PENGERTIAN GANGGUAN IDENTITAS DISOSIATIF DAN PEMBELAAN KETIDAKWARASAN – Bayangkan ketika sedang minum kopi suatu pagi Anda mendengar suara ketukan di pintu depan. Anda bergegas membukakan pintu dan di depan pintu berdiri dua orang polisi yang menatap Anda dengan dingin. Salah seorang polisi bertanya, “Apakah Anda Jane Smith?” Anda menjawab ya. “Baiklah Bu, Anda ditahan atas pencurian besar-besaran dan pembunuhan John Doe.” Petugas tersebut kemudian membacakan hak-hak Anda atas tuduhan kejahatan tersebut, memborgol Anda, dan membawa Anda ke kantor polisi, dan di sana Anda diizinkan untuk menelepon pengacara Anda.

Gambaran di atas merupakan situasi yang menakutkan bagi siapa pun. Hal yang secara khusus menakutkan dan membingungkan Anda dan pengacara Anda adalah Anda sama sekali tidak ingat telah melakukan tindak kejahatan yang oleh seorang detektif kemudian diceritakan kepada Anda. Anda sangat panik karena tidak dapat menjelaskan kurun waktu di saat pembunuhan tersebut dilakukan pada kenyataannya, ingatan Anda sama sekali kosong untuk keseluruhan waktu tersebut. Dan, seolah-olah hal itu belum cukup aneh, detektif tersebut mempertontonkan kepada Anda sebuah rekaman video di mana Anda dengan jelas menembak seorang teller bank dalam perampokan tersebut. “Apakah orang yang ada dalam rekaman video itu Anda?” tanya si detektif. Anda berbicara dengan pengacara Anda, berkata bahwa orang itu memang mirip dengan Anda, termasuk pakaian yang dikenakan, namun Anda dinasihati untuk tidak mengakui apa pun dengan cara apa pun.

Mari kita percepat ke masa persidangan Anda beberapa bulan kemudian. Para saksi telah diajukan dan mengidentifikasi Anda tanpa ada keraguan yang masuk akal. Tidak ada satu pun orang yang Anda kenal yang dapat bersaksi bahwa Anda berada di tempat lain pada siang hari terjadinya perampokan dan pembunuhan tersebut. Dan tam-pak jelas bahwa juri akan memutuskan bahwa Anda, dalam istilah Szasz, bertanggung jawab secara deskriptif atas tindak kejahatan tersebut. Namun, apakah Anda membunuh teller bank tersebut? Anda dapat mengatakan dengan jujur kepada diri sendiri dan para juri bahwa Anda tidak membunuhnya. Namun, bahkan Anda sendiri telah memercayai bahwa orang yang terlihat di dalam rekaman tersebut adalah Anda, dan bahwa orang tersebut melakukan perampokan dan pembunuhan.

Karena keanehan kasus tersebut, sebelum persidangan dimulai pengacara Anda mengatur agar Anda diwawancarai oleh seorang psikiater dan psikolog klinis, keduanya ahli forensik yang terkenal. Melalui wawancara intensif mereka memutuskan bahwa Anda menderita gangguan identitas dissosiatif (GID, sebelumnya disebut gangguan kepribadian ganda) dan bahwa kejahatan tersebut tidak dilakukan oleh Anda, Jane Smith, namun oleh pribadi Anda yang lain yang memang kejam, yaitu Laura. Memang dalam satu wawancara, Laura muncul dan mengumbar cerita tentang kejahatan tersebut, bahkan dengan tenang menertawakan fakta bahwa Anda, Jane, akan dipenjara karenanya.

Gambaran fiksional tersebut bukan gambaran yang sangat jauh seperti yang mungkin Anda pikirkan. Para pengacara kesehatan mental selama beberapa waktu telah mengkhawatirkan skenario semacam itu seiring pergulatan mereka dengan berbagai macam aspek pembelaan ketidakwarasan. Namun, hampir semua orang yang berhasil menggunakan pembelaan ini didiagnosis menderita skizofrenia (atau secara lebih umum, sebagai psiko tik), dan GID dianggap sebagai suatu gangguan disosiatif (dan sebelumnya diklasifikasikan sebagai salah satu neurosis). Bisakah GID dijadikan alasan atas suatu tindak kejahatan? Haruskah Jane Smith dinyatakan bertanggung jawab secara atributif atas kejahatan yang dilakukan oleh pribadinya yang lain, Laura? Kerumitan ini jelas terlihat dalam judul sebuah artikel tentang isu GID: “Siapa yang Diadili?”.

Pertimbangkan prinsip hukum yang diterima luas bahwa orang-orang yang dituduh melakukan kejahatan hanya dapat dihukum jika mereka dapat dipersalahkan. Beberapa keputusan pengadilan dan hukum yang telah kita kaji dalam bab ini seluruhnya didasari oleh prinsip ini. Dalam berbagai kajian terhadap literatur GID dan implikasi forensiknya, Elyn Saks dari Pusat Hukum Universitas California Selatan berpendapat bahwa harus dianggap sebagai kasus khusus dalam hukum kesehatan mental, dan bahwa suatu prinsip hukum baru harus ditetapkan, yaitu “ketidakbertanggungjawaban dengan alasan gangguan kepribadian ganda.” Argumennya mengangkat isu praktik hukum yang akan menyatakan bahwa seorang yang menderita G1D bertanggung jawab secara atributif atas suatu kejahatan selama kepribadian yang bertindak pada saat terjadinya kejahatan tersebut melakukannya dengan sengaja.

Yang menarik dalam argumen Saks adalah ia mende-dikasikan sebagian besar dari argumentasi tersebut untuk mendefinisikan keseorangan (personhood). Apakah yang dimaksud dengan orang? Apakah orang adalah tubuh yang kita tinggali? Baiklah, hampir sepanjang waktu rasa kita mengenai siapa diri kita sebagai orang tidak bertentangan dengan tubuh yang kita ketahuisebagai tubuh kita, atau lebih tepat, sebagai hita. -Nnun, dalam GID terdapat suatu perbedaan. Tubuh yang melakukan keja-hatan di bank adalah Jane Smith. Namun, yang melakukan kejahatan tersebut adalah pribadinya yang lain, Laura. Saks berpendapat bahwa, seaneh kedengarannya, hukum harus memandang tubuh hanya sebagai tempat penyim-panan bagi orang tersebut. Oranglah yang dapat atau tidak dapat dipersalahkan, bukan tubuh. Hampir sepanjang waktu tubuh dan orang adalah satu dan sama, namun dalam kasus GID kedua hal itu tidak sama. Dalam hal ini, Laura melakukan tindak kejahatan tersebut dengan menggunakan tubuh Jane.

Maka, apakah Jane dapat dipersalahkan? Orang yang bernama Jane tidak melakukan kejahatan tersebut; ia bahkan tidak mengetahui tentang kejahatan itu. Saks berpendapat, akan tidak adil bila hakim menghukum Jane, atau secara lebih spesifik, tubuh di ruang sidang yang biasanya dipanggil dengan nama itu, karena Jane secara deskriptif tidak bersalah. Secara pasti, memasukkan Jane ke penjara akan menghukum Laura, karena kapan pun Laura muncul, ia akan mendapati dirinya ada di penjara. Namun bagaimana dengan Jane? Saks menyimpulkan bahwa tidak adil memenjarakan Jane karena ia tidak dapat dipersalahkan. Lebih baik, kita harus memutuskan bahwa ia tidak bersalah dengan alasan gangguan identitas disosiatif dan menahannya untuk mendapatkan penanganan atas gangguan tersebut.

Meskipun demikian, gangguan identitas disosiatif tidak akan menjadi justifikasi untuk suatu putusan tidak bersalah dengan alasan ketidakwarasan jika pribadi yang tidak melakukan kejahatan tersebut menyadari niat jahat pribadi yang lain dan tidak melakukan tindakan apa pun untuk mencegah tindak kejahatan tersebut. Dalam situasi ini, Saks berpendapat, pribadi pertama terlibat dalam kejahatan tersebut dan karena itu cukup dapat dipersalahkan. Sebuah perbandingan yang digunakan Saks adalah karakter fiksi Robert Louis Stevenson yaitu Dr. Jekyll dan Tuan Hyde. Jekyll membuat ramuan yang menyebabkan munculnya Tuan Hyde, pribadinya yang lain, dengan telah mengetahui sebelumnya bahwa Hyde akan melakukan kejahatan. Saks optimis dengan efektivitas terapi untuk GID dan yakin bahwa orang-orang seperti Jane/Laura dapat digabungkan menjadi satu kepribadian dan kemudian dibebaskan untuk kembali ke masyarakat. Saks melangkah jauh untuk berpendapat bahwa orang-orang dengan GID yang dinilai berbahaya, namun belum melakukan tindak kejahatan harus menjadi subjek komitmen sipil meskipun hal itu akan sama artinya dengan penahanan preventif. Dengan cara ini, ia berpendapat, kejahatan di masa depan dapat dicegah.

Filed under : Bikers Pintar,