Advertisement

Atau Front Pembebasan Nasional Ango­la, adalah satu di antara tiga organisasi atau gerakan kemerdekaan di Angola, di samping UNITA dan MPLA. Organisasi yang didirikan pada tahun 1962 ini untuk sementara berpusat di Kinshasa, Zaire. Ke­tuanya, Roberto Holden, berjuang demi kemerdekaan Angola dari Portugal.

Walaupun FNLA mempunyai banyak pengikut, ter­utama di Angola Utara, para pengamat menganggap gerakan ini hanya sebagai gerakan kesukuan. Gerak­an ini mendapat dukungan dari Zaire dan berorien­tasi ke Cina. Sebagai hasil hubungan baiknya dengan Cina, RRC memberi bantuan 450 ton perlengkapan militer-dan sejumlah obat-obatan untuk memperce­pat perang kemerdekaan di Angola.

Advertisement

Dalam rangka perjuangan menuju kemerdekaan, terjadi perpecahan di antara sesama gerakan kemer­dekaan Angola, yaitu antara FNLA bersama UNITA (Uniao Nacional Para a Independencia Total de Angola) di bawah pimpinan Dr. Jonas Sayimbi, yang kemudian menggabungkan diri, di satu pihak, dan MPLA (Movimento Popular de Libertacao de Angola) di bawah pimpinan Dr. Agostinho Neto di pihak lain. Perpecahan ini menjadi perang saudara setelah pada tanggal 11 November 1975 Portugal menyerahkan ke­daulatan kepada seluruh rakyat Angola dan tidak ke­pada salah saiu pihak yang bersengketa. Dengan de­mikian, dapat diartikan bahwa Portugal memberikan kemerdekaan kepada Angola, tetapi tidak memihak dan tidak mencampuri urusan intern rakyatnya. Cara seperti ini tampaknya kurang bertanggung jawab, te­tapi mungkin sekali tidak ada pilihan lain yang lebih baik bagi Portugal.

Pada tanggal 11 November 1975, MPLA mem­proklamasikan Republik Angola dengan Dr. Agostin­ho Neto sebagai presiden. Sebaliknya, FNLA dan UNITA bersama-sama memproklamasikan Republik Demokrasi Rakyat Angola dengan Dr. Jonas Sayimbi sebagai presiden. Uni Soviet, sejumlah negara komu­nis lainnya, dan beberapa negara sosialis di Afrika se­gera mengakui Republik Angola. Negara-negara Ba­rat dan beberapa negara Afrika mendukung dan mem­beri bantuan kepada FNLA dan UNITA. Dengan de­mikian, Angola merdeka justru menjadi ajang pe­rebutan dua pemerintah yang mengklaimnya, dan ke­duanya sama-sama mencari dukungan dari luar ne­geri. Perang saudara terjadi. Perginya pejabat-pejabat dan pasukan Portugal menambah leluasa kedua be­lah pihak untuk saling menyerang. Kemerdekaan ti­dak berai ti perdamaian dan awal pembangunan bagi Angola, tetapi justru menjadi awal meningkatnya pe­rang saudara.

MPLA telah menyusun strategi untuk menyerang dan mengalahkan lawan-lawannya dalam waktu de­lapan bulan. Namun FNLA dan UNITA telah menyusun strategi untuk menjepit dan menghancurkan MPLA, UNITA dari Angola Selatan, sedangkan FNLA dari Angola Utara Tetapi dalam kenyataan­nya, rencana ini tidak berjalan semulus yang diren­canakan. Dengan bantuan tentara sewaan dari Por­tugal serta bantuan senjata dan logistik dari Afrika Selatan, pasukan gabungan FNLA—UNITA berha­sil memukul mundur pasukan MPLA dari Angola Se­latan dan segera dapat merebut kembali kota-kota yang semula diduduki MPLA. Tetapi ofensif FNLA dari utara mengalami kegagalan. Dengan bantuan pa­sukan Kuba dan senjata berat dari Uni Soviet, terma­suk meriam dan senjata lapis baja, MPLA berhasil menangkis serangan FNLA dari utara, dan justru FNLA yang menderita banyak kerugian.

Berkat bantuan persenjataan dan personel militer asing itulah MPLA dapat berulang kali memukul mundur pasukan FNLA. Kekalahan-kekalahan FNLA itu pun diakui oleh pemimpin FNLA, Holden Rober­to, dalam pernyataannya di Kinshasa tanggal 10 De­sember 1975. Ia berkata, antara lain: (1) pasukannya tidak dapat menghadapi keunggulan tempur dan daya tembak peralatan militer Uni Soviet, yang secara besar-besaran diberikan kepada MPLA. Dengan per­alatan tempur modern itu, MPLA sanggup bertem­pur dalam jarak jauh. Di samping itu, pasukan MPLA juga mendapat bantuan personel militer yang sama- sama berkulit hitam dari Kuba; (2) MPLA menggu­nakan taktik biadab, dengan melancarkan pemboman di desa-desa dan mengusir penduduknya ke wilayah lain, kemudian menduduki desa-desa yang telah ko­song itu. Namun secara keseluruhan MPLA meng­alami kekalahan dan terus terdesak.

Melihat perkembangan itu, Uni Soviet dan negara- negara komunis lainnya melakukan operasi besar- besaran untuk menyelamatkan MPLA. Pesawat- pesawat terbang dan kapal-kapal Uni Soviet mengang­kut senjata dan amunisi dalam jumlah besar, terma­suk tank, kendaraan berlapis baja, meriam, mortir, roket dan peluncurnya, pesawat tempur MIG-21, dan sebagainya, untuk membantu MPLA. Menurut suatu laporan, MPLA telah menerima 200 tank T-54, ken­daraan berlapis baja PT-76, mortir 122 milimeter, 12 buah pesawat MIG-21, dan sejumlah peluru kendali. Di samping itu, MPLA dibantu oleh beribu-ribu ten­tara Kuba, termasuk penerbang, awak tank, awak me­riam, instruktur, penasihat dan pasukan infanteri, serta beberapa ratus tentara Mozambik. Sebaliknya, negara-negara Barat yang mendukung FNLA dan UNITA juga meningkatkan dan mempercepat ban­tuan militernya untuk mengimbangi bantuan blok ko­munis. Akibatnya, perang saudara di Angola itu te­lah berubah menjadi semacam perlombaan senjata antara blok Barat dan blok Timur, dan pertempuran menjadi lebih sengit.

Perang saudara antara FNLA dan UNITA di satu pihak melawan MPLA di pihak lain pada intinya da­pat disimpulkan sebagai sengketa antargolongan da­lam rangka perebutan kekuasaan di Angola. Bebera­pa faktor ikut berbicara dalam perang saudara itu, se­perti kesukuan dan ideologi. Gerakan-gerakan kemer­dekaan di Angola pada dasarnya tidak mendapatkan dukungan etnis secara meluas, tetapi justru lebih ter­ikat oleh kelompok atau suku tertentu. FNLA men­dapat dukungan dari suku bangsa Bakongo, MPLA dari Mbundu, dan UNITA dari Ovimbundu. Semen­tara itu, perbedaan ideologi yang dianut oleh organi­sasi-organisasi pergerakan itu ikut mempertajam per­bedaan dan pertentangan yang telah ada. FNLA, yang semula berorientasi ke Cina, dan UNITA menganut sistem demokrasi dan memberikan tempat kepada swasta. MPLA menganut sistem Marxis pola Soviet, dan karena itu cenderung memperjuangkan monopoli kekuasaan dan pembentukan suatu negara dengan sistem pemerintahan partai tunggal. Oleh sebab itu, MPLA tidak mau, setidak-tidaknya sukar, hidup ber­dampingan secara damai dengan partai-partai lain. Atas dasar keadaan ini, kiranya wajar adanya tuduhan yang mengatakan bahwa MPLA sengaja menggagal­kan persetujuan kemerdekaan Angola, dan ini seka­ligus menjadi faktor penyebab utama terjadinya pe­rang saudara di Angola. Di samping itu, campur ta­ngan asing justru semakin meningkatkan perang sau­dara di Angola. Kekayaan alam dan letaknya yang strategis telah menimbulkan keinginan negara-negara luar untuk menanamkan pengaruhnya di Angola.

Advertisement