Menjadi ujung tombak perjuangan kaum marhaen dalam upaya mewujudkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang sa­ma rata, sama rasa, sama bahagia (adil makmur), baik jasmaniah maupun rohaniah, bebas dari kapitalisme, imperialisme, dan feodalisme dengan cara-cara per­juangan radikal, progresif, dan revolusioner.

Sebagai ujung tombak kaum marhaen, Front Mar­haenisme merupakan gabungan organisasi-organisasi politik dan kemasyarakatan yang berasaskan mar­haenisme dengan pemimpin dan panutan utama Par­tai Nasional Indonesia (PNI). Sebagai istilah, Front Marhaenisme muncul sekitar tahun 1950-an ketika di Indonesia diterapkan Demokrasi Liberal/Parlemen­ter. Istilah Front Marhaenisme berkembang terus sam­pai pada masa Demokrasi Terpimpin hingga awal Orde Baru. Sejak tahun 1973, setelah Partai Nasio­nal Indonesia (PNI) berfusi ke dalam Partai Demo­krasi Indonesia(PDI), Front Marhaenisme mulai di­tinggalkan, hilang, dan tidak dipergunakan lagi oleh organisasi kemasyarakatan yang berasaskan marhaen­isme, dan tinggal menjadi catatan sejarah politik Indo­nesia.

Organisasi-organisasi politik dan kemasyarakatan yang tergabung ke dalam Front Marhaenisme itu ter­nyata mengalami pasang surut. Pada masa Demokrasi Liberal/Parlementer, organisasi-organisasi yang ber­himpun dalam Front Marhaenisme terdiri atas Partai

Nasional Indonesia (PNI), Partai Kedaulatan Rakyat (PKR), Perkumpulan Wanita Demokrat Indonesia (W D I), dan Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia

(Permai). Selanjutnya, pada tahun 1960, di dalam Kongres PNI di Solo tanggal 25—29 Juni 1960 dite­tapkan bahwa organisasi-organisasi kemasyarakatan di bawah naungan PNI yang merupakan Front Mar­haenisme terdiri atas KBKI, Persatuan Tani Nasional Indonesia (Petani), Wanita Demokrat, Pemuda De­mokrat, dan organisasi gerakan massa marhaenis lain­nya. yang dengan persetujuan DPP PNI memutuskan bernaung di bawah PNI.

Setelah Peristiwa G30S/PKI, dalam Kongres Luar Biasa Persatuan dan Kesatuan PKI dan ormas-ormas­nya di Bandung tanggal 24—27 April 1966, disebut­kan bahwa organisasi-organisasi massa yang bernaung di bawah PNI/Front Marhaenisme meliputi: PNI, Ge­rakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerak­an Pemuda Marhaenis (GPM), Gerakan Siswa Nasio­nal Indonesia (GSNI), Gerakan Wanita Marhaenis (GWM), Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI), Ge­rakan Pamong Rakyat Marhaenis (GPRM), Gerakan Nelayan Marhaenis (GNM), Kesatuan Buruh Mar­haenis (KBM), Persatuan Tani Nasional Indonesia (Petani), Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), Dja- miatul Muslimin Indonesia (DMI), serta organisasi- organisasi gerakan massa marhaen lainnya yang de­ngan persetujuan DPPP memutuskan bernaung di ba­wah PNI.