Advertisement

Hubungan antarpribadi yang dimulai dari komunikasi antar pribadi dapat meningkat ke arah yang makin erat, makin akrab, sampai pada hubungan, sahabat, pacar, dan perkawinan. Akan tetapi, pada tahap mana pun, hubungan itu dapat terganggu, bahkan sampai terputus.

Sumber-sumber konflik yang dapat mengganggu hubungan antarpribadi, antara lain adalah perilaku-perilaku tertentu seperti tidak dapat dipercaya (Buss, 1989), watak yang tidak menyenangkan, emosi yang tidak stabil (Cotterell, Eisenberger & Speicher, 1992), Ketidaksamaan yang terungkap dalam sikap, kebiasaan, nilai, dan sebagainya (Byrne & Murnen, 1983) (misalnya Pangeran Charles menyukai museum, opera, dan liburan di Skotlandia, sedangkan Putri Di yang 13 tahun lebih muda menyenangi musik rok, kelab malam dan kota London), kebosanan (Hill, Rubin, Peplau, 1976), kata-kata dan perbuatan yang positif (sayang, manis dan ;;ebagair.ya) mulai diganti dengan yang negatif (makian dan lainiaii\) (Margolin, John & O’Brien, 1989), dan saling menyalahkan (Bradbury & Fincham, 1992).

Advertisement

Dampak putus hubungan

Putusnya hubungan antarpribadi dapat menimbulkan perasaan bersaiah. Jika yang putus itu adalah hubungan percintaan, dampaknya lebih berat daripada hubungan persahabatan. Putus hubungan cinta dapat menimbulkan perasaan tidak tenang dan selalu menimbulkan perasaan sakit hati dan kemarahan (Rose, 1984). Dalam hal ini. jika sudah ada alternatif lain atau hubungan antarpribadi lainnya yang setara sebagai pengganti, dampaknya tidak terlalu berat daripada jika hubungan itu putus begitu saja (Jemmot, Ashby & Lindenfeld, 1989).

Reaksi orang terhadap memburuknya hubungan antarpribadi dapat berupa reaksi yang aktif atau pasif dan masing-masing terdiri atas reaksi yang positif dan negatif (Rushbult & Zembrodt, 1983) (1) reaksi aktif yang positif (voive) adalah mengusahakan untuk memperbaiki hubungan itu, (2) reaksi aktif yang negatif (exit) adalah memutuskan untuk menyudahi hubungan itu, (3) Reaksi pasif yang positif (loyalty) adalah menunggu perkembangan sampai membaik sendiri, dan (4) reaksi pasif yang negatif (neglect) adalah mengabaikan hubungan itu dan menunggu sampai dengan sendirinya terjadi perkembangan yang memburuk.

Kesepian

Sisi lain dari hubungan antarpribadi adalah kesepian (loneliness). Kesepian adalah perasaan yang timbul jika harapan untuk terlibat dalam hubungan yang akrab dengan seseorang tidak tercapai (Peplau & Perlman, 1981). Perasaan ini biasa timbul pada orang yang harus pindah ke kota lain dan meninggalkan sahabatsahabatnya di kota yang lama, orang yang harus pensiun dan meninggalkan teman-teman sekerjanya, orang yang ditinggal pergi jauh oleh kekasihnya, putus dari pacar atau kematian orang tua.

Karena sifatnya yang berupa perasaan, kesepian bersifat subjektif. Ia harus dibedakan dari pengertian kesendirian. Kesendirian lebih bersifat fisik objektif, yaitu suatu keadaan di mana seseorang sedang tidak bersama orang lain. Orang dapat menunggu bus umum sendirian, tetapi ia tidak merasa sepi, karena sebentar lagi ia akan sampai di rumah dan bertemu dengan keluarga yang dicintainya. Di pihak lain, orang dapat menunggu bus beramai-ramai dengan orang lain tetapi perasaannya sepi, karena ia akan pulang ke tempat indekostnya, jauh dari keluarga, jauh dari teman-teman karib, dan jauh dari pacar. Jadi, orang dapat merasa sepi, walaupun tidak sendiri. Akan tetapi, dapat juga merasa sendiri, namun tidak sepi.

Dalam hubungan inilah dapat dimengerti bahwa masa remaja adalah masa vang penuh kemungkinan terjadinya kesepian, karena remaja mengalami berbagai proses perpisahan dalam tempo yang singkat (pindah sekolah, kuliah, pergi dari orang tua, putus dari pacar, dan sebagainya) dalam rangka pencarian jatidirinya (Brennan, 1982). Salah satu akibat dari rasa kesepian pada remaja ini adalah keputusasaan (Page, 1991), sehingga di berbagai lingkungan budaya cukup sering terjadi remaja yang bunuh diri. Untuk menga-tasi keputusasaan itu diperlukan keterampilan sosial yang baik, yang tidak dimiliki oleh setiap orang.

Mereka yang tidak mempunyai cukup keterampilan sosial (kurang dapat bergaul) biasanya melarikan diri ke khayalannya sendiri (menjadi pelamun) atau menjadi peminum alkohol atau penyalangunaan obat (Revenson, 1981). Sebagian yang lain lari ke musik, tetapi hasilnya malah semakin depresi (Davis & Kraus, 1989).

Karena itu, salah satu cara untuk membantu orang-orang yang menderita kesepian adalah memberikan pelatihan keterampilan sosial (Solano & Koester, 1989), misalnya dengan cara menunjukkan model lewat rekaman video dan penderita diminta menirukan perilaku model sambil direkam dan hasil rekamannya dianalisis bersama-sama. Cara lain adalah dengan memberikan terapi kognitif, yaitu dengan cara mengusahakan perubahan skema atau kategori kognitif seseorang, misalnya dari pemalu menjadi pemberani, dari tidak percaya diri, jadi penuh percaya diri dan sebagainya (Asendorpf, 1989).

Walaupun demikian, perlu dicatat juga bahwa tidak selamanya kesendirian dan kesepian berujung pada keputusasaan dan depresi.

Incoming search terms:

  • reaksi yang timbul memburuk hubungan antar pribadi

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • reaksi yang timbul memburuk hubungan antar pribadi