PENGERTIAN GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN ATAU HIPERAKTIVITAS

Salah satu gangguan eksternalisasi adalah gangguan pemusatan perhatian/hiperaktivitas (ADHD). Istilah hiperaktif tidak asing bagi sebagian besar orang, terutama para orang tua dan guru. Seorang anak yang selalu bergerak, mengetuk-ketukan jari, menggoyanggoyangkan kaki, mendorong tubuh anak lain tanpa alasan yang jelas, berbicara tanpa henti, dan bergerak gelisah sering kali disebut hiperaktif. Anak-anak tersebut juga sulit berkonsentrasi pada tugas yang sedang dikerjakannya dalam waktu yang tertentu yang wajar.

Apa yang membedakan tingkat perilaku hiperaktif normal dengan gangguan yang dapat didiagnosis? Bila perilaku tersebut bersifat ekstrem dalam periode perkembangan tertentu, kemudian terjadi dalam berbagai situasi yang berbeda dan berhubungan dengan disabilitas parah dalam fungsi, diagnosis ADHD dapat ditegakkan. Diagnosis ADHD tidak tepat untuk anakanak yang ribut, aktif, atau agak mudah teralih perhatiannya karena di tahunztahun awal sekolah anak-anak sering berperilaku demikian. Label tersebut diberikan hanya karena seorang anak lebih aktif dan lebih sulit dikendalikan dari yang diharapkan orang tua dan guru mencerminkan penyalahgunaan istilah tersebut. Diag-nosis ADHD ditegakkan hanya pada kasus yang benar-benar ekstrem dan terus-menerus.

Anak-anak yang mengalami ADHD tampak mengalami kesulitan untuk mengendalikan aktivitas mereka dalam berbagai situasi yang menghendaki mereka duduk tenang, seperti di dalam kelas atau saat makan. Bila disuruh untuk tenang; mereka tampaknya tidak bisa berhenti bergerak atau berbicara. Mereka terdisorganisasi, eratik, tidak berperasaan, keras kepala, dan bossy. Aktivitas dan gerakan mereka tampak tidak teratur dan tidak terarah. Mereka membuat pakaian dan sepatu mereka cepat rusak, merusak mainan, dan menghabiskan tenaga orang tua dan guru-guru mereka. Meskipun demikian, mereka sulit dibedakan dari anak-anak yang tidak mengalami ADHD ketika sedang bermain bebas, di mana hanya terdapat sedikit pembatasan pada perilaku. Hal ini mengindikasikan bahwa anak-anak yang tidak mengalami ADHD juga dapat sama ributnya dan sama di luar batasnya dengan anak-anak yang mengalami ADHD bila tidak ada batasan-batasan dari orang dewasa.

Banyak anak yang mengalami ADHD mengalami kesulitan besar untuk bermain bersama anak-anak seusia mereka dan menjalin persahabatan, mungkin karena perilaku mereka sering kali agresif dan secara umum tidak menyenangkan serta mengganggu bagi yang lain. Meskipun anak-anak tersebut biasanya ramah dan banyak bicara, mereka sering kali tidak mampu memahami tanda-tanda sosial yang halus, seperti memerhatikan bahwa teman-teman bermain mereka merasa lelah dengan perilaku mereka yang tidak bisa tenang. Mereka juga sering kali salah menginterpretasi keinginan dan maksud teman-teman sebaya mereka dan melakukan berbagai kesalahan sosial tanpa sengaja, seperti bereaksi secara agresif karena mereka berasumsi bahwa suatu tindakan netral yang dilakukan seorang teman sebaya merupakan tindakan agresif. (Misatribusi kognitif semacam itu juga terdapat pada beberapa anak yang mengalami gangguan tingkah laku). Sebuah studi yang melibatkan pengamatan terhadap anak-anak yang bermain geethall meja menunjukkan bahwa anak-anak yang mengalami ADHD, terutama yang juga agresif, memiliki tujuan sosial yang berbeda dengan anak-anak yang menjacii pembanding. Anak-anak ADHD yang agresif bermain dengan tujuan mencari sensasi seperti membuat keributan, berusaha mendominasi, dan pamer, sedangkan anak-anak pembanding lebih mungkin memiliki tujuan untuk bermain sportif.

Anak-anak dengan ADHD dapat mengetahui tindakan yang dibenarkan secara sosial dalam berbagai situasi hipotesis, namun tidak mampu mempraktikkan pcngetahuan tersebut ke dalam perilaku yang sesuai dalam interaksi sosial yang nyata. Anak-anak dengan ADHD sering kali dengan cepar dijauhi dan ditolak atau diabaikan oleh teman-teman seusia mereka. Contohnya, dalank sebuah studi terhadap anak-anak laki-laki yang sebelumnya tidak saling mengenal sebuah perkemahan musim panas, anak-anak dengan ADHD yang menunjukkan sejumlah perilaku eksternalisasi, seperti agresi yang tampak jelas dan ketidakpatuhan, dinilai cukup negatif oleh teman-teman seusia mereka pada hari pertama perkemahan dan kesan tersebut tetap tidak berubah selama enam minggu masa perkemahan.

Sekitar 15 hingga 30 persen anak-anak dengan ADHD mengalami disabilitas belajar dalam matematika; membaca, atau mengeja dan sekitar separuh anak-anak dengan ADHD dimasukkan dalam berbagai program pendidikan khusus karena mereka sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan kelas yang normal (Barkley dkk., 1990).

Karena simtom-simtom ADHD bervariasi, DSM-IV-TR mencantumkan tiga subkategori, yaitu sebagai berikut.

1. Tipe Predominan inatentif: Anak-anak yang masalah utamanya adalah rendahnva konsentrasi

2. Tipe Predominan Hiperaktif-Impulsif: Anak-anak yang masalahnya teruta17.1 diakibatkan oleh perilaku hiperaktif-impulsif

3. Tipe Kombinasi: Anak-anak yang mengalami kedua rangkaian masalah di atas

Tipe kombinasi merupakan tipe yang paling banyak dialami oleh anak-anak ADHD Anak-anak tersebut lebih mungkin mengalami berbagai masalah tingkah laku dat-menunjukkan perilaku oposisi, dimasukkan dalam berbagai kelas khusus untuk anakanak yang mengalami gangguan perilaku, dan mengalami kesulitan untuk berinteralc dengan anak-anak seusia mereka (Barkley dkk., 1990; Faraone dkk., 1998). Anakanak yang mengalami masalah atensi, namun memiliki tingkat aktivitas yang sesuz: dengan tahap perkembangannya tampak lebih sulit memfokuskan perhatian atau lebek lambat dalam memproses informasi, mungkir berhubungan dengan masalah pada daerah frontal atau striatal otak (Tannock, 1998,, Bukti yang terkumpul menunjukkan bahwa akan lebih baik bila melihatnya sebagn dua gangguan yang terpisah, yang satu berkaitan dengan inatensi dan yang lain berkaitza dengan inatensi serta perilaku hiperaktif/impulsif. Meskipun demikian, sebagian besar teori dan penelitian

ADHD tidak membedakan keduanya. Terlebih lagi, tidak jelas apakah beberapa pe-Lie-daan yang tampak antara tipe kombinasi dan tipe predominan inatentif juga terciaper pada anak-anak perempuan dengan ADHD (a.l., Biederman dkk., 1999; Hinshal« media; Hinshaw dkk., di media).

Kesulitan dalam membedakan diagnosis adalah antara ADHD dan gangguan tingitatt laku (GTL), yang mencakup pelanggaran besar terhadap norma-norma sosial. Kesamaan sebanyak 30 hingga 90 persen antara kedua kategori tersebut menyebabkan beberapa peneliti berpendapat bahwa kedua tipe ganggzia eksternalisasi tersebut pada dasarnya merupakan gangguan yang sama. Meskipun demikian, terdapat beberapa perbedaan antara keduanya. ADHD lebih Derhubungan dengan perilaku tidak mengerjakan tugas di sekolah, kelemahan kognitif dan rendahnya prestasi, dan prognosis jangka panjang lebih baik. Anak-anak yang mengalami gangguan tingkah laku bertingkah di sekolah dan di mana pun dan kemungkinan jauh lebih agresif serta mungkin memiliki orang tua yang antisosial. Kehidupan dalam keluarga mereka juga ditandai dengan kekerasan dalam keluarga dan status sosioekonomi rendah, dan mereka jauh lebih berisiko melakukan kenakalan dan penyalahgunaan zat di masa remaja.

Bila kedua gangguan tersebut dialami oleh seorang anak, karakteristik yang paling Duruk dari masing-masing gangguan tersebut akan terwujud dalam perilakunya. Anakanak semacam itu menunjukkan perilaku antisosial yang paling parah, paling mungkin ditolak oleh teman-teman seusia mereka, memiliki prestasi akademik terburuk, dan memiliki prognosis terburuk. Ada pendapat bahwa anak-anak vang mengalami ADHD dan sekaligus gangguan tingkah laku membentuk kategori tersendir-i- yang sangat mungkin berlanjut menjadi pola psikopatik gangguan keDribadian antisosial ketika dewasa. ADHD dapat :erjadi lebih dulu, dengan perilaku buruk si anak yang menimbulkan reaksi keras dari :eman-teman sebaya dan orang dewasa; kemudian situasi tersebut memburuk dengan serangan dan serangan balik yang lebih ekstrem, yang akhirnya menghasilkan perilaku agresif yang merupakan karakteristik gangguan tingkah laku. Memang, mengalami ADHD berhubungan dengan onset usia dini dari simtom-simtom GTL.

Gangguan internalisasi, seperti kecemasan dan depresi, juga sering kali dialami bersamaan dengan ADHD. Estimasi belum lama ini menunjukkan kemungkinan bahwa sebanyak 30 persen anak-anak dengan ADHD juga mengalami simtom-simtom atau gangguan internalisasi (a.1., Jensen dkk., 1997; MTA Cooperative Group, 1999b).

Prevalensi ADHD sulit dipastikan karena bervariasinya definisi gangguan tersebut dari waktu ke waktu dan perbedaan dalam populasi yang dijadikan sampel. Estimasi bervariasi antara 2 hingga 7 persen di Amerika Serikat, New Zealand, dan Jerman, dengan persentase yang agak lebih di India dan China. Konsensusnya adalah sekitar 3 hingga 7 persen anak-anak usia sekolah di seluruh dunia saat ini mengalami ADHD (DSM-IV-TR, 2000).

Sangat banyak bukti yang mengindikasikan bahwa ADHD lebih banyak terjadi pada .3,nak laki-laki daripada anak perempuan, namun angka pastinya tergantung pada apakah sampel tersebut diambil dari rujukan klinis atau dari populasi umum. Anak-anak lakiiaki lebih mungkin dirujuk ke klinik karena lebih tingginya kemungkinan perilaku agresif dan antisosial pada mereka. Hingga baru-baru ini, sangat sedikit dilakukan studi yang dikendalikan dengan hati-hati terhadap anak-anak perempuan dengan ADHD. Karena sangat sedikit penelitian yang dilakukan dengan menggunakan sampel anak-anak perempuan, karakteristik, korelasi, gangguan komorbid, dan defisit sosial sjan kognitiflain pada sampel anak-anak perempuan dengan ADHD yang dipilih dengan

Dua kelompok peneliti baru-baru ini telah melakukan penelitian semacam itu. Hinshaw dan para koleganya meneliti sampel besar anak-anak perempuan yang berasal dari berbagai etnis, baik yang mengalami maupun tidak mengalami ADHD dan melaporkan sellandah Lexnuan penting berikut ini.

• Anak-anak perempuan yang mengalami ADHD lebih mungkin berstatus anak adopsi daripada anak-anak dalam kelompok pembanding.

• Sama dengan temuan pada sampel anak laki-laki, anak-anak perempuan yang mengalami tipe kombinasi menunjukkan simtom-simtom perilaku yang lebda mengganggu daripada anak-anak perempuan dengan tipe inatentif.

• Anak-anak perempuan dengan tipe kombinasi lebih mungkin mendapatkan diagnosis komorbid, yaitu gangguan tingkah laku atau gangguan sikap menentaag daripada anak-anak yang tidak mengalami ADHD.

• Anak-anak perempuan dengan ADHD lebih mungkin mengalami kecemasan cias depresi yang meningkat daripada anak-anak perempuan dalam kelompaik pembanding.

• Anak-anak perempuan dengan tipe kombinasi dinilai secara lebih negatif teman-teman seusia daripada anak-anak perempuan dengan tipe inatentif daa yang tidak mengalami ADHD; anak-anak perempuan dengan tipe inatentif julp dinilai secara lebih negatif daripada anak-anak perempuan dalam kelompok pembanding.

• Anak-anak perempuan dengan ADHD menunjukkan sejumlah defisit neuropsikologis, terutama dalam fungsi pelaksanaan (a.1., menyusun rencana, menvtlesaikan masalah), dibandingkan dengan anak-anak perempuan tanpa ADHD, merupakan pengulangan temuan dalam penelitian lain.

Filed under : Bikers Pintar,