Advertisement

Ini adalah istilah untuk studi yang berusaha memahami keragaman budaya manusia di berbagai penjuru bumi, dan mencoba mengungkap hubungan antara keragaman budaya dengan lokasi masyarakatnya. Cikal bakal studi ini dapat dilacak pada konsepsi Jerman di abad 19, yakni Kultur, yang merujuk pada keragaman budaya antar-periode dan antar-negara. Kentalnya nuansa geografis dalam tinjauan kebudayaan merupakan titik sentral tradisi landschaftskunde di Jerman, yakni salah satu pendekatan yang kemudian dipadukan oleh pemikiran serupa di Amerika Utara oleh Cari Sauer dan para mahasiswanya yang kemudian berkembang menjadi sebuah aliran tersendiri yang kini disebut sebagai “aliran Berkeley”. Sauer menentang determinisme lingkungan dan ia mencoba menyempurnakan studi tentang perubahan lansekap (landscape) sebagai indikasi keterlibatan manusia dalam transformasi permukaan bumi (Thomas, 1956). Guna melacak transformasi tersebut Sauer menggunakan berbagai data mulai dari pola pemukiman, domestikasi tumbuhan dan hewan, distribusi artefak material dan difusi inovasi. Bertolak dari karya-karya para arkeolog kontemporer seperti Alfred Kroeber dan Robert Lowie, Sauer membedakan lansekap natural/alamiah dengan lansekap kultural/budaya. la menyatakan “lansekap kultural merupakan pengubahan lansekap alamiah oleh kelompok budaya tertentu. Kebudayaan merupakan agen, dan wilayah alamiah itu merupakan medium atau perantara, sedangkan lansekap kultural merupakan hasilnya”.

Karya Sauer sangat dihormati hingga sekarang, apalagi rumusannya mengenai fungsi manusia sebagai agen perubahan ekologi. Namun ada pula pihak yang mengkritik karyanya itu sebagai sesuatu yang terlalu statis dan diwarnai oleh teori kebudayaan “super organik” (Duncan, 1980) dan juga pendekatannya yang kelewat romantis atas lansekap di daerah pedesaan di masa lampau. Para ahli geografi budaya di Inggris dan Amerika Utara juga menentang pandangan Sauer itu dengan mengatakan bahwa lansekap tidak selamanya merupakan konstruksi kultural atau sosial karena hal itu mengandung atau membawa maknanya sendiri sejak awal. Bertolak dari pandangan itu muncullah metode-metode baru dalam menafsirkan hubungan antara kebudayaan dan lingkungan yang antara lain melahirkan studi ikonografi lansekap serta studi tentang hubungan antara formasi sosial dan simbolisme lansekap (tata ruang). Para ahli geografi budaya mencoba mengeksplorasikan kajian pasca strukturalis (ini mencerminkan “peralihan budaya” dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora) guna mengembangkan kepekaan terhadap politik representasi. Sebagian di antara mereka nampaknya dipengaruhi oleh kemajuan-kemajuan teori feminis dan studi-studi budaya sehingga mereka mencurahkan perhatian pada politik budaya gender dan seksualitas, bahasa, ras dan negara/pemerintah, dan hal-hal lain yang sejak lama telah menjadi benturan antara bidang publik dan swasta. Bergesernya aliran Berkeley itu tidak mendapat dukungan mutlak, karena sebagian ahli geografi budaya masih menyukai tradisi tersebut Karena masyarakat kian tergantung pada media dan televisi dan bentuk-bentuk budaya populer lainnya dalam berhubungan dengan lingkungan dan alam, maka tempat atau ruang alias lansekap kini mulai diakui sebagai produk teknologi (Anderson dan Gale, 1992). Definisi-definisi uniter kemudian memunculkan kajian budaya pluralis dan konsepsi identitas modern sebagai produk hibrida. Perkembangan ini kemudian memperkental nuansa politik atas konsepsi geografi budaya, di mana gagasan ideologi dan kekuasaan diakui kian memainkan peran penting. Para ahli geografi budaya terdorong kembali ke pertanyaan dasar mengenai hakikat hubungan antara kebudayaan dan lingkungan, dan hal ini dibarengi oleh tumbuhnya serangkaian perspektif baru seperti eko-feminisme, psikoanalisis dan pasca modernisme, yang sesungguhnya telah disinggung oleh para ilmuwan aliran Berkeley seperti Clarence Glacken. Geografi budaya kian diwarnai oleh konsep-konsep historis dan ini membangkitkan kembali kenangan di masa kolonial misalnya tentang hak kepemilikan lahan kaum pribumi. Keragaman konsep dalam geografi budaya jelas mencerminkan pertentangan yang terus berlangsung antara konsep intinya, yakni kebudayaan (culture) itu sendiri, yang oleh Raymond William (1972:87) dinyatakan sebagai “salah satu dari dua atau tiga dari kata yang paling membingungkan dalam bahasa Inggris”.

Advertisement

Incoming search terms:

  • pengertian geografi budaya
  • geografi budaya
  • apa yang dimaksud dengan geografi budaya
  • apakah yang dimaksud dengan geografi budaya
  • definisi geografi budaya menurut para ahli
  • pengertian geografi budaya menurut ahli
  • definisi geografi budaya menurut 5 ahli geografi
  • yang dimaksud dengan geografi budaya
  • geografi dan kebudayaan
  • definisi geografi budaya

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian geografi budaya
  • geografi budaya
  • apa yang dimaksud dengan geografi budaya
  • apakah yang dimaksud dengan geografi budaya
  • definisi geografi budaya menurut para ahli
  • pengertian geografi budaya menurut ahli
  • definisi geografi budaya menurut 5 ahli geografi
  • yang dimaksud dengan geografi budaya
  • geografi dan kebudayaan
  • definisi geografi budaya