PENGERTIAN GANGGUAN MAKAN DAN OTAK

63 views

PENGERTIAN GANGGUAN MAKAN DAN OTAK – Hipotalamus adalah pusat otak yang penting dalam pengaturan rasa lapar dan makan. Penelitian pada hewan yang mengalami lesi pada lateral hipotalamusnya mengindikasikan bahwa mereka mengalami penurunan berat badan dan tidak memiliki selera makan (Hoebel & Teitelbaum, 1966). Dengan demikian, tidak mengherankan bila hipotalamus dianggap berperan dalam anoreksia. Kadar beberapa hormon yang diatur oleh hipotalamus, seperti kortisol, memang tidak normal pada penderita anoreksia; namun bukan merupakan penyebab anoreksia, melainkan merupakan akibat kondisi melaparkan diri sendiri, dan kadarnya kembali normal seiring dengan bertambahnya berat badan (Doerr dkk., 1980; Stoving dkk., 1999). Terlebih lagi, penurunan berat badan pada hewan yang mengalami lesi pada hipotalamusnya tidak sejalan dengan apa yang kita ketahui tentang anoreksia. Hewan-hewan tersebut tampak tidak memiliki rasa lapar dan tidak tertarik pada makanan, sedangkan penderita anoreksia terus-menerus melaparkan diri meskipun merasa lapar dan berselera pada makanan. Model hipotalamus juga tidak berperan dalam gangguan citra tubuh atau rasa takut menjadi gemuk. Hipotalamus yang mengalami disfungsi tampaknya tidak memiliki kemungkinan besar sebagai suatu faktor dalam anoreksia nervosa.

Opioid endogenus adalah zat yang diproduksi tubuh yang mengurangi sensasi sakit, meningkatkan mood, dan menekan selera makan, setidak-tidaknya pada mereka yang memiliki berat badan rendah. Opioid diproduksi dalam kondisi kelaparan dan dianggap berperan dalam anoreksia dan bulimia, namun dengan cara yang berbeda. Kelaparan pada pasien anoreksia dapat menaikkan kadar opioid endogenus, yang menyebabkan kondisi eforia yang memberikan penguatan positif (Marrazzi & Luby, 1986). Terlebih lagi, olahraga berlebihan yang dilakukan beberapa pasien akan menaikkan opioid sehingga menjadi suatu penguatan (Davis, 1996: Epling & Pierce, 1992). Hardy dan Waller (1988) mengajukan hipotesis bahwa bulimia dimediasi oleh kadar opioid endogenus yang rendah, yang diperkirakan menimbulkan rasa lapar; suatu kondisi eforia kemudian dihasilkan oleh pencernaan makanan, sekaligus menguatkan kondisi makan berlebihan.

Beberapa data memperkuat teori bahwa opioid endogenus berperan dalam gangguan makan, paling tidak bulimia. Contohnya, Waller dkk. (1986) dan Brewerton dkk. (1992) menemukan kadar beta-endorfin opioid endogenus yang rendah pada pasien bulimia. Dalam studi yang dilakukan Waller juga diamati bahwa semakin parah kasus-kasus bulimia memiliki kadar beta-endorfin yang lebih rendah. Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa rendahnya kadar opioid terjadi bersamaan dengan bulimia, tidak terlihat bahwa kadar rendah tersebut terjadi sebelum timbulnya gangguan tersebut. Perubahan asupan makanan dapat memengaruhi sistem opioid dan bukan sebaliknya. Memang, memberikan zat anti opioid kepada orang-orang yang mengalami obesitas terbukti dapat mengurangi asupan makanan (Drewnowski dkk., 1992). Dengan demikian, tidak jelas apakah sistem opioid terlibat dalam etiologi bulimia baik secara langsung maupun tidak langsung. Terakhir, beberapa penelitian memfokuskan pada beberapa neurotransmitter yang berhubungan dengan makan dan rasa kenyang. Penelitian terhadap hewan menunjukkan bahwa serotonin menyebabkan rasa kenyang. Dengan demikian, bisa saja bahwa makan berlebihan pada penderita bulimia dihasilkan dari kurangnyz serotonin yang menyebabkan mereka tidak merasa kenyang pada saat makan. Penelitian pada hewan juga menunjukkan bahwa terbatasnya asupan makanan memengaruhi sintesis serotonin di dalam otak. Dengan demikian, pada pasien anoreksia, asupan makanan yang sangat terbatas dapat menghambat sistem serotonin.

Para peneliti telah menguji kadar serotonin dan berbagai neurotransmitter lain atau zat metabolitnya pada para penderita anoreksia dan bulimia. Beberapa studi menemukan kadar metabolit serotonin yang rendah pada pasien anoreksia (a.1., Kaye, Ebert, Raliegh, & Lake, 1984). Selain itu, para penderita anoreksia yang berat badannya tidak kembali normal menunjukkan respons yang lebih kecil terhadap agonis serotonin dibanding para pasien yang berat badannya kembali normal, sekali lagi menunjukkan sistem serotonin yang kurang aktif (Attia dkk., 1998; Ferguson dkk., 1999; Kaye dkk., 2000). Meskipun demikian, dari berbagai studi lain ditemukan bukti-bukti meningkatnya metabolit serotonin di dalam plasma atau cairan serebrospinal (CSF-cerebrospinal fluid) pada pasien anoreksia (Kaye dkk., 1991) sehingga peran serotonin dalam anoreksia tidak sepenuhnya jelas. Terkait bulimia, bukti-bukti yang ada tampaknya lebih konsisten, di mana sebagian besar temuan menunjukkan turunnya kadar metabolit serotonin (a.1., Carrasco dkk., 2000; Jimerson dkk., 1992; Kaye dkk., 1998). Para penderita bulimia juga menunjukkan respons yang lebih kecil terhadap agonis serotonin (Jimerson dkk., 1997; Levitan dkk., 1997). Lebih jauh lagi, bila pada pasien yang telah sembuh dari bulimia nervosa kadar seroton-intiya menurun, mereka menunjukkan peningkatan kognisi terkait gangguan makan, seperti merasa gemuk. Data lain mendukung pemikiran bahwa kurangnya serotonin dapat terkait dengan anoreksia dan bulimia. Obat-obat antidepresan yang sering kali merupakan penanganan efektif bagi anoreksia dan bulimia (akan dibahas nanti) dike tahui meningkatkan kadar serotonin sehingga memperbesar kemungkinan pentingnya serotonin. Terakhir, serotonin dapat terkait dengan depresi komorbid yang sering kali terdapat pada anoreksia dan bulimia dan dengan perilaku impulsif pasien yang menderita bulimia nervosa.

Meskipun kita dapat berharap akan adanya penelitian biokimia lebih jauh pada masa mendatang, penting untuk diingat bahwa sebagian besar penelitian tersebut difokuskan pada mekanisme otak yang relevan dengan rasa lapar, makan, dan rasa kenyang dan tidak banyak melibatkan ciri-ciri penting lain kedua gangguan tersebut, khususnya ketakutan yang amat sangat m.enjadi gemuk. Terlebih lagi, seperti telah disebutkan, tidak jelas apakah perubahan otak mendahului onset gangguan makan. Lingkungan sosial dan budaya tampaknya berperan dalam persepsi yang salah dan kebiasaan makan orang-orang yang mengalami gangguan makan, dan setelah ini kita akan membahas pengaruh faktor-faktor tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *