibukukan dan menjadi sumber bacaan yang menghibur anak-anak di seluruh dunia. Karya-karya sastra kuno, bukan sekedar hasil penemuan melainkan merupakan hasil perenungan dalam yang acapkali diwarnai oleh meditasi ritual. Pada kata pengantar Kinder und Hausmarchen terbitan 1819, Grimm bersaudara menyatakan bahwa mitos-mitos Jerman kuno dapat diketahui dari cerita-cerita rakyat yang terus hidup. Pada naskah edisi 1857 Wilhelm Grimm kembali mengulangi pernyataan itu, kali ini didukung oleh penjelasan yang lebih lengkap. Cerita atau dongeng rakyat sesungguhnya merupakan ekspresi keyakinan dan keberadaan suatu bangsa meskipun hal itu diwarnai oleh elemen-elemen mistis (das Mysthische). Dari sekitar 300 hingga 749 kategori dongeng rakyat (menurut tipologi Aarne Thompson), hampir semuanya mengandung unsur mistis yang mengaburkan bobot intelektualnya namun juga sekaligus menjadi pokok daya tariknya.

Konsepsi cerita rakyat dan folklor seperti itu diterima secara luas oleh para ilmuwan di abad 19 dan awal 20. Kisah-kisah yang berkembang dari mitos kuno cenderung terkikis seiring dengan perjalanan waktu, dan jika hal itu terus terjadi maka hilang pula warisan kesusasteraan kuno yang sangat berharga itu. Para ilmuwan di abad 19 menganggap folklor sebagai suatu produk degenerasi mitos yang terancam punah. Karena itu mereka berusaha memahami kondisi masyarakat di masa lampau melalui pelacakan dongeng- dongeng yang masih hidup. Minat para ilmuwan itu kemudian bergeser ke soal degenerasi atau devoiusi menurut istilah Dundes, 1975) dari mitos menjadi folklor. Perkembangan ini dibarengi pula dengan munculnya perspektif revolusionis. Perspektif itu dikembangkan oleh para ilmuwan Inggris seperti Taylor (1871) dan Lang (1874; 1887). Mereka melihat dongeng-dongeng rakyat itu sesungguhnya merupakan alat untuk menjaga kelanggengan mitos. Gagasan ini diterima di Perancis. Sebillot (1908) menyebutnya sebagai “paganisme temporer“, dan Saintyves (1923) menyambut hangat keseriusan para antropolog dalam mempelajari folklor yang disebutnya sebagai “gagasan historis-ilmiah untuk menjaga kesinambungan mitos”. Pada tahun 1928, V. Propp menyatakan cerita rakyat, mitos dan bentuk-bentuk pemikiran primitif serta lembaga-lembaga sosial awal merupakan unsur-unsur yang tak terpisahkan dalam kebudayaan di masa lampau. Para ilmuwan moderen cenderung menyisihkan kaitan itu yang mereka sebut sebagai suatu ilusi. Namun mereka tidak mengabaikan arti penting folklor dan mereka berusaha melacak asal mula atau logika dasarnya. Mereka mulai memisahkan makna mitos dari folklor, dan mereka mempelajari folklor itu pada aspek fungsi sosialnya. Hal serupa juga mereka terapkan terhadap mitos dan cerita-cerita rakyat. Namun sulit dipungkiri kalau produk-produk folklor mengandung muatan mitos dan hal-hal mistis meskipun hal itu acapkali diselimuti oleh kemasan superfisial dan formal. Namun hal itu bukan merupakan konsekuensi dari apa yang oleh Levi-Strauss (1952) disebut “kekenesan historis”. Folklor jelas memiliki fungsi, khususnya dalam mempertahankan dan menyebarkan mitos.

Advertisement

Incoming search terms:

  • mitos dalam folklor
  • Apa inti sari pengertian floklor
  • apa yg dimaksud dengan mitos dan folklor
  • Arti foklor dan mitologi

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • mitos dalam folklor
  • Apa inti sari pengertian floklor
  • apa yg dimaksud dengan mitos dan folklor
  • Arti foklor dan mitologi