PENGERTIAN GANGGUAN TINGKAH LAKU – Gangguan tinghah lahu merupakan gangguan utama lain dalam kelompok gangguan eksternalisasi. Definisi gangguan tingkah laku dalam DSM-IV-TR memfokuskan pada perilaku yang melanggar hak-hak dasar orang lain dan norma-norma sosial utama. Hampir semua perilaku semacam itu juga melanggar hukum. Tipe perilaku yang dianggap sebagai sim tom gangguan tingkah laku mencakup agresi dan kekejian terhadap orang lain atau hewan, merusakan kepemilikan, berbohong, dan mencuri. Gangguan tingkah laku merujuk berbagai tindakan yang kasar dan sering dilakukan yang jauh melampaui kenakalan dan tipuan praktis yang umum dilakukan anak-anak dan remaja. Sering kali perilaku tersebut ditandai dengan kesewenang-wenangan, kekejian, dan kurangnya penyesalan, membuat gangguan tingkah laku merupakan salah satu kriteria historis dalam gangguan kepribadian antisosial pada orang deWasa.

Kategori eksternalisasi dalam DSM yang masih berkaitan dengan gangguan ini, namun kurang dipahami dengan baik adalah gangguan sikap menentang. Terdapat beberapa perdebatan mengenai apakah GKO adalah gangguan yang berbeda dengan gangguan tingkah laku, gangguan yang mengawali terjadinya gangguan tingkah laku, atau bentuk gangguan tingkah laku yang lebih ringan yang terjadi sebelum gangguan tingkah laku penuh. GSM didiagnosis bila seorang anak tidak memenuhi kriteria gangguan tingkah laku—yang paling utama, agresivitas fisik yang ekstrem—namun menunjukkan berbagai perilaku seperti kehilangan kendali emosinya, bertengkar dengan orang dewasa, berulang kali menolak mematuhi perintah orang dewasa, sengaja melakukan hal-hal untuk mengganggu orang lain, dan mudah marah, kasar, mudab tersinggung, atau mendendam. DSM juga menyebutkan bahwa anak-anak semacarn itu, sebagian besar laki-laki, jarang menilai konflik yang mereka alami dengan orang lain sebagai kesalahan mereka; mereka menjustifikasi perilaku oposisionalnya dengan mengklaim bahwa mereka diberi tuntu tan yang tidak masuk akal. Dalam istilah seharihari anak-anak tersebut secara sederhana disebut sebagai anak nakal.

Berbagai gangguan yang sering kali komorbid dengan GSM adalah ADHD, gangguala belajar, dan gangguan komunikasi, namun GSM berbeda dengan ADHD dalam hal perilaku nakal dianggap tidak ditimbulkan oleh kurangnya konsentrasi atau impulsivitas yang besar. Salah satu cara untuk memahami perbedaannya adalah anak-anak dengan GSM melakukan kegaduhan mereka lebih dengan kesengajaan dibanding anak-anak dengan ADHD. Meskipun gangguan tingkah laku 3 hingga 4 kali lebih banyak terjadi pada anak lakilaki daripada pada anak perempuan, penelitian menunjukkan bahwa anak laki-laki hanya memiliki kemungkinan sedikit lebih besar mengalami GSM daripada anak perempuan dan beberapa studi bahkan tidak menemukan perbedaan prevalensi GSM pada anak laki-laki dan perempuan (Loeber dkk., 2000). Karena status GSM yang agak kurang jelas, kami lebih memfokuskan perhatian pada diagnosis yang laku.

Kecemasan dan depresi secara umum dipandang sebagai masalah internalisas: umum di kalangan anak-anak dengan gangguan tingkah laku, dengan estimasi komorbiditas bervariasi mulai dari 15 hingga 45 persen. Terdapat beberapa bukti bahwa anak-anak laki-laki yang mengalami gangguan tingkah laku dan komorbid dengan hambatan behavioral memiliki kemungkinan lebih kecil untuk melakukan kejahatan dibanding mereka yang mengalami gangguan tingkah laku yang komorbid dengan penarikan diri dari pergaulan sosial. Bukti-bukti yang muncul menunjukkan bahwa anak-anak perempuan yang mengalami gangguan tingkah laku berisiko lebih tinggi untuk mengalami berbagai gangguan komorbid, termasuk kecemasan, depresi, penyalahgunaan zat, dan ADHD, dibanding anak-anak laki yang mengalami gangguan tingkal: laku, berarti, gangguan tingkah laku pada anak-anak perempuan dapat mengindikasikan psikopatologi yang lebih parah.

Berbagai studi berbasis populasi mengindikasikan bahwa gangguan tingkah laku cukup umum terjadi. Sebuah kajian terhadap berbagai studi epidemiologis mengungkap angka prevalensi yang berkisar antara 4 hingga 16 persen pada anak laki-laki dan 1.2 hingga 9 persen pada anak perempuan. Pencurian dan kejahatan dengan kekerasan seperti perkosaan paksa dan penyerangan berat merupakan kejahatan yang banyak dilakukan oleh para remaja laki-laki. Seperti terlihat dalam Gambar 15.1. insiden dan prevalensi pelanggaran hukum berat meningkat tajam pada sekitar usia 17 tahun dan menurun tajam pada usia dewasa muda (Moffitt, 1993). Meskipun tidak semua tindakan kriminal tersebut ditandai dengan kekejaman dan kesewenang-wenangan yang sering kali merupakan bagian dari gangguan tingkah laku, data-data tersebut membantu menggambarkan masalah perilaku antisosial pada anak-anak dan remaja.

Sampel yang digunakan oleh Moffitt dan para koleganya untuk membedakan tipe tetap sepanjang hidup dan terbatas di usia remaja telah dipantau hingga masa dewasa awal (usia 26). Mereka yang diklasifikasikan dalam tipe tetap sepanjang hidup terus mengalami berbagai masalah yang paling berat, termasuk psikopatologi, tingkat pendidikan rendah, pelecehan terhadap pasangan dan anak, dan perilaku kekerasan. Meskipun demikian, .mereka yang diklasifikasikan dalam tipe terbatas di usia remaja yang diharapkan akan “keluar” dari perilaku agresif dan antisosial mereka tampaknya tidak demikian. Para laki-laki yang kini memasuki usia pertengahan dua puluhan tersebut terus mengalami masalah dengan penyalahgunaan dan ketergantungan zat, impulsivitas, tindakan kriminal, dan kesehatan mental secara keseluruhan (Moffitt dkk., di media). Pemantauan lanjutan terhadap sampel tersebut akan membantu kita mengetahui membaik atau tidaknya pola maladaptif tersebut ketika mereka memasuki usia akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan.

Mampu mengidentifikasi tipe remaja yang perilaku antisosialnya paling mungkin untuk terus berlanjut merupakan hal yang penting. Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak laki-laki yang sangat agresif di usia dini, termasuk namun tidak hanya terbatas mereka yang mengalami gangguan tingkah laku, perilaku agresifnya sosial atau jika mereka memiliki kecerdasan verbal rendah. Anak laki-laki yang memiliki IQ verbal lebih tinggi dan tidak memiliki orang tua yang antisosial tampaknya rnertgalami bentuk sementara gangguan tersebut. Dalam studi ini, faktor-faktor lain, tidak berlanjut hingga dan selepas masa remaja. Lahey dkk. (1995) menemukan bahwa anak laki-laki dengan gangguan tingkah laku perilaku antisosialnya jauh lebih mungkin untuk berlanjut jika rnereka memiliki salah satu orang tua yang mengalami gangguan kepribadian anti-termasuk status sosioekonomi dan etnisitas, tidak memprediksi anak laki-laki mana yang akan tetap menunjukkan gangguan tingkah laku sepanjang waktu. Meskipun demikian, penelitian lain menunjukkan bahwa interaksi berbagai faktor individual. seperti temperamen, psikopatologi yang dialami orang tua, dan interaksi orang tuaanak yang disfungsional, dan faktor-faktor sosiokultural, seperti kemiskinan dan dukungan sosial rendah, berkontribusi terhadap lebih besarnya kemungkinan timbulnya perilaku agresif di usia dini dengan sifat tetap.

Filed under : Bikers Pintar,