Advertisement

Fordisme adalah keadaan ekonomi seusai perang, yang sinonim dengan lonjakan ekonomi yang sangat pesat di Amerika Serikat seusai Perang Dunia Kedua yang dalam sejarah tercatat terjadi pada tahun 1950-an hingga awal 1970-an (ini khusus berlaku bagi perekonomian Amerika Serikat dan negara-negara Eropa). Antonio Gramsci adalah tokoh pertama yang mengunakan istilah tersebut  diambil dari nama tokoh pengusaha Amerika Henry Ford  ketika ia mempelajari nilai-nilai budaya yang terkandung dalam cara hidup Amerika di tahun 1930-an (1971). Sesung-guhnya Fordisme lebih dari sekedar fenomena ekonomi. Bagi banyak ilmuwan, Fordisme merupakan simbol hadirnya kaum pekerja massal baru, yang memiliki gaya hidup, tuntutan kesejahteraan dan ciri-cirinya sendiri. Dalam kalimat lain, Fordisme merupakan metafora kapitalisme modern. Kelonggaran istilah tersebut diperketat oleh Sayer (1989) melalui pemilahan empat aspek atau unsur Fordisme.

Unsur pertama adalah berkembangnya sistem produksi massal yang dipelopori oleh Henry Ford dan para insinyurnya di pabrik mobil Detroit di tahun 1913/14. Di sini Fordisme mengacu pada berlangsungnya proses pemakaian tenaga kerja yang berdasarkan pada teknik jalur perakitan, yang didukung oleh mesin-mesin khusus, pembagian tugas yang rinci, serta kontrol ketat oleh pihak manajemen. Pengaruh manajemen ilmiah Frederick Taylor juga dapat ditemukan pada standarisasi bidang tugas serta pembagian kerja yang lebih spesifik serta penggunaan tenaga kerja semi- terampil. Namun Fordisme berbeda dari Taylorisme dalam hal pemakaian teknologi untuk menegakkan disiplin kerja. Unsur kedua Fordisme adalah meningkatnya peran ekonomi industri-industri produksi massal dalam perekonomian massal secara keseluruhan. Industri-industri ala Ford memberi dampak yang jauh lebih besar ketimbang ukuran pabrik mereka terhadap pertumbuhan ekonomi berkat kemampuan mereka menciptakan dan menyebarkan kekuatan pertumbuhan ke sektor-sektor ekonomi lainnya, termasuk para produsen berskala kecil yang mereka jadikan subkontraktor. Pertumbuhan industri mobil misalnya, menciptakan permintaan atas berbagai input mulai dari komponen listrik, rangka kaca, aksesori plastik, dan sebagainya. Industri-industri kecil yang dapat menyediakan input itu pun berkembang pesat seiring dengan tumbuhnya pola produksi massal. Skala produksi yang begitu besar juga memberi dorongan yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi. Dengan kemampuannya menstabilkan biaya, pabrik-pabrik Ford mampu memberi hasil yang semakin lama semakin besar sehingga mereka pun memainkan peran dominan dalam perekonomian. Unsur ketiga adalah berkembangnya peran hegemoni dalam perekonomian. Hal ini lagi-lagi mengacu pada kuatnya peran industri produksi massal. Kekuatan yang begitu besar membuat mereka di atas angin dalam hal penyusunan kontrak kerja, pembelian komponen atau penyusunan kontrak dengan produsen kecil sehingga produsen massal benar-benar menempati peran hegemonik dalam perekonomian. Sedangkan unsur keempat adalah kemunculan Fordisme itu sendiri dalam menandai era industri. Jadi, di sini Fordisme diartikan sebagai suatu mode regulasi yang dimaksudkan memacu pertumbuhan ekonomi. Lembaga-lembaga eksternal seperti pemerintah tetap memainkan peran penting dan karena itulah Keynes berpendapat era pasca perang memunculkan fenomena negara kesejahteraan (welfare state). Kajian Fordisme yang sangat baik oleh Mischel Aglietta, yakni dalam bukunya yang berjudul A Theory of Capitalist Regulation: The US Experience (1979) memberikan telaah yang sangat tajam mengenai Fordisme sebagai suatu era lonjakan ekonomi pasca perang. Krisis Fordisme yang mulai terjadi diawal 1970- an selanjutnya dianggap sebagai tanda berakhirnya era industri dan mulai berubahnya keseluruhan pola organisasi ekonomi dan produksi, yang dibarengi oleh kian beragamnya pola konsumsi dan gaya hidup. Istilah yang sering digunakan untuk menyebut era baru tersebut adalah neo-Fordisme atau pasca Fordisme, tergantung dari karakteristik atau aspek Fordisme mana yang hendak ditekankan. Neo-Fordisme menekankan kesinambungan proses pemakaian tenaga kerja seperti yang terjadi di masa Fordisme, sedangkan istilah pasca Fordisme menekankan terputusnya hubungan dengan era Fordisme. Namun kedua istibh itu tetap memiliki benang merah dengan Fordisme. Pendapat para ilmuwan mengenai unsur-unsur mencolok dalam era seusai Fordisme itu sangat beragam, dan hal ini mungkin dikarenakan mereka masih terlalu terpaku pada standar-standar yang berlaku di era Fordisme. Atau bisa juga, kerancuan itu bersumber dari ketidakjelasan makna Fordisme itu sendiri. Salah satu kelemahan konsepsi Fordisme, khususnya yang disorot oleh para analis pasca industri, adalah ketidakmampuannya melihat hal-hal penting selain produksi masai berskala besar sehingga Fordisme luput memperhitungkan peran industri-industri jasa. Hal ini kemudian bergeser pada perdebatan baru mengenai apa yang sesungguhnya berfungsi sebagai “mesin pertumbuhan” bagi suatu perekonomian modern.

Advertisement

Incoming search terms:

  • fordisme adalah
  • pengertian fordisme
  • fordisme
  • pengertian post fordisme
  • pasca fordisme
  • apa neofordisme
  • fordisme dan pasca fordisme
  • definisi fordism
  • arti fordisme
  • apa makzud fordisme dan post fordisme

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • fordisme adalah
  • pengertian fordisme
  • fordisme
  • pengertian post fordisme
  • pasca fordisme
  • apa neofordisme
  • fordisme dan pasca fordisme
  • definisi fordism
  • arti fordisme
  • apa makzud fordisme dan post fordisme