social movements (gerakan sosial)

Bagi Lorenz von Stein (1855: vi) gerakan sosial abad 19 adalah gerakan kelas pekerja. Dunia akademis dan perubahan sosial abad 20 telah mengakibatkan istilah tersebut mengalami pluralisasi, melepaskannya dari kerangka historisnya dan menggnakannya untuk menyebut beragam fenomena dari perilaku kolektif yang tidak terstruktur, mulai dari praktek dan sekte agama sampai pada gerakan protes hingga berbagai revolusi yang terorganisasi. Satu-satunya kesamaan di antara beragam definisi tersebut adalah gerakan sosial merupakan kelompok-kelompok yang bersifat tidak melembaga dari berbagai anggota masyarakat yang tidak terwakili yang bergerak dalam alur interaksi yang berseberangan dengan elit atau pihak oposisi (Tarrow 1994; Tilly 1978; 1986).

Dengan fokus yang demikian luas dan definisi yang tidak terbatas, kekayaan empiris merupakan biaya yang harus dibayar metodologi. Meski analisis organisasional dan kajian survai makin sering dilakukan, tapi pendekatan yang masih dilakukan adalah studi kasus konfigurasional, khususnya suatu gerakan di mana pengarannya mempunyai keterkaitan pribadi. Begitu banyaknya studi kasus ini memancing timbulnya dorongan untuk mengadakan tipologi, sebagian didasarkan pada sarana-sarana empiris (empirical properties) dari kelompok-kelompok tersebut dan sebagian lagi pada hubungannya dengan masyarakat yang ada. Mengikuti contoh Tilly, sejumlah sarjana telah bereksperimen dengan analisis peristiwa-tindakan kolektif pada rentang waktu yang cukup lama (Tilly etal. 1975).

Secara teoretis bidang ini tertuju pada tiga pertanyaan utama. Pertama, orang macam apa yang direkrut ke dalam gerakan sosial? Di masa lampau, orang-orang ini sering dianggap sebagai fanatik atau orang-orang yang terisolasi secara sosial dalam pencarian identitas kolektif baru, tetapi sejak pertengahan tahun 1970-an riset memperlihatkan bahwa aktivis-aktivis gerakan tersebut berasal dari hampir semua sektor dalam masyarakat. Mereka kebanyakan direkrut dari jaringan sosial dan cenderung tetap aktif dalam suatu bentuk gerakan (McAdam 1988).

Kedua, bagaimana tampilan sebuah gerakan dikaitkan dengan siklus pertumbuhan ekonomi dan perubahan dalam hubungan kelas? Dulu terdapat anggapan bahwa kesulitan ekonomi telah menjadi penyebab utama lahirnya sebuah gerakan, tetapi gerakan pada tahun 1960-an menyiratkan sebuah hipotesis yang sama sekali bertentangan bahwa sebuah gerakan lahir dari sikap “pasca-material” yang tumbuh terhadap kemewahan (Inglehart 1977). Dengan menurunnya Marxisme, para analis mulai berhati-hati dalam menetapkan prioritas kausal terhadap faktor-faktor makrostruktural seperti siklus ekonomi, dan mulai berpaling pada perubahan-perubahan peluang politik yang mengurangi biaya-biaya tindakan kolektif (Eisinger 1973; Tarrow 1994).

Ketiga, bagaimana hubungan antara pemimpin dan pengikut mempengaruhi hasil dari aktivitas gerakan serta karir gerakan sosial. Dalam hal ini pendapat Michelsian klasik tentang penggantian tujuan-tujuan kelompok oleh para pemimpin telah menjadi sumber acuan, tetapi riset pada tahun 1960-an membuktikan bahwa institusionalisasi seperti itu sama sekali tidak pernah ditentukan sebelumnya (Zald dan Ash 1966). Masalah hubungan pemimpin-pengikut telah dihadirkan kembali sebagai masalah mengenai pelaku bebas (Olson 1968). Tetapi karena orang benar-benar melakukan tindakan kolektif yang bermusuhan, muncullah keraguan atas aplikabilitas teori Olson terhadap gerakan.

Teori dan riset gerakan sosial memiliki dua sumber utama sejarah: pertama, reaksi konservatif terhadap revolusi Perancis dan revolusi industri (lihat Oberschall 1973); dan kedua, munculnya gerakan sosialis pada akhir abad 19. Setelah menurunnya pengaruh anarkisme dan munculnya tawar-menawar (bargaining) kolektif, terbentuklah keyakinan dalam rasionalitas tindakan kolektif untuk memerangi anggapan-anggapan awal bahwa gerakan sosial bersifat tidak rasional. Katalisme utama abad 20 fasisme dan revolusi Rusia membangkitkan kembali pandangan awal tentang gerakan sebagai catchment areas dari orang-orang yang sedang mencari identitas baru, tetapi dalam bentuk pasca-Freudian yang lebih baru (Fromm 1969). Hal ini terutama sekali terjadi di AS. Dipengaruhi oleh generasi dari pengasingan yang membawa kenangan yang mengerikan tentang “mob”, dan tidak adanya matriks Marxis yang kuat dari teoretisi Eropa, para periset gerakan sosial Amerika Utara sangat mudah dipengaruhi bahwa gerakan sosial adalah sebuah ekspresi dari terjadinya disfungsi dalam masyarakat (Smelser 1963).

Dekade 1960-an telah menguji pandangan ini dan mengangkat kembali bidang yang hampir tenggelam ke dalam marjinalitas. Dengan makin maraknya gerakan-gerakan mahasiswa, anti perang, kaum perempuan, dan lingkungan yang menyuarakan kritik-kritik yang konkrit terhadap elit dan otoritas, hasilnya bagi riset gerakan sosial adalah “normalisasi” terhadap tindakan kolektif. Terdapat kecenderungan untuk melihat gerakan sebagai hasil dari mobilisasi instrumental dari sumber daya dan tindakan kolektif sebagai sebuah unsur meski bersifat liar dan rusuh dalam proses politik (McAdam 1982; McCarthy dan Zald 1977).

Hasil-hasil analitis dari model-model baru ini memberi pengaruh baik bagi riset di AS, tetapi akibatnya karakter khas dari aktivitas gerakan sosial menjadi kabur. Para ahli Eropa, pada khususnya, mengkritik pendekatan Amerika Utara karena mengabaikan aspek-aspek ideologis dari gerakan dan karena tidak peka pada dampaknya terhadap budaya. Beberapa sarjana merespons dalam bentuk membangkitkan pendekatan psikologi sosial terhadap gerakan dan, sebagian yang lain, dengan memberikan perhatian yang lebih besar terhadap bagaimana gerakan membangun arti (Klandermans 1992).

Dampak gerakan pada tahun 1960-an sedikit berbeda di Eropa, di mana persuasi strukturalis setelah menanggalkan jubah Marxisnya mempelopori teori gerakan sosial “baru”. Teori ini memiliki varian Perancis (Touraine 1988), varian Jerman (Offe 1985), dan varian Italia (Melucci 1989), yang hanya sedikit mempengaruhi periset Inggris. Teori ini berpandangan bahwa dengan pertumbuhan negara kesejahteraan Keynes serta sentralisasi dari ekonomi-ekonomi kapitalis yang maju telah menghasilkan pembatasan ruang-hidup individu, tetapi tidak mengakibatkan pembentukan gerakan yang koheren secara ideologis. Akibatnya adalah gerakan yang mengangkat permasalahan ruang-hidup tetapi tidak menyerupai gerakan kelas/masa partai abad 19 dan awal abad 20.

Teori gerakan sosial baru cukup menarik, tetapi dikritik karena melakukan generalisasi pada tingkat yang terlalu tinggi dalam usahanya menangkap variasi pembentukan gerakan yang telah diamati di berbagai negara yang kesemuanya memiliki tingkat sentralisasi dan kesejahteraan yang hampir sama tetapi berbeda dalam tingkat dan kekuatan aktivitas gerakannya. Teori ini nampaknya juga memperkuat hal-hal baru dari gerakan sosial yang baru, mengabaikan lapisan antara sifat mereka dan sifat dari gerakan sosial lama baik di masa lalu maupun masa kini. Dan, tentu saja, tak banyak yang bisa dikatakan tentang gerakan sosial “baru” yang baru dari masyarakat-masyarakat yang belum maju atau negara-negara dari bekas dunia sosialis.

Warisan penting dari gerakan tahun 1960 adalah penekanan pada penyebaran yang luar biasa tentang tindakan kolektif yang bermusuhan di antara berbagai kelompok sosial dan negara bangsa dalam lingkaran protes yang mengikuti dinamika yang tidak bisa diprediksi melalui tren makrososietal ataupun kebijaksanaan negara (Tarrow 1994). Para analis juga telah mengamati munculnya penampakan bentuk campuran dari kelompok kepentingan/organisasi bertipe gerakan sosial yang menggabungkan kemampuan tindakan kolektif yang bermusuhan dengan kegiatan lobi dan pendidikan yang lebih tradisional.

McCarthy dan Zald (1977) menyebut bentuk-bentuk gerakan baru ini sebagai “organisasi-organisasi gerakan profesional”, tetapi gerakan-gerakan ini seringkah mencakup para aktivis amatir dan paruh-waktu yang mempergunakan berbagai keterampilan organisasional dan sumber daya komunikasi yang tersedia kepada orang-orang biasa yang melakukan tindakan kolektif. Kemampuan kelompok-kelompok seperti ini dalam mengatasi kekurangan sumber dayanya, dalam mempergunakan bentuk-bentuk tindakan kolektif yang inovatif, dan dalam mendapatkan akses kepada media membedakannya dari bentuk-bentuk gerakan sosial lama (Klandermans 1992).

Dua tren yang bersifat kontradiktif menandai pergerakan sosial: pertama, terdapat penyebaran aktivitas gerakan secara besar-besaran sehingga dunia memasuki tahapan di mana tindakan kolektif telah menjadi bagian yang dapat diterima dalam politik rutin; tetapi, yang kedua, telah terjadi penyebaran kekerasan, kesewenangan dan gerakan yang bersifat mutual eksklusif, seperti fundamentalisme Islam, kekerasan etnis di Eropa Timur serta gerakan-gerakan rasis dan anti-imigran. Sementara fase terakhir riset gerakan sosial mengambil acuan dari gerakan tahun 1960-an yang biasa-nya bersifat sipil, nasional dan memperjuangkan sebuah tujuan, fase yang berikutnya harus meng-hadapi aspek-aspek kontradiktif dari gerakan masyarakat.

Incoming search terms:

  • pengertian gerakan sosial
  • pengertian gerakan

Filed under : Bikers Pintar, tags:

Incoming search terms:

  • pengertian gerakan sosial
  • pengertian gerakan