PENGERTIAN GANGGUAN KEPRIBADIAN

106 views

PENGERTIAN GANGGUAN KEPRIBADIAN – Dimasukkan dalam Aksis II, gangguan kepribadian didefinisikan sebagai pola perilaku dan pengalaman dalam diri yang menetap, tidak fleksibel, dan maladaptif. Beberapa contoh termasuk:
• Pada gangguan kepribadian skizoid orang tersebut selalu menyendiri, hanya mempunyai sedikit teman, dan tidak peduli dengan pujian atau kritikan.
• Individu yang mengalami gangguan kepribadian narsistik memiliki perasaan yang berlebihan bahwa dirinya penting, mengkhayalkan kesuksesan besar, membutuhkan perhatian terus-menerus, dan sangat mungkin mengeksploitasi orang lain.
• Gangguan kepribadian antisosial terlihat sebagai gangguan tingkah laku sebelum orang tersebut mencapai usia 15 tahun dan terwujud dalam tingkah laku membolos, lari dari rumah, kenakalan yang menjurus ke kriminalitas, dan kekasaran umum. Di masa dewasa orang tersebut tidak peduli untuk memiliki pekerjaan atau tidak, menjadi pasangan atau orang tua yang bertanggung jawab, merencanakan masa depan atau bahkan hari esok, dan menaati hukum. Orang-orang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial—yang juga disebut psikopatitidak merasa bersalah atau malu untuk melanggar moral sosial.
• Diagnosis merupakan aspek penting dalam bidang psikologi abnormal. Adanya sistem klasifikasi yang disepakati bersama memung-kinkan para ahli klinis saling berkomunikasi secara efektif dan memudahkan upaya untuk mencari penyebab dan penanganan berbagai psikopatologi.
• Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), diterbitkan oleh American Psychiatric Association, adalah skema klasifikasi resmi yang digunakan secara luas oleh para profesional kesehatan mental. Sebuah revisi edisi keempat manual tersebut, yang disebut DSM-IV-TR, diterbitkan pada tahun 2000.
• Ciri khas DSM edisi saat ini adalah pengaturan multiaksial. Setiap kali suatu diagnosis dite-gakkan, ahli klinis harus menjelaskan kondisi pasien berdasarkan setiap aksis dari lima aksis, atau dimensi, yang ada. Suatu diagnosis mul-tiaksial diyakini memberikan deskripsi gangguan mental yang lebih multidimensional dan bermanfaat tentang gangguan jiwa pasien.
• Dalam organisasi multiaksial, Aksis I dan II mencakup gangguan mental itu sendiri; Aksis III mencakup setiap gangguan fisik yang diyakini memengaruhi gangguan mental terkait; Aksis IV digunakan untuk mengindikasikan masalah psikososial dan lingkungan yang dialami pasien; dan Aksis V mengukur tingkat keberfungsian adaptif saat ini.
• Beberapa kritik terhadap DSM tidak menyetujui klasifikasi secara umum. Mereka beranggapan bahwa mengklasifikasikan seseorang menyebabkan hilangnya informasi mengenai orang tersebut. Klasifikasi juga dapat menyebabkan stigmatisasi dan efek negatif lain bagi individu yang didiagnosis.
• Kelemahan spesifik DSM juga telah diidentifikasi. Salah satu kritik penting berkaitan dengan apakah sistem klasifikasi kategorikal yang digunakan dalam DSM dapat dibenarkan. Sistem semacam itu menggunakan pendekatan ya-tidak untuk mendiagnosis dan tidak memungkinkan kontinuitas antara perilaku normal dan abnormal, secara kontras, suatu sistem klasifikasi di-mensional menempatkan perilaku pada satu kontinum. Isu klasifikasi kategorikal versus dimensional hingga saat ini belum terselesaikan.
• Kritik spesifik lain yang juga penting berkaitan dengan reliabilitas dan validitas berbagai kategori diagnostik DSM. Karena versi-versi terbaru DSM lebih konkret dan deskriptif dibanding versi-versi lama, reliabilitas interratermeningkat—yaitu, para ahli diagnostik independen saat ini memiliki kemungkinan mencapai kesepakatan terhadap diagnosis suatu kasus tertentu. Namun, validitas konstruk seberapa baik suatu diagnosis terkait dengan aspek-aspek lain pada suatu gangguan, seperti prognosis dan respons terhadap penanganan—tetap menjadi suatu pertanyaan terbuka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *