Advertisement

urban geography (geografi perkotaan)

Geografi perkotaan berkaitan dengan sifat-sifat tata ruang kota kecil dan besar, dan berbagai cara mempengaruhi dan dipengaruhi proses- proses fisik, demografi, ekonomi, sosial, budaya dan politik. Sebagaimana aspek-aspek lain dalam geografi manusia, geografi perkotaan berkaitan dengan variabilitas lokal dalam suatu konteks umum (Johnston 1984). Artinya, geografi jenis ini terkait dengan pemahaman terhadap berbagai keistimewaan kota dan segala keteraturan yang ada dalam-kota dan antar-kota dalam kerangka hubungan spasial antar penghuni dan lingkungan mereka.

Advertisement

Bagi para pakar geografi perkotaan, sebagian dari permasalahannya yang paling penting adalah: atribut apa saja yang membuat kota-kota besar dan wilayah sekitarnya memiliki keistimewaan? Bagaimana identitas-identitas istimewa ini berkembang? Adakah keteraturan-keteraturan yang signifikan dalam tata ruang kota-kota kecil dan besar dibandingkan wilayah atau negara lain? Adakah keteraturan-keteraturan signifikan dalam tata ruang penggunaan tanah di kota-kota besar, atau adakah pemolaan penduduk sekitar berdasarkan status sosial, tipe rumah tangga atau rasnya? Bagaimana caranya orang-orang menentukan pilihan tempat tinggal di kota-kota besar, dan apakah ada keterbatasan-dalam menentukan pilihan tersebut? Dalam bentuk bagaimana wilayah tempat tinggal seseorang berpengaruh terhadap perilakunya? Kelompok-kelompok apakah, seandainya ada, bisa memanipulasi penataan ruang kota-kota kecil dan besar itu? Siapa yang mendapatkan keuntungan dari kegiatan manipulasi seperti itu?

Dalam rangka mencari jawaban atas perta-nyaan-pertanyaan ini, para pakar geografi perkotaan menerapkan bermacam-macam pendekatan terhadap pengetahuan dan pemahaman. Beberapa di antaranya terbukti sangat berpengaruh. Pertama, pendekatan deskriptif langsung dari para pakar geografi tradisional yang memperhatikan diferensiasi wilayah dan keistimewaan tempat. Dengan demikian kota-kota kecil dan besar itu dianggap sebagai mosaik lingkungan yang istimewa dan satuan-satuan morfologik, atau sebagai bagian dari sistem-sistem kota besar, yang diklasifikasi dan diregi- onalisasi berdasarkan fungsi-fungsi ekonomi atau kualitas kehidupan yang terkait dengan kota-kota besar lainnya. Kedua, pendekatan kuantitatif analisis, yang didasarkan atas filsafat positivis di mana peran para pakar geografi mengarahkan penetapan model penataan ruang masyarakat. Ketiga, disebut pendekatan behavioral, penekanannya terletak pada kajian tentang kegiatan masyarakat dan proses pengambilan keputusan (misalnya, di mana bertempat tinggal) dan tentang signifikansi makna-makna yang mereka kaitkan dengan wilayah-wilayah di sekitar perkotaan. Keempat adalah pendekatan strukturalis, yang menekankan berbagai kendala yang dipaksakan pada perilaku individu baik oleh organisasi masyarakat secara keseluruhan maupun oleh aktivitas sejumlah kelompok dan lembaga kuat yang ada di dalamnya. Akhirnya, kelima, terdapat beberapa pendekatan pasca-strukturalis yang berusaha memadukan interaksi berbagai metastruktur (ekonomi, politik, dan sebagainya) dengan agen kemanusiaan, dan untuk menjelaskan sistem lokal dari makna bersama berdasarkan kerangka sosiobudaya yang lebih luas.

Pendekatan apa pun yang digunakan, para pakar geografi tidak penah menganggap kota sebagai sekadar panggung tempat berlangsungnya proses sosial, ekonomik dan politik berlangsung. Sebaliknya, tatanan-tatanan perkotaan dikaji dalam kerangka sumbangannya terhadap pola-pola pembangunan dan sifat hubungan di antara berbagai macam kelompok sosial dan kegiatan ekonomi dalam kota itu. Meskipun tidak selalu menjadi faktor dominan dalam pembentukan pola-pola pembangunan dan interaksi, namun penataan wilayah jelas penting sebagai determinan jaringan perniagaan dan sosial, persahabatan, perkawinan dan sebagainya.Selain itu, teritorialitas sering menjadi landasan pembangunan yang penting bagi lingkungan sosial tertentu karena selain kalangan sosial tersebut punya kepentingan memiliki kemampuan membentuk sikap dan perilaku penghuninya. Pendek kata, ruang-ruang perkotaan diciptakan oleh banyak orang, dan mereka membentuk karakter ruang tersebut berdasarkan penggunaan fungsi yang telah mereka tetapkan dan berdasarkan orang-orang yang menghuni ruang tersebut. Karena masyarakat bertempat tinggal dan bekerja di ruang-ruang perkotaan, maka secara berangsur-angsur mereka berusaha memodifikasi dan membenahi lingkungannya sebaik mungkin, untuk menyesuikan dengan kebutuhan-kebutuhan mereka dan mengungkap nilai-nilai mereka. Namun pada saat bersamaan mereka secara berangsur-angsur mengakomodasi lingkungan fisik mereka sekaligus orang-orang yang ada di sekitarnya. Dengan demikian terdapat proses dua arah yang berkesinambungan, suatu “dialektika sosiospasial” (Soja 1980) di satu sisi masyarakat menciptakan dan memodifikasi ruang-ruang perkotaan namun di sisi lain pada saat bersamaan berbagai ruang berusaha disesuaikan agar sesuai dengan ruang-ruang tempat mereka tinggal dan kerja.

Jarak juga muncul sebagai determinan yang signifikan terhadap kualitas kehidupan di sejum-lah bagian kota karena adanya berbagai kemungkinan mengakses kesempatan dan kemudahan seperti pekerjaan, toko, sekolah, klinik, taman dan pusat kegiatan olah raga. Karena manfaat dari upaya mendekatkan pada kemudahan-kemudahan ini begitu besar dalam membantu kesejahteraan masyarakat, maka berbagai masalah yang terkait dengan lokasi itu juga merupakan inti konflik antar kelas di dalam kota besar, sehingga perspektif spasial berperan besar dalam menganalisis persoalan-persoalan perkotaan. Penyekatan ruang melalui penetapan batas-batas teritorial secara de jure juga menyiratkan pentingnya atribut spasial yang memiliki akibat-akibat langsung terhadap berbagai bidang kehidupan perkotaan. Lokasi batas kewenangan lokal membantu menentukan posisi fiskal mereka, misalnya, batas-batas wilayah jangkauan sekolah memiliki implikasi-implikasi penting bagi status dan kesejahteraan masyarakat; dan konfigurasi daerah-daerah pemilihan penting untuk mengatasi persaingan politik formal di dalam kota.

Incoming search terms:

  • geografi perkotaan
  • pengertian geografi perkotaan
  • pengertian geografi kota
  • geografi urban
  • pengertian geografi urban
  • Bagaimanakah berlangsungnya keteraturan di kota
  • geografi perkotaan adalah
  • urban geografi
  • pengertian urban geografi
  • arti geografi kota

Advertisement
Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • geografi perkotaan
  • pengertian geografi perkotaan
  • pengertian geografi kota
  • geografi urban
  • pengertian geografi urban
  • Bagaimanakah berlangsungnya keteraturan di kota
  • geografi perkotaan adalah
  • urban geografi
  • pengertian urban geografi
  • arti geografi kota