PENGERTIAN FUNGSIONALISME – Strategi teoritis yang dikenal dengan fungsionalisme muncul menjadi bagian dari analisis sosiologis pada tahun 1940-an. Strategi teoritis ini mencapai masa kejayaannya pada tahun 1950-an. Pada saat tersebut fungsionalisme menjadi strategi teoritis standard yang diikuti mayoritas sosiolog, dan hanya sebagian kecil yang menentangnya. Namun, mulai tahun 1960-an dominasi teoritik fungsionalisme mendapat tantangan keras dan adekuasi teoritisnya semakin dipertanyakan. Strategi teoritis ini segera memasuki masa kerontokannya. Namun meskipun mayoritas sosiolog saat ini nampak tidak menganjurkan pendekatan fungsionalis dalam mengkaji kehidupan sosial, fungsionalisme masih tetap didukung secara serius oleh kelompok minoritas yang signifikan secara sosiologis. Dalam kenyataannya, sejak awal tahun 1980-an seorang fungsionalis terkemuka muncul kembali. (J.C. Alexander, 1982, 1984, 1985).

Secara essensial, prinsip-prinsip pokok fungsionalisme adalah sebagai berikut: (1) Masyarakat merupakan sistem yang kompleks yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berhubungan dan saling tergantung, dan setiap bagian tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap bagian-bagian lainnya. (2) Setiap bagian dari sebuah masyarakat eksis karena bagian tersebut memiliki fungsi penting dalam memelihara eksistensi dan stabilitas masyarakat secara keseluruhan; karena itu, eksistensi satu bagian tertentu dari masyarakat dapat diterangkan apabila fungsinya bagi masyarakat sebagai keseluruhan dapat diidentifikasi. (3) Semua masyarakat mempunyai mekanisme untuk mengintegrasikan dirinya, yaitu mekanisme yang dapat merekatkannya menjadi satu; salah satu bagian penting dari mekanisme ini adalah komitmen para anggota masyarakat kepada serangkaian kepercayaan dan nilai yang sama. (4) Masyarakat cenderung mengarah kepada suatu keadaan ekuilibrium atau homeostatis, dan gangguan pada salah satu bagiannya cenderung menimbulkan penyesuaian pada bagian lain agar tercapai harmoni atau stabilitas. (5) Perubahan sosial merupakan kejadian yang tidak biasa dalam masyarakat, tetapi bila itu toh terjadi juga, maka perubahan itu pada umumnya akan membawa kepada konsekuensi-konsekuensi yang menguntungkan masyarakat secara keseluruhan.

Para penganut fungsionalisme telah memperlihatkan minat kepada perdebatan antara penganut materialisme dan penganut idealisme, meski sebagian kecil dari mereka telah secara eksplisit memilih berpihak kepada salah satunya. Walaupun sebagian fungsionalis sangat berpihak kepada pandangan idealis, kebanyakan mereka mengambil posisi tengah-tengah, dengan berargumentasi bahwa baik faktor material maupun faktor gagasan dan citacita, keduanya mempunyai pengaruh yang krusial kepada sifat dasar pola-pola sosial. Posisi ini konsisten dengan klaim tipikal penganut fungsionalisme bahwa masyarakat merupakan sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling tergantung, di mana satu sama lainnya saling mempengaruhi.

Sebagaimana telah ditunjukkan sebelumnya, fungsionalisme mendapat kritik tajam pada tahun 1960-an. Kritik-kritik penting yang diarahkan kepada fungsionalisme mungkin dapat diringkaskan sebagai berikut (Dahrendorf, 1958; P. Cohen, 1968; Zeitlin, 1973):

(1) Fungsionalis cenderung terlalu menekankan kepada tingkat di mana masyarakat manusia bersifat harmonis, stabil dan merupakan sistem yang terintegrasi dengan baik. (2) Karena penekanan yang berlebihan kepada harmoni dan stabilitas, fungsionalis cenderung mengabaikan atau meremehkan tingkat di mana konflik sosial merupakan ciri dasar dari kebanyakan masyarakat. (3) Dengan terlalu melebih-lebihkan harmoni sosial dan meremehkan konflik sosial, fungsionalis cenderung mengarah kepada bias konservatif dalam mengkaji kehidupan sosial; yakni mereka cenderung mendukung perlunya mempertahankan segala pengaturan yang ada dalam sebuah masyarakat. (4) Dalam mengkaji sebuah masyarakat mereka pada umumnya hanya mengkaji satu titik masa tertentu (masa kini), sehingga menerapkan pendekatan yang jelas-jelas a-historis dalam mengkaji kehidupan sosial. (5) Karena fungsionalis mengabaikan dimensi historis dalam mengkaji kehidupan sosial, mereka sangat sulit menerangkan perubahan sosial.

Fungsionalisme penting dibedakan dengan analisis fungsional (functional-analysis G.A.Cohen, 1978). Fungsionalisme mencakup prinsip-prinsip substantif dasar yang telah disebutkan di atas. Sementara analisis fungsional berbeda secara distinktif dengan itu. Alih-alih didasarkan atas serangkaian prinsip dasar, analisis fungsional menyajikan taktik metodologis dasar yang mengasumsikan bahwa fenomena tertentu harus dianalisis dan dipahami dari sudut pandang signifikansi adaptifnya, yakni dari titik yang menguntungkan dari kegunaannya dalam memenuhi tujuan atau sasaran tertentu. Analisis fungsional sering dipergunakan dalam ilmu-ilmu sosial terlepas dari prinsipprinsip fungsionalisme di atas. Dalam kenyataannya, para teoritisi sosial yang sangat menentang fungsionalisme seringkali menggunakan bentuk-bentuk analisis fungsional dalam membangun teori mereka. Karl Marx, misalnya, ditolak keras oleh fungsionalisme modern, tetapi dia seringkali menggunakan sebuah tipe analisis fungsional. Ketika dia menegaskan bahwa gagasan dan cita-cita suatu masyarakat harus dipahami dalam kaitannya dengan tujuantujuan yang mendukung kelompok sosial yang kuat, dia jelas menggunakan analisis fungsional. Contoh lain, sejumlah teoritisi sosial modern telah berusaha menjelaskan kenapa bangsa Israel kuno berpantang memakan daging babi, pantangan yang juga masih diikuti oleh kalangan Yahudi ortodoks. Sebagian teoritisi ini mendekati masalah tersebut dengan melihat cara-cara di mana pantangan ini barangkaliberguna bangsa Israel kuno —bagaimana pantangan tersebut membantu mereka dalam memecahkan problem-problem dasar kehidupan yang dihadapi (Harris,1974,1977). Jenis pendekatan ini merUpakan contoh klasik dari apa yang dimaksud dengan analisis fungsional.

Cara berpikir yang lain tentang perbedaan antara fungsionalisme dan analisis fungsional adalah dengan mengetahui tingkatan analisis, di mana masing-masing digunakan. Ciri pokok fungsionalisme adalah gagasan tentang kebutuhan-kebutuhan masyarakat (societal needs). Para fungsionalis percaya bahwa masyarakat sangat serupa dengan organisme biologis, karena mernpunyai kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus dipenuhi agar masyarakat dapat melangsungkan keberadaannya atau setidaknya agar dapat berfungsi dengan baik. Ciri-ciri dasar kehidupan sosial — struktur sosial — muncul untuk rnemenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat ini. Walaupun gagasan tentang kebutuhan-kebutuhan masyarakat ini mungkin terlihat, pada saat pertamanya, sangat masuk akal; namun melalui pemeriksaan yang cermat ternvata sulit dipahami, kalau tidak benar-benar bersifat mistik. Pemikiran yang cermat akan menunjukkan bahwa masyarakat tidak dapat mempunyai kebutuhan dalam pengertian yang sebenarnya, hanya individu-individu yang mempunyainya. Walaupun betul bahwa orang mengembangkan kebutuhan-kebutuhan tertentu sebagai hasil dari kehidupan bersama, kebutuhan-kebutuhan ini masih berupa kebutuhan-kebutuhan dari sesuatu yang kongkrit; kebutuhan orang-orang yang berdarah-daging, dan bukan kebutuhan dari abstraksi yang disebut masyarakat. Analisis fungsional mengakui pembedaan yang krusial ini dan menjadikannya dasar dari pola penelitiannya. Mereka yang menggunakan analisis fungsional (tetapi tidak menganut fungsionalisme) menyatakan bahwa tujuan atau sasaran yang dipenuhi oleh fenomena sosial tertentu selalu merupakan tujuan atau sasaran orang-orang atau kelompok sosial yang kongkrit. Analis fungsional mengakui bahwa apa yang kita sebut masyarakat tidak ada sebagai sebuah entitas yang berdiri sendiri, namun ia menyingkatkan kata yang kita gunakan untuk suatu kumpulan orang yang berinteraksi dengan cara-cara tertentu untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan hasrat mereka.

Filed under : Bikers Pintar,