PENGERTIAN GANGGUAN MAKAN BERLEBIHAN

41 views

PENGERTIAN GANGGUAN MAKAN BERLEBIHAN – Gangguan ini mencakup makan berlebihan yang berulang (dua kali seminggu selama sekurangkurangnya enam bulan), kurangnya kontrol diri selama episode makan berlebihan, dan merasa tertekan karena makan berlebihan, serta berbagai karakteristik lain, seperti makan dengan cepat dan makan secara diam-diam. Kondisi ini dibedakan dari anoreksia nervosa dalam hal tidak terjadinya penurunan berat badan dan dari bulimia nervosa dalam hal tidak adanya perilaku kompensatori (pengurasan, berpuasa, atau olahraga berlebihan).

Meskipun kondisi ini tidak memenuhi batasan untuk dimasukkan dalam DSM versi saat ini (lihat Fairburn, Welsh, & Hay, 1993), gangguan makan berlebihan memiliki beberapa ciri yang mendukung validitasnya. Gangguan ini lebih sering terjadi pada perempuan dibanding pada laki-laki dan dihubungkan dengan obesitas dan riwayat melakukan diet (Kinzl dkk., 1999; Pike dkk., 2001). Gangguan ini dikaitkan dengan hendaya fungsi pekerjaan dan sosial, depresi, harga diri yangrendah, penyalahgunaan zat, dan ketidakpuasan atas bentuk tubuh (Spitzer dkk., 1993; StriegelMoore dkk., 1998, 2001). Faktor-faktor risiko terbentuknya gangguan makan berlebihan mencakup obesitas pada masa kanak-kanak, komentar-komentar bernada mengkritik atas berat badan yang berlebihan, konsep diri yang rendah, depresi, dan penyiksaan fisik atau seksual pada masa kanak-kanak (Fairburn dkk., 1998). Gangguan makan berlebihan tampaknya lebih prevalen dibanding anoreksia nervosa maupun bulimia nervosa, terutama pada individu yang mencari penanganan untuk mengendalikan berat badan. Dalam sampel komunitas gangguan ini terjadi pada 6 persen dari orang-orang yang berhasil menjalani diet (mereka yang mempertahankan berat badan secara stabil selama lebih dari setahun) dan pada 19 persen dan orang-orang yang gagal menjalani diet (Ferguson & Spitzer, 1995). Satu keuntungan memasukkan gangguan ini sebagai diagnosis adalah diagnosis ini dapat ditegakkan pada banyak pasien yang saat ini mendapatkan diagnosis yang tidak jelas yaitu “gangguan makan yang tidak ditentukan (YTT)” karena mereka tidak memenuhi kriteria anoreksia atau bulimia (Spitzer dkk., 1993).
Meskipun demikan, beberapa peneliti tidak menganggap gangguan makan berlebihan sebagai kategori diagnostik tersendiri, namun sebagai versi bulimia nervosa yang tidak parah. Alasannya adalah hanya sedikit perbedaan yang ditemukan antara perempuan yang menderita gangguan makan berlebihan dan bulimia nervosa tipe nonpengurasan (Hay & Fairburn, 1998; Joiner, Vohs, & Heatherton, 2000; StriegelMoore dkk., 2001). Pemisahan ini menjadi lebih sulit dengan adanya fakta bahwa tipe nonpengurasan dalam bulimia nervosa cukup jarang terjadi sehingga perbandingan dengan sampel besar sulit dilakukan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *