Advertisement

Apabila seseorang melakukan satu perbuatan dan dengan satu perbuatan itu ia melanggar beberapa peraturan pidana; atau apa-bila seseorang melakukan beberapa perbuatan, dan tiap-tiap per-buatan tersebut merupakan tindak pidana yang berdiri sendiri-sendiri; dan terhadap salah satu pelanggaran dari peraturan pidana itu, belum dijatuhi suatu putusan hakim atas diri orang tersebut, dan terhadap beberapa pelanggaran dari beberapa peraturan pidana itu, diadili sekaligus (Loebby Loqman, 1992).
M. Yahya Harahap menyebut Gabungan Tindak Pidana dengan istilah “Concursus atau perbarengan” yang diatur dalam pasal-pasal 63, 64, 65, 66, dan 70 KUHP (M. Yah^a Harahap, 1988)^ Menurut Yahya, yang diatur dalam pasal 63 KUHP dinama^an “berbarengan peraturan/Con6ursus Idealis/Eenjiaadsche Samenloop”, yang berarti telah terjadi satu tindak pidana, te-tapi sekalipun tindak pidananya hanya satu, perbuatan itu mengenai sekaligus lebih dari satu ketentuan pidana. Sedangkan yang diatur dalam pasal 64 KUHP dinamakan “perbuatan berlanjut/ Voorgezette handeling”, yang me-nurut Yahya harahap mempunyai persyaratan : (1) harus ada kesatuan kehendak, yang berarti dalam keseluruhan perbuatan..yang di-lakukan berulang-ulang tersebut, terdapat kesatuan kehendak pada diri pelaku; (2) perbuatan-tersebut harus mengenai peristiwa yang sama; dan (3) setiap rangkaian perbuatan itu berjarak waktu yang relatif tidak terlampau lama.
Sedangkan yang diatur di dalam pasal 65, 66 dan 70 KUHP dinamakan “perbarengan perbuatan/ Concursus Realis/Meerdaadse Samenloop”, yang berarti ada perbarengan beberapa kejahatan yang dilakukan oleh seseorang, setiap perbuatan itu mengenai beberapa kejahatan yang diatur dalam pasalpasal pidana, dan setiap perbuatan itu dianggap sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri.
SR. Sianturi mengatakan bahwa perbarengan merupakan terjemahan dari Samenloop/Concursus (SR. Sianturi, 1989). Menurut Sianturi, perbarengan dapat meliputi : (a) satu tindakan yang dilakukan (aktif/ pasif) oleh seseorang, yang dengan tindakan itu terjadi dua/lebih tindak pidana sebagaimana dirumuskan dalam perundangan; (b) dua atau lebih tindakan yang dilakukan (aktif/ pasif) oleh seseorang, yang dengan Itu telah terjadi dua/lebih tindak pidana sebagaimana dirumuskan dalam perundangan; dan (c) dua/ lebih tindakan yang dilakukan (aktif/ pasif) oleh seseorang secara berlanjut, yang dengan itu telah terjadi dua/lebih tindak pidana yang pada umumnya sejenis, dan diantara perbuatan-perbuatan tersebut, harus belum ada yang pernah diadili.

Incoming search terms:

  • apa yang di maksud dengan gabungan tindak pidana
  • pengertian gabungan satu perbuatan
  • pengertian gabungan satu perbustan

Advertisement
Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • apa yang di maksud dengan gabungan tindak pidana
  • pengertian gabungan satu perbuatan
  • pengertian gabungan satu perbustan