PENGERTIAN GANGGUAN DELUSIONAL (PARANOID) – Selain penderitaan yang dirasakan pasien, paranoia dapat menimbulkan dampak langsung dan mengganggu bagi orang lain, sering kali menimbulkan reaksi kemarahan dan berkontribusi terhadap keputusan untuk merumahsakitkan orang lanjut usia yang mengalaminya tersebut. Simtomatologi paranoia terjadi pada banyak pasien psikiatrik berusia lanjut.

Penyebab Gangguan Delusional. Paranoia pada pasien lanjut usia dapat merupakan kelanjutan dari gangguan yang terjadi pada masa usia terdahulu atau dapat menyertai penyakit otak seperti delirium dan demensia. Paranoia bahkan dapat memiliki fungsi tertentu bagi pasien demensia, yaitu mengisi kekosongan memori yang disebabkan hilangnya memori. Alih-alih mengakui, “Saya tidak ingat di mana saya meletakkan kuncinya,” mereka berpikir, “Seseorang pasti telah masuk ke dalam dan mengambil kunci tersebut”.

Pemikiran paranoid telah dihubungkan dengan kerusakan sensori, khususnya kerusakan pendengaran. Beberapa orang meyakini bahwa orang-orang lanjut usia yang mengalami gangguan paranoid parah cenderung mengalami kerusakan pendengaran pada kedua telinga yang telah berlangsung lama. Orang lanjut usia yang telah mengalami ketulian dapat meyakini bahwa orang lain membicarakannya dengan berbisik agar ia tidak mendengar apa yang dikatakan mereka. Reaksi paranoid orang yang bersangkutan dapat merupakan upaya untuk mengisi kekosongan yang disebabkan oleh kerusakan indra. Dengan menceritakan berbagai kejadian yang membingungkan, delusi dalam satu sisi bersifat adaptif dan dapat dimengerti. Meskipun demikian, terdapat bukti yang bertentangan tentang asumsi adanya keterkaitan antara masalah pendengaran dan gangguan delusional. Bila beberapa peneliti melaporkan bahwa kerusakan pendengaran mendahului terjadinya simtom-simtom paranoid, peneliti-peneliti lain melaporkan bahwa kerusakan indrawi semacam itu bukan hal yang umum terjadi pada orang-orang yang mengalami gangguan delusional.

Karena orang-orang yang menjadi paranoid juga memiliki penyesuaian sosial yang buruk, simtom-simtom tersebut dapat terjadi setelah suatu periode di mana mereka semakin terisolasi secara sosial. Isolasi sosial itu sendiri membatasi kesempatan orang yang bersangkutan untuk menguji kecurigaannya terhadap dunia, sehingga memudahkan terbentuknya delusi tersebut. Individu yang bersangkutan membangun komunitas semu—sebuah dunia pribadi bagi dirinya sendiri—dan bukan hubungan sosial yang berbasis komunikasi yang baik dan saling percaya.

Orang-orang lanjut usia sangat berisiko menerima berbagai perlakuan yang tidak sepantasnya. Orang lain mungkin membicarakan mereka tanpa sepengetahuan mereka, atau bahkan di depan mereka, seolah mereka tidak ada di sana, dan orangorang memanfaatkan orang lanjut usia dengan berbagai cara. Keluhan seorang lanjut usia bahwa dirinya dikejar-kejar yang diabaikan begitu saja dan dianggap sebagai gejala paranoia di usia tua mungkin benar adanya. Seorang klien berusia lanjut dari salah satu penulis mengeluh bahwa ia telah diikuti oleh seorang detektif yang disewa oleh suaminya yang kejam. Penelusuran mengungkap bahwa suaminya khawatir ia menjalin hubungan dengan laki-laki lain dan memang menyewa seseorang untuk mengikutinya! Haruslah selalu diteliti apakah suatu kecurigaan didasari oleh kenyataan sebelum diatribusikan pada paranoia.

Filed under : Bikers Pintar,